Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Dewa Gilang

Single Fighter!

Kawanku Benar: Lesunya Buku-buku Agama Islam

OPINI | 19 July 2012 | 23:15 Dibaca: 299   Komentar: 16   1

Saban hari, kawanku bercerita dengan setengah curhat perihal lesunya buku2 yang bertema keagamaan, dalam hal ini Islam. Aku kaget, setengah tak percaya. Maklum, selama ini aku menikmati buku2 agama secara gratisan, dengan sering duduk di perpustakaan salah seorang tokoh Nasional. Jadi aku tak begitu mencermati geliat dunia penulisan bertema agama.

Baru tadi, aku menyempatkan diri berkunjung ke salah satu toko buku terkemuka. Perhatianku langsung tertuju ke rak2 buku agama Islam. Dan benar saja, aku melihat kebenaran perkataan kawanku.

Hampir buku2 yang ada saat ini adalah buku2 impor yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kalaupun ada penulis lokal, tak jauh dari karya disertasi doktoral yang dibukukan.
Tak ada satu pun nama2 penulis terkenal, kecuali Quraisy Syihab dengan “Sirah Nabawiyyah-nya” yang kritis namun tak terjangkau oleh isi kantongku. Hanya saja aku terhibur dengan hadirnya karya terbaru Kang Jalal, yang ramah dengan kantong (kurang dari 30)), dan aku dapat langsung menikmati sajian kritis 14 hadis Nabi Saww.

Selain buku2 impor terjemahan, aku melihat kecenderungan tema penulisan yang sama. Terutama setelah “booming-nya” buku motivasi ala Islam, “La Tahzan”.

Dari ujung ke ujung, aku melihat tema yang seragam. Mulai “La Tahzan For Jomblolers”, “La Tahzan Untuk Suami Istri”, “La Tahzan Untuk Calon Ibu”, pokonya semua judul memakai “La Tahzan”, baik karangan penulis lokal maupun luar.

Entah karena latah atau kehabisan tema, satu yang pasti, menurutku, dunia penulisan Islam, terutama penulis lokal, mati suri. Hampir tak ada karya2 terbaru seorang Emha Ainun Nadjib, Musthafa Bisri atau yang lainnya. Kalaupun ada, hanya cetak ulang atau terbitan ulang dengan judul yang berbeda, dan penerbit yang beda pula, namun dengan isi yang sama.

Ah…Aku merindukan karya2 dari Quraisy Syihab dengan “Mukjizat Alqur’an-nya”, Emha Ainun Nadjib dengan “Tuhan pun “Berpuasa”.” Atau Musthafa Bisri dengan “Mutiara2 Benjol-nya”. Jadi kuharap mereka menulis kembali, meski di tengah2 maraknya pembajakan buku. Kehilangan buah karya mereka bak kehilangan permata paling berharga yang susah dicari padanannya.

Akhirnya, daripada pulang dengan tangan kosong, aku memutuskan memilih buku karya penulis “kroyokan” yang berjudul, “Gado-Gado Poligami”, yang isinya kumpulan cerpen yang diangkat dari realitas asam-garam kehidupan berpoligami. Siapa tahu, kelak dewasa, aku berpikir ulang untuk berpoligami.

Salam poligami.

Selamat menikmati hidangan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 2 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Ngapain Garuda Minta Maaf ke Ahmad Dhani? …

Ifani | 11 jam lalu

Lawan Lupa Komnas HAM, Antasari Harus Dibela …

Berthy B Rahawarin | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: