Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

renungan

OPINI | 07 July 2012 | 02:00 Dibaca: 195   Komentar: 0   0

Bpk, ibu dan sdra/i ku yang terkasih,

Seperti yang saya sampaikan pada salam pembuka bahwa ada tiga syarat yang harus kita penuhi yaitu Menyangkal diri, Memikul salib setiap hari dan Mengikuti Yesus.

Menyangkal diri artinya kita menyangkal egoisme yang menjadi akar dari segala dosa kita, hal ini tidak bisa kita pungkiri karena sudah terjadi sejak zaman Nabi Adam s/d sekarang ini.

Memikul Salib artinya menerima dengan tulus setiap penderitaan, cobaan hidup, pengorbanan dll yang selalu kita pikul setiap hari. Berat dan tidaknya masing2 salib kita ini sangat relative, karena sangat tergantung pada diri kita secara pribadi.

Mengikuti Yesus berarti kita harus menjadi murid yang berkualitas, dan ternyata inilah yang menjadi tantangan yang harus kita renungkan, mengapa? Karena ternyata menjadi orang Kristen atau menjadi orang Katolik itu tidaklah mudah, kecuali bila hanya sekedar untuk identitas di KTP, SIM atau tanda pengenal lainnya. Tetapi mengikuti Kristus dalam arti sebenarnya itu memang tidak gampang. Dalam Injil yang baru saja kita dengarkan Yesus bersabda “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Hal ini bukan berarti kita harus membenci orang-orang yang kita cintai didunia ini, seperti orang tua kita, saudara2 kita, anak dan cucu kita, bukan, namun ‘tidak menomor satukan’. Yesus Kristus menjadi segala-galanya karena semua yang kita cintai diduna ini semuanya sudah ada didalam Yesus. Oleh karena itu, untuk dapat mengikuti Yesus orang harus berani meninggalkan semua yang dicintai didunia ini, bukan hanya ayah, ibu, anak, istri dan sebagainya, melainkan juga harus meninggalkan diri kita sendiri, artinya, kita harus lebih mengutamakan kepentingan Yesus, kepentingan Tuhan daripada kepentingan keluarga kita yang kita cintai. Tetapi ingat, janganlah hal ini diartikan secara harafiah, setelah mendengarkan Injil pada hari ini, sesampainya dirumah lalu minggat, meninggalkan orang tua, suami, anak, istri dan sebagainya.

Seluruh ajaran Yesus mengandung pengertian, bahwa kita harus mencintai Tuhan dan sesama kita, tentunya termasuk mencintai orang tua, suami, anak, istri dan sebagainya, tetapi mencintai Tuhan harus diletakkan pada urutan yang pertama. Oleh karena itu, ajaran Yesus tentang cinta itu dilambangkan dalam bentuk salib. Kayu yang tegak (vertical) berarti mencintai Tuhan dengan seluruh tenaga dan akal budi kita. Kayu yang melintang (horizontal) berarti mencintai sesama manusia seperti dirinya sendiri. Coba kita amati salib pada dinding rumah kita, kayu yang tegak ternyata lebih panjang dari pada yang melintang, ini juga berarti bahwa mencintai Tuhan harus mendapatkan porsi yang lebih banyak atau lebih diutamakan, walaupun pengertian mencintai Tuhan itu tidak dapat dilepaskan dari mencintai sesama manusia, oleh karena itu kayu yang tegakdan kayu yang melintang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dalam Injil Mateus 19 : 29 Yesus mengatakan bahwa setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat, tetapi awas hati-hati dengan ayat ini, karena banyak orang telah memberi persembahan kepada Tuhan dengan harapan bahwa Tuhan akan membalasnya dengan seratus kali lipat, ingat Yesus bukan Bandar buntut.

Hanya orang yang benar-benar tulus memberi persembahan kepada Tuhan atau mereka yang memberi tanpa pamrih untuk mendapatkan balasan, yang akan mendapat balasan seratus kali lipat. Sementara orang yang memberi dengan harapan akan mendapatkan balasan, sesungguhnya orang itu tidak memberi melainkan berbisnis dengan Tuhan, hal ini sama dengan banyak orang yang melaksanakan kehidupan beragama hanya karena janji Tuhan hidup bahagia disurga atau karena takut pada api neraka, sehingga tujuan hidup beragama seperti ini menjadi tidak murni lagi karena penuh dengan pamrih.

Bpk, ibu dan sdra/i ku yang terkasih,

Motivasi yang benar dalam kehidupan beragama itu adalah karena ingin mencintai, baik mencintai Tuhan maupun mencintai sesama. Bukan karena ingin hidup nikmat di surga atau takut pada api neraka. Jika kita memeluk agama dan banyak berbuat baik karena ingin pahala masuk Surga dan terhindar dari api neraka, itu sama saja kita berbisnis dengan Tuhan. Urusan yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya setiap hari kita bisa mencintai Tuhan dan sesama kita. Sedang Surga dan Neraka itu adalah urusan Tuhan, bukan urusan kita, untuk itu marilah kita teladani Santa Theresia dari Lisieux yang dalam didoanya mengatakan “Tuhan, jika perlu masukkanlah saya kedalam Neraka, agar disana ada makhluk yang mencintai Engkau”, beranikah kita bedoa seperti Santa Pelindung Lingkungan kita itu.

Bpk, ibu dan sdra/i ku yang terkasih,

Dalam situasi seperti inilah Yesus mengatakan bahwa syarat untuk mengikuti Dia itu berat. Karena orang-orang Yahudi pada saat itu mengikuti Yesus karena memiliki pamrih. Mereka ingin hidup dekat dan menjadi murid Yesus, karena berkeyakinan bahwa suatu ketika Yesus benar-benar akan menjadi raja, hal ini terjadi karena Yesus banyak membuat keajaiban dengan mujizat-mujizat, sehingga suatu ketika Yesus akan mampu mengusir penjajah romawi dan akan menjadi raja Israel yang baru. Bila Yesus menjadi Raja, maka pastilah para muridNya akan mendapat kedudukan dan pangkat yang tinggi. Tetapi ketika Yesus menyampaikan betapa beratnya menjadi pengikutNya, maka muridnya yang sangat banyak itu mulai menghi lang dan akhirnya tinggal dua belas orang saja. Dari kedua belas rasul ini, ternyata hanya Yohanes yang berani mendekat pada kayu Salib Yesus, sementara yang lainnya lari tercerai berai menyelamatkan diri.

Jika Sang Guru mengalami penderitaan salib sebagai jalan untuk mencapai kemuliaanNya, apakah kita mau menyingkirkan salib dalam kehidupan kita? Adakah suatu keberhasilan tanpa disertai dengan kerja keras? Bukankah ada peribahasa yang mengatakan Rajin pangkal pandai, Hemat pangkal Kaya? Adakah kepandaian dibangun dengan kemalasan? Adakah orang membangun ekonomi rumah tangganya dengan sikap boros? Kearifan lokal yang dikemas dalam peribahasa tersebut merupakan percikan dari kebijaksanaan salib.

Salib bukan jalan buntu, melainkan justru jalan yang membuka pintu keselamatan, maka jika seorang murid Yesus takut memanggul salibnya atau ingin mempertahankan nyawanya, dia justru akan kehilangan keselamatan, dan nilai keselamatan inilah yang melebihi segala yang dapat diperoleh secara duniawi.

Semoga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 3 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 4 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 4 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

So-SIAL Media: Interaksi tanpa Intonasi …

Zulkifli Taher | 8 jam lalu

Inovasi, Kunci Indonesia Jaya …

Anugrah Balwa | 8 jam lalu

Hak Prerogatif Presiden dan Wakil Presiden, …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | 8 jam lalu

Kebohongan Itu Slalu Ada! …

Wira Dharma Purwalo... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: