Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sumadi

Lecturer And Teacher Darussalam Ciamis West Java

Penelitian PTK contoh aplikasi: Strategi Pembelajaran Pratice Rehearsal Pairs Meningkatkan Ketrampilan Berbicara Bahasa Inggris

OPINI | 08 July 2012 | 08:21 Dibaca: 3506   Komentar: 1   1

STRATEGI PEMBELAJARAN PRACTICE REHEARSAL PAIRS MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INGGRIS

Reni Nuraeni

Sumadi

Abstrak

Ada berbagai hambatan untuk mengembangkan kegiatan berbicara pada pembelajaran bahasa Inggris, diantaranya guru jarang menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan, dan tidak adanya kepercayaan diri peserta didik untuk berlatih berbicara, sehingga sebagian besar peserta didik tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik dengan cara berlatih berbicara bersama temannya. Strategi pembelajaran yang sesuai dengan permasalahan di atas adalah strategi pembelajaran practice rehearsal pairs. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran dan meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs pada mata pelajaran bahasa Inggris. Metode yang digunakan adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Hopkins. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, teknik tes dan . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru mengalami peningkatan kemampuan dari siklus I hingga siklus III dalam menyusun rencana pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs sebesar 25% dan peningkatan dalam melaksanakan pembelajaran sebesar 23,43%. Begitu pula dengan keterampilan berbicara peserta didik meningkat sebesar 60%. Dengan demikian strategi pembelajaran practice rehearsal pairs dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris.

Abstract

There is any weaknesses to develop a speaking activity at English learning, that is the teacher seldom uses a learning strategy which appropriate with defined competence, and that is no self-confidence in the students, so the most part of students can not reach the defined of minimum criteria for completeness. Therefore, it is needed a learning strategy that will be activate the students to exercise for speak with his friends. The learning strategy which suitable with the problem above is a practice rehearsal pairs learning strategy. This study is purpose to increase a teacher performance in planning and doing English learning activity, and to increase the students skill for speaking after use a practice rehearsal pairs strategy at learning English. Method is used Classroom Action Research (CAR) Hopkins model. Data collection technique is used observation, test and field notes. This study indicated that the teacher performance have increased from cycle I until cycle III in plan learning is 25%, in doing leaning is 23,43% and also in students speaking skill increase about 60%. The practice rehearsal pairs learning strategy can increase students speaking skill at English learning.

Kata Kunci

Practice rehearsal pairs, keterampilan berbicara, bahasa Inggris

A. Pendahuluan

Peran bahasa sangat penting dalam kehidupan sosial karena bahasa merupakan alat komunikasi antar anggota masyarakat (Soeparno, 2002:5). Hal ini sejalan dengan ungkapan Wardhaugh (dalam Chaer, 2002:33) yang mengatakan bahwa fungsi bahasa adalah alat komunikasi manusia baik lisan maupun tulisan. Di lain pihak, pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan bangsa. Kualitas pendidikan harus sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan perkembangan pembangunan. Untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi diperlukan alat komunikasi yaitu bahasa. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat dan bahkan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya (BSNP, 2006:62).

Di samping itu, tuntutan dunia global yang terus menerus berkembang dengan ditandai berkembangnya teknologi informasi merupakan salah satu dorongan bagi seseorang untuk mengembangkan penguasaan bahasa asing sebagai alat untuk berkomunikasi, seperti penguasaan bahasa Inggris. Terkait dengan itu, berbicara dalam pembelajaran Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi sehingga pendengar mengerti dan memahami gagasan-gagasan yang dimaksud oleh pembicara. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan (2008:16) bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Lebih jauh lagi, berbicara memiliki tujuan untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.

Kenyataan di lapangan banyak hambatan bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan berbicara. Untuk berbicara, peserta didik merasa malu, ragu dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukanya. Hal ini terbukti dengan penelitian awal di Kelas IV MI Ciparay 1 Kecamatan Cidolog Kabupaten Ciamis ditemukan sebanyak 80 % dari jumlah peserta didik mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan (Sumber : Wawancara dengan Guru Bahasa Inggris MI Ciparay 1 pada tanggal 12 Januari 2012).

Berdasarkan hal di atas, keterampilan berbicara peserta didik masih sangat kurang dan menurut peneliti diperlukan sebuah strategi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat diterapkan adalah strategi practice rehearsal pairs (praktik berpasangan) yang berasal dari pembelajaran aktif. Ini adalah strategi sederhana yang dapat dipakai untuk mempraktikkan suatu keterampilan atau prosedur dengan teman belajar. Tujuannya adalah untuk meyakinkan masing-masing pasangan dapat melakukan keterampilan dengan benar. Materi-materi yang bersifat psikomotorik adalah materi yang baik untuk diajarkan dengan strategi ini. Penerapan strategi ini membutuhkan dua orang peserta didik sebagai suatu pasangan yang di dalamnya ada yang berperan sebagai penjelas atau pendemonstrasi dan pengecek atau pengamat. Peserta didik yang bertugas sebagai pendemonstrasi mengerjakan keterampilan yang ditentukan, pengamat bertugas mengamati dan menilai demonstrasi yang dilakukan temannya. Selanjutnya pasangan bertukar peran, pendemonstrasi kedua diberi keterampilan yang lain. Proses diteruskan sampai semua keterampilan atau prosedur dapat dikuasai (Zaini, 2007:84).

Dari latar belakang masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah ke dalam beberapa pertanyaan yang akan dijadikan kajian dalam penelitian ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab apabila penelitian ini telah selesai. Adapun pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Bagaimanakah penyusunan perencanaan pembelajaran Bahasa Inggris pokok bahasan My Body dengan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs (praktik berpasangan) dalam meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik di kelas IV MI Ciparay 1 Kecamatan Cidolog Kabupaten Ciamis ?

b. Bagaimanakah proses pembelajaran Bahasa Inggris pokok bahasan My Body dengan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs (praktik berpasangan) dalam meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik di kelas IV MI Ciparay 1 Kecamatan Cidolog Kabupaten Ciamis ?

c. Bagaimanakah peningkatan keterampilan berbicara peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Inggris pokok bahasan My Body dengan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs (praktik berpasangan) di kelas IV MI Ciparay 1 Kecamatan Cidolog Kabupaten Ciamis ?

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kinerja guru dalam penyusunan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran serta untuk meningkatkan ketrampilan berbicara peserta didik pada pembelajaran bahasa Inggris.

B. Kajian Teoritik

1. Pembelajaran Bahasa Inggris

Peraturan Menteri Nomor 22 Tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006 menyatakan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di SD/MI diselenggarakan sebagai muatan lokal yang merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Sehingga substansinya ditentukan oleh satuan pendidikan tertentu (Suyanto, 2009:4).

Menurut BSNP (2006:61), mata pelajaran bahasa Inggris di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :

1) Mengembangkan kompetensi berkomunikasi dalam bentuk lisan secara terbatas untuk mengiringi tindakan atau language accompanying action dalam konteks sekolah.

2) Memiliki kesadaran tentang hakikat dan pentingnya bahasa Inggris untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam masyarakat global.

Adapun ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Inggris di SD/MI mencakup kemampuan berkomunikasi lisan secara terbatas dalam konteks sekolah, yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut :

1) Mendengarkan

2) Berbicara

3) Membaca

4) Menulis

2. Keterampilan Berbicara

Menurut Atar Semi (1989:99) keterampilan berbicara merupakan keterampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, gagasan, perasaan dan pengalaman kepada orang lain.

Guntur Tarigan (2008:16) berpendapat bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.

Jadi, pada hakikatnya berbicara merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa. Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan dan perasaan.

Kaitannya dengan tujuan berbicara Mudini dan Salamat (2009:4) menjelaskan secara umum tujuan pembicaraan adalah sebagai berikut :

1) Mendorong atau menstimulasi

2) Meyakinkan

3) Menggerakkan

4) Menginformasikan

5) Menghibur

Selanjutnya, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yang akan menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan berbicara yaitu faktor pembicara dan pendengar.

1) Pembicara

Yang harus diperhatikan oleh pembicara adalah :

a) Pokok pembicaraan hendaklah bermanfaat, menarik, sesuai dengan daya tangkap pendengar dan sedikitnya sudah diketahui oleh pendengar.

b) Bahasa

Kaitannya dengan bahasa terbagi dua yaitu faktor kebahasaan dan faktor nonkebahasaan.

(1) Faktor Kebahasaan

Faktor kebahasaan yang terkait dengan ketrampilan berbicara antara lain : (a) Ketepatan pengucapan atau pelafalan bunyi; (b) Penempatan tekanan, nada, jeda, intonasi dan ritme; (c) Pemilihan kata dan ungkapan yang baik, konkret dan bervariasi; (d) Ketepatan susunan penuturan.

(2) Faktor Nonkebahasaan

Faktor nonkebahasaan mencakup (a) Sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku; (b) Pandangan yang diarahkan pada lawan bicara; (c) Kesediaan menghargai pendapat orang lain; (d) Kesediaan mengoreksi diri sendiri; (e) Keberanian mengungkapkan dan mempertahankan pendapat; (f) Gerak-gerik dan mimik yang tepat; (g) Kenyaringan suara; (h) Kelancaran; (i) Penalaran dan relevansi; dan (j) Penguasaan topik.

c) Tujuan

Seorang pembicara dalam menyampaikan pesan kepada orang lain pasti mempunyai tujuan, ingin mendapatkan response atau reaksi.

d) Sarana

Sarana dalam kegiatan berbicara mencakup waktu, tempat, suasana dan media atau alat peraga. Pokok pembicaraan yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan waktu yang ditentukan. Tempat berbicara sangat menentukan keberhasilan pembicaraan. Dalam hal ini perlu diperhatikan faktor lokasi, jumlah pendengar, posisi pembicara dan pendengar, cahaya serta udara. Berbicara pada suasana tertentu pun akan mempengaruhi keberhasilan berbicara seperti pada pagi, siang atau sore hari. Media atau alat peraga pun akan membantu kejelasan dan kemenarikan uraian.

e) Interaksi

Berlangsungnya kegiatan berbicara menunjukkan adanya hubungan interaksi antara pembicara dengan pendengar. Interaksi dapat berlangsung satu arah, dua arah atau multi arah.

2) Pendengar

Pendengar yang baik hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) Memiliki kondisi fisik dan mental yang baik sehingga memungkinkan dapat melakukan kegiatan mendengarkan; memusatkan perhatian dan pikiran kepada pembicaraan.

b) Memiliki tujuan tertentu dalam mendengarkan yang dapat mengerahkan dan mendorong kegiatan mendengarkan.

c) Mengusahakan agar meminati isi pembicaraan yang didengarkan.

d) Memiliki kemampuan linguistik dan nonlinguistik yang dapat meningkatkan keberhasilan mendengarkan.

e) Memiliki pengalaman dan pengetahuan luas yang dapat mempermudah pengertian dan pemahaman isi pembicaraan.

Menurut Suyanto (2009:59-61) keterampilan berbicara dalam pembelajaran bahasa Inggris dapat berupa :

1) Short dialogue atau dialog sederhana

Dialog sederhana merupakan kegiatan tanya jawab yang melibatkan setiap peserta didik harus berbicara.

Misalnya

PD1 : “Do you like milk?”

PD2 : “Yes, I do.”

2) Self introduction atau memperkenalkan diri sendiri

Kegiatan ini mengharuskan peserta didik untuk memperkenalkan dirinya dengan memberikan informasi faktual.

Misalnya : Hello, I’m Siti. I’m a student. I’m 10 years old.”

3) Classroom languge atau bahasa kelas

Untuk memperbanyak penggunaan bahasa Inggris di kelas, maka dikenal istilah bahasa kelas. Bahasa kelas biasanya bersifat memberi perintah dan cukup komunikatif.

4) Role play (bermain peran) atau situational dialogs (dialog yang disesuaikan dengan situasi)

Bermain peran dengan dialog dalam situasi sederhana, misalnya dua orang peserta didik berperan sebagai pembeli ice cream dan peserta didik yang lain berperan sebagai penjual ice cream.

5) Talk about food, hobby and family (berbicara tentang makanan, hobi dan keluarga)

Secara individual, peserta didik dapat diminta untuk berbicara tentang makanan, hobi dan keluarganya. Misalnya dengan tanya jawab secara berantai atau strategi lain yang membuat peserta didik berlatih berbicara.

3. Strategi Pembelajaran Practice Rehearsal Pairs

Kata strategi berasal dari bahasa Latin strategia, yang diartikan sebagai seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Gerlach & Ely dalam Nuryani Rustaman dkk. (2007:1.2) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa.

Strategi practice rehearsal pairs (praktik berpasangan) adalah salah satu strategi yang berasal dari active learning (pembelajaran aktif). Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar secara aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pembelajaran, memecahkan masalah atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental tetapi juga melibatkan fisik. Sehingga diharapkan peserta didik merasakan suasana yang lebih menyenangkan dan hasil belajar pun dapat maksimal (Zaini., 2007:xvi).

Strategi practice rehearsal pairs (praktik berpasangan) adalah strategi sederhana yang dapat dipakai untuk mempraktikkan suatu keterampilan atau prosedur dengan teman belajar (Zaini, 2007:84). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Mel Silberman (1996:228) bahwa strategi ini adalah strategi sederhana untuk melatih gladi resik kecakapan atau prosedur dengan partner belajar.

Tujuan dari strategi ini adalah untuk meyakinkan masing-masing pasangan dapat melakukan keterampilan dengan benar. Materi-materi yang bersifat psikomotorik adalah materi yang baik untuk diajarkan dengan strategi ini (Zaini, 2007:84).

Adapun prosedur atau langkah-langkah penerapan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs (praktik berpasangan) menurut Hisyam Zaini (2007:84) adalah sebagai berikut :

1) Guru memilih satu keterampilan yang akan dipelajari oleh peserta didik.

2) Guru membentuk pasangan-pasangan. Dalam setiap pasangan, buat dua peran, (a) penjelas atau pendemonstrasi, dan (b) pengecek/pengamat.

3) Peserta didik yang bertugas sebagai penjelas atau demonstrator menjelaskan atau mendemonstrasikan cara mengerjakan keterampilan yang telah ditentukan. Pengecek/pengamat bertugas mengamati dan menilai penjelasan atau demonstrasi yang dilakukan temannya.

4) Pasangan bertukar peran. Demonstrator kedua diberi keterampilan yang lain.

5) Proses diteruskan sampai semua keterampilan atau prosedur dapat dikuasai.

Sebuah strategi pembelajaran tentu memiliki beberapa kelebihan namun juga pasti ada kekurangan. Adapun kelebihan strategi ini adalah :

a) Cocok jika diterapkan untuk materi-materi yang bersifat psikomotorik (Zaini, 2007:84)

b) Meningkatkan partisipasi antar peserta didik

c) Interaksi lebih mudah

d) Lebih banyak kesempatan untuk kontribusi masing-masing pasangan (Lie, 2008:46).

Adapun kekurangannya adalah :

a. Tidak cocok digunakan pada materi yang bersifat teoritis (sumber : http://zukhrufarisma.wordpress.com/2010/11/02/ strategi- pembelajaran).

b. Banyak pasangan yang melapor dan perlu dimonitor .

c. Lebih sedikit ide yang muncul.

d. Jika pasangan yang terbentuk banyak, maka akan membutuhkan waktu yang banyak.

e. Jika ada perselisihan, tidak ada penengah (Lie, 2008:46).

Untuk menilai kemampuan berbicara peserta didik digunakan rubrik penilaian. Ada beberapa aspek yang dinilai, yaitu:

1. Pronounciation (pengucapan)

2. Grammar (tata bahasa)

3. Vocabulary (kosakata)

4. Intonation (intonasi)

5. Kontak mata dengan pendengar

C. Metode Penelitian

A. Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Ciparay 1 Kecamatan Cidolog Kabupaten Ciamis. Peneliti bekerja sama dengan guru bidang bahasa Inggris untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini.

Waktu yang dibutuhkan oleh peneliti untuk melaksanakan penelitian ini adalah selama 4 bulan mulai dari bulan pertengahan bulan Februari sampai dengan pertengahan bulan Juni 2012.

B. Subjek Penelitian

Penelitian ini melibatkan 20 orang peserta didik sebagai subjek penelitian yang terdiri dari 8 peserta didik laki-laki dan12 peserta didik perempuan. Dari 20 peserta didik hanya 4 peserta didik yang mampu berbicara dengan baik.

C. Variabel Penelitian

Adapun jenis variabel-variabel penelitian yang menjadi fokus tindakan pada penelitian ini adalah :

1. Variabel input yang meliputi kondisi awal guru dan peserta didik pada pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan My Body.

2. Variabel proses yang meliputi kinerja guru, cara belajar peserta didik dan implementasi strategi pembelajaran practice rehearsal pairs (praktik berpasangan) yang diterapkan guru dalam mengelola pembelajaran pada pembelajaran bahasa Inggris pokok bahasan My Body.

3. Variabel output yang meliputi peningkatan kemampuan guru dalam mengembangkan dan memodifikasi pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Inggris pokok bahasan My Body.

D. Rencana Tindakan

Menurut Sanjaya dalam bukunya Penelitian Tindakan Kelas (2009:57), setiap model tindakan PTK memiliki unsur-unsur perencanaan, implementsi tindakan, observasi dan interpretasi serta analisis dan refleksi.

Untuk menyusun desain PTK, peneliti menggunakan siklus PTK model Hopkins (Sanjaya, 2009:54) yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut :

1. Perencanaan

2. Tindakan

3. Observasi

4. Refleksi

Hasil refleksi akan menjadi bahan perbaikan pada siklus selanjutnya.

E. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

Untuk teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik sebagai berikut :

a) Teknik observasi

b) Teknik tes atau penilaian

c) Catatan lapangan

Untuk menghasilkan data-data dalam penelitian ini maka dibuat instrumen observasi pada perencanaan dan proses pembelajaran.

Tabel 1

Instrumen Observasi Penelitian Perencanaan Pembelajaran

No.

Aspek Kemampuan Guru

Skor

Jumlah Skor

4

3

2

1

1

Kemampuan merencanakan pengorganisasian bahan pembelajaran

a. Mencantumkan materi pembelajaran sesuai dengan SK, KD dan indikator

b. Bahan pembelajaran tersusun secara sistematis

c. Bahan pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan fisik dan psikis peserta didik

d. Menyiapkan materi pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik

2

Kemampuan merencanakan pengorgansasian media dan sumber belajar

a. Mencantumkan alat, media dan sumber belajar sesuai dengan SK, KD, dan indikator

b. Alat dan media mempertimbangkan prinsip kesederhanaan, praktis dan inovatif

c. Disesuaikan dengan kondisi kelas, sekolah dan lingkungan

d. Penggunaan alat, media dan sumber belajar menunjang untuk pemahaman konsep bagi peserta didik

3

Kemampuan merencanakan pengelolaan proses pembelajaran

a. Menetapkan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan SK, KD dan indikator

b. Mengorganisir pembelajaran aktif, inovatif dan bermakna

c. Mengorganisir alokasi waktu untuk langkah-langkah pembelajaran

d. Merancang dengan tepat penataan kelas dan pengorganisasian

No.

Aspek Kemampuan Guru

Skor

Jumlah Skor

4

3

2

1

4

Kemampuan merencanakan penilaian

a. Menetapkan prosedur, teknik dan bentuk penilaian

b. Instrumen dan jenis penilaian sesuai dengan SK, KD, dan indikator

c. Membuat alat ukur sesuai dengan bentuk penilaian yang digunakan

d. Alokasi waktu dan pelaksanaan evaluasi dirancang dengan baik

Jumlah Skor (∑ 1 -4)

Persentase ( Jumlah skor : Jumlah maksimal x 100 % )

Catatan :

Jumlah skor maksimal adalah 16 indikator x 4 = 64

Persentase = (nilai yang diperoleh : jumlah skor maksimal) x100

Penskoran didasarkan pada tingkatan kesesuaian proses pembelajaran terhadap deskriptor.

4 = Kategori sangat baik

3 = Kategori baik

2 = Kategori cukup

1 = Kategori kurang

Tabel .2

Instrumen Observasi Penelitian Proses Pembelajaran

No.

Aspek Kemampuan Guru

Skor

Jumlah Skor

4

3

2

1

1

Kegiatan pra pembelajaran dan kemampuan membuka pembelajaran

a. Mengucapkan salam dan berdoa

b. Mengabsen peserta didik sebelum belajar

c. Mengkondisikan dan memotivasi peserta didik sebelum belajar

d. Memberikan apersepsi

No.

Aspek Kemampuan Guru

Skor

Jumlah Skor

4

3

2

1

2

Kemampuan mengelola proses pembelajaran

a. Menunjukkan hal-hal penting yang berhubungan dengan materi dan pembagian pasangan

b. Memberi penjelasan tentang langkah-langkah kegiatan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs (praktik berpasangan)

c. Membagikan LKPD kepada peserta didik

d. Aktif mengarahkan dan mengamati kegiatan peserta didik

3

Kemampuan mengadakan variasi

a. Intonasi suara terdengar dengan jelas

b. Menguasai kelas dengan aktif

c. Penggunaan media dan sumber belajar secara efektif

d. Memberi point pada peserta didik yang mampu berbicara dengan lafal yang benar

4

Kemampuan memberikan penguatan

a. Memberikan pujian kepada peserta didik dengan ucapan “good”, “excellent”,” all right” dan sebagainya.

b. Gerak mendekati peserta didik yang kurang mampu berbicara

c. Memberikan sentuhan yang memperlihatkan kedekatan terhadap peserta didik

d. Memberikan teguran kepada peserta didik yang mengganggu temannya

5

Kemampuan menjelaskan

a. Kejelasan menggunakan bahasa lisan

b. Berbicara dengan lancar

c. Menggunakan ilustrasi yang dimengerti peserta didik

d. Menjelaskan ulang dengan melihat ulang minat peserta didik

No.

Aspek Kemampuan Guru

Skor

Jumlah Skor

4

3

2

1

6

Penggunaan sumber, media dan alat peraga

a. Memperhatikan prinsip penggunaan media pembelajaran

b. Ketepatan memilih dan menggunakan alat atau media dalam proses pembelajaran

c. Menguasai keterampilan dalam menggunakan alat atau media

d. Alat yang digunakan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran

7

Kemampuan mengadakan evaluasi

a. Menggunakan jenis penilaian yang relevan dengan SK, KD dan indikator yang dikembangkan

b. Menggunakan jenis penilaian yang relevan dengan jenis yang dirancang dalam rencana pembelajaran

c. Menggunakan penilaian yang relevan dan proporsional dengan alokasi waktu yang tersedia

d. Melaksanakan prosedur penilaian yang relevan dengan perencanaan

8

Kemampuan menutup pembelajaran

a. Membimbing siswa dalam membuat kesimpulan

b. Melakukan evaluasi secara individu

c. Mengumumkan peserta didik yang mendapat nilai tertinggi

d. Menata kembali kerapihan dan suasana kelas dan menutup dengan doa

Jumlah Skor (∑ 1 -8)

Persentase ( Jumlah skor : Jumlah maksimal x 100 % )

Catatan :

Jumlah maksimal = 32 x 4 = 128

Penskoran didasarkan pada tingkatan kesesuaian proses pembelajaran terhadap deskriptor.

4 = Kategori sangat baik

3 = Kategori baik

2 = Kategori cukup

1 = Kategori kurang


Tabel 3

Instrumen Penilaian Keterampilan Berbicara Peserta Didik

No.

Nama Peserta Didik

Aspek yang dinilai

Jumlah Skor

Nilai Akhir

Nilai KKM

Keterangan

Pronounciation (Pengucapan)

Grammar

(Tata Bahasa)

Vocabulary

(Kosakata)

Intonation

(Intonasi)

Kontak mata dengan pendengar

Skor 1 – 3

Skor 1 - 3

Skor 1 - 3

Skor 1 – 3

Skor 1 - 3

1.

70

2.

70

3.

70

Jumlah Nilai

Rata-rata Kelas

Keterangan :

3 = Baik Nilai Akhir = Skor maksimal x 100

2 = Cukup 15

1 = Kurang Skor maksimal = 15


2 Indikator Kinerja

Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah :

a. Indikator kinerja guru yaitu mampu menyusun perencanaan dan melaksanakan pembelajaran serta mampu meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik.

b. Indikator kinerja peserta didik yaitu mampu mengucapkan nama-namadan fungsi anggota tubuh, melakukan tindakan sesuai dengan instruksi tentang melakukan dialog tentang anggota tubuh dengan lafal yang benar.

3 Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil observasi dan tes dianalisis dengan mengacu kepada pola pengolahan data yang dilakukan melalui tahap-tahap berikut :

a. Coding atau labeling

b. Triangulasi

c. Saturasi (kejenuhan).

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil penelitian perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang disusun dan dilaksanakan oleh guru menunjukkan data sebagai berikut :

Tabel 4

Hasil observasi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran

No.

Aspek

Siklus I

Siklus II

Siklus III

1.

Perencanaan

68,75 %

82,81 %

93,75 %

2.

Pelaksanaan

66,41 %

75 %

89,84 %

Data di atas menunjukkan bahwa kinerja guru mengalami peningkatan baik pada aspek perncanaan maupun pada aspek pelaksanaan. Peningkatan perencanaan pembelajaran dari siklus I ke siklus III yaitu sebesar 25 %. Peningkatan pelaksanaan pembelajaran dari siklus I ke siklus III yaitu sebesar 23,43 %.

Adapun keterampilan berbicara peserta didik menunjukkan hasil sebagai berikut:

Tabel 5

Nilai keterampilan berbicara peserta didik

No.

Nama Peserta Didik

KKM

Siklus I

Siklus II

Siklus III

1.

Ade Yani S.

70

73

87

93

2.

Ade Silvi

70

67

73

80

3.

Ai Dini I.

70

87

93

93

4.

Aldi H.

70

67

67

80

5.

Ari Suhendar

70

53

60

73

6.

Feri G.

70

67

73

80

7.

Fuji Astuti

70

53

60

73

8.

Hesti P.

70

53

60

73

9.

Hilfi Maulana

70

67

73

87

10.

Irwan M.

70

67

73

87

11.

Iswanto

70

60

67

73

12.

Nuraprilliyani

70

67

67

73

13.

Rita

70

67

73

87

14.

Salsa Allika

70

73

80

87

15.

Siti Nurika

70

80

87

93

16.

Uu Badrudin

70

53

60

67

17.

Wahyudin

70

73

80

93

18.

Yani Suryani

70

73

80

87

19.

Ade Mita

70

53

60

67

20.

Irna K.

70

67

67

73

Rata-rata Nilai

66

72

80,95

Jumlah Peserta Didik yang Tuntas

6

11

18

Persentase Ketuntasan

30 %

55 %

90 %

Tabel di atas menunjukkan bahwa keterampilan berbicara peserta didik mengalami peningkatan yang sangat besar dari siklus I ke siklus yaitu sebesar 60% dan menunjukkan bahwa pembelajaran mencapai nilai ketuntasan kelas yaitu persentase di atas 70 %. Ada 2 peserta didik yang belum mencapai ketuntasan hingga siklus III, hal ini disebabkan kedua peserta didik yang belum tuntas memiliki kendala diantaranya kurang memiliki rasa kepercayaan diri, mereka merasa malu untuk menjawab pertanyaan dari guru ketika tes berlangsung, dan salah satu diantaranya belum mampu membaca dengan lancar ejaan dalam bahasa Inggris. Sehingga rekomendasi selanjutnya atas permasalahan ini adalah dengan memberikan perbaikan berupa bimbingan untuk berlatih berbicara dan menumbuhkan rasa percaya diri dalam dirinya.

E. Kesimpulan

Berdasarkan perumusan masalah dan analisa yang telah peneliti kemukakan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Perencanaan pembelajaran pada pembelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs dapat meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik. Kinerja guru dalam pembelajaran sebanyak tiga siklus menunjukkan peningkatan yang baik, yaitu pada siklus I 68, 75 %, siklus II 82,81 % dan siklus III 93,75 %.

2. Upaya guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran practice rehearsal pairs mengalami peningkatan, yaitu pada siklus I 66,41 %, siklus II 75 % dan siklus III 89,84 %.

3. Keterampilan berbicara peserta didik pada pembelajaran bahasa Inggris mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dengan semakin bertambahnya persentase jumlah peserta didik yang mencapai nilai KKM pada tiap siklus, yaitu pada siklus I 30 %, siklus II 55 % dan siklus III 90 %.

SELURUH REFERENSI ADA DI PENULIS.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 17 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 18 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 21 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: