Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hayix Uye

Mahasiswa dan kader HMI UIN Malang

Tokoh Pewayangan dan Pendidikan Karakter

OPINI | 23 July 2012 | 20:09 Dibaca: 202   Komentar: 0   0

Tokoh Pewayangan dan Pendidikan Karakter

Masih menggaung ditelinga kita bagaimana kecurangan demi kecurangan dipraktikkan dalam Ujian Akhir anak-anak bangsa. UAN yang menjadi semacam ritual rutinan tiap tahun, tetap saja menghadirkan kecurangan dan kasus-kasus yang memiriskan. Mulai dari nyontek massal sampai pada pembocoran kunci jawaban. Dari pemungutan liar sampai pencekalan peserta ujian dengan beberapa alasan yang tidak masuk akal. Seperti dalam kasus seorang siswi didaerah tertentu yang gagal ikut ujian gara-gara tidak menerima pernyataan cinta sang kasek. Juga banyaknya siswi yang gagal ikut ujian gara-gara hamil diluar nikah. Miris bukan.

Masih terngiang pula ditelinga kita, bagaimana PNS dalam hal ini guru yang pada dasarnya merupakan jabatan yang mulia, menjadi ajang jual beli jabatan yang menggurita. Hal itu bisa dilihat dari terbongkarnya para calo CPNS dibeberapa daerah di Nusantara. Belum lagi kasus-kasus tawuran yang melibatkan para pelajar,kemudian maraknya demo dan pemboikotan yang dilakukan para anak didik terhadap sekolah mereka.

Berita yang lebih gres adalah, terbongkarnya kasus pemalsuan ijazah yang dilakukan oleh seorang mantan dosen di Surabaya. Terhitung sejak 2007, dia telah membuat dan menjual 1.600 ijazah palsu. Ironisnya, pembeli terbesar adalah para guru. (Opini, Jawa Pos, 18/06/2012)

Itulah secuil mozaik potret pendidikan kita saat ini. Dan pastinya masih banyak lagi ketimpangan-ketimpangan yang lebih besar yang tidak bisa disebutkan satu persatu karena keterbatasan penulis. Namun, secuil contoh diatas telah mampu membuat kita ngelus dodo mengingat betapa pentingnya pendidikan sebagai wadah tempaan bagi terbangunnya jiwa dan raga untuk Nusantara, telah tercoreng dan meradang. Pendidikan yang pada dasarnya merupakan kawah condrodimuko-nya para calon penerus bangsa, harus kehilangan esensi dan tujuan awalnya.

Seorang pemikir Islam, Imam Al-Ghazali merumuskan tujuan pendidikan adalah terwujudnya manusia yang ber-etika, memiliki nurani yang senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa. Disini Al-Ghazali menekankan bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu atau nilai intelektual (ta’lim), namun lebih dari itu pendidikan merupakan proses transfer nilai spiritual dan moral (tarbiyah) yang menjamin terbentuknya manusia yang humanis dan religius. Dengan begitu, apa yang salah dengan pendidikan kita, pendidikan di Indonesia. Bukankah kurikulum kita sudah digodok sedemikian rupa demi tujuan mencerdaskan anak bangsa. Tapi mengapa, UAN yang merupakan ritual final dalam dunia pendidikan formal kita syarat dengan permasalahan dan kecurangan. Dan mengapa guru atau pendidik dalam beberapa kasus belum mampu menjadi sosok seng digugu lan ditiru. Disinilah kemudian penulis mencoba sedikit menyuguhkan formulasi dari perspektif “cangkruan” dengan melihat permasalahan diatas sebagai bentuk krisis karakter dan minimnya kuriositas kita dalam menggali kearifan lokal (local wisdom).

Pembangunan Karakter

Pendidikan bangsa kita yang digadang-gadang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa sebagai suatu mekanisme institusional telah kehilangan roh-nya. Bagaimana tidak, kurikulum yang hampir setiap tahun berganti formulasi tetap saja belum mampu menghadirkan masyarakat yang cerdas, humanis dan religius. Hal ini tidak berlebihan, mengingat banyaknya perilaku negatif yang mencoreng dunia pendidikan kita khususnya dan bangsa ini pada umumnya. Dan semua ini berakar pada pendidikan kita yang melupakan tujuan utamanya, yaitu pembangunan karakter bangsa. Karakter disini berarti sebuah pola berfikir,sikap, maupun tindakan yang melekat pada diri seseorang dengan pijakan ideologi yang kuat (Abdul Munir: 2010).

Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan Indonesia pernah mendefinisikan pendidikan sebagai upaya memajukan budi pekerti (karakter), pikiran (intelek), dan jasmani anak didik. Disini beliau menempatkan pembangunan karakter sebagai yang pertama, barulah kemudian membangun intelektualitas dan jasmani. Beliau faham betul bagaimana sebuah pembangunan karakter (character building) merupakan suatu pondasi yang sangat penting dan perlu ditanamkan kepada setiap anak bangsa.

Gus Sholah dalam bukunya, Berguru Pada Realitas (2011:116), mengatakan bahwa pendidikan Agama Islam khususnya, telah gagal dalam mendidik anak bangsa. Pendidikan yang telah memperkenalkan nilai-nilai agama terhadap peserta didik, tidak dibarengi dengan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut. Sehingga, pendidikan kita telah gagal dalam membangun karakter anak bangsa. Gus Solah menjadikan karakter tadi sebagai sesuatu yang perlu dicari dibalik indikator-indikator kegagalan pendidikan agama.

Dalam Islam-pun pembangunan karakter merupakan bidang yang diberi porsi khusus. Sebagaimana dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad S.A.W diutus untuk menyempurnakan akhlak(innama bu’istu li utammima makarimal akhlak). Akhlak disini erat kaitanya dengan karakter. Karena tidak mungkin seseorang yang memiliki akhlakul karimah tanpa memiliki karakter yang kuat. Karenanya, dalam Islam, pendidikan selalu diintegrasikan dengan ‘adab’ atau akhlak yang kemudian mampu menampilkan wajah pendidikan yang berkarakter. Didunia pesantren yang merupakan cikal bakal pendidikan di Indonesia juga seringkali menghadirkan kisah-kisah tentang para Ulama-ulama kita dalam menekankan pentingnya pembangunan karakter. Ada santri yang tidak pernah disuruh ngaji dan hanya disuruh ngarit. Ada juga santri yang baru beberapa hari belajar langsung disuruh pulang dengan hanya berbekal cucupan sang kiyai di mulut sang santri.

Ada juga seorang kiyai yang menyuruh santrinya menguras bak mandi menggunakan ceteng atau tempat nasi yang penuh lubang. Pernah juga ada cerita seorang santri yang kerjanya hanya mengisi bak mandi kemudian pulang menjadi seorang yang alim. Dan masih banyak lagi cerita-cerita dari balik pesantren yang secara serampangan sangat tidak logis dan terkesan magis. Padahal, dari sinilah para ulama kita mencoba berpesan bahwa inilah kelebihan pendidikan ala pesantren yang lebih menekankan pembangunan karakter daripada pengajaran. Namun, hal ini bukan berarti beliau-beliau mengesampingkan transfer nilai intelektual. Hanya saja sebelum menginjak proses itu, karakter haruslah dibangun pertama kali. Wadahe dikuatne disek.

Ketika karakter anak bangsa ini sudah kuat, barulah transfer kognisi dan nilai intelektualitas akan mampu mengakar pada pikiran dan prilaku yang mencerminkan masyarakat madani. Masyarakat kita akan benar-benar mampu menginternalisasikan nilai-nili dan moral dalam pendidikan. Entah dalam bidang apapun yang akan kita geluti. Kalau jadi ekonom, ya ekonom yang memikirkan ekonomi kerakyatan. Kalau jadi arsitek, ya arsitek yang memikirkan kesehatan lingkungan. Kalau jadi guru, ya bagaimana caranya menghadirkan pendidikan yang mampu memanusiakan manusia.

Kearifan Lokal

Bangsa kita sangat kaya dengan budayanya. Tiap daerah memiliki lokalitas kebudayaan yang tinggi dan syarat akan makna. Namun, sebagai bangsa yang besar kita telah tercabut dari penggalian terhadap nilai-nilai ataupun pesan moral yang disampaikan para nenek moyang kita ini. Cerita rakyat, permainan-permainan tradisional, lagu-lagu daerah, dan sejenisnya, hampir tak dikenali lagi oleh kita sendiri. Bahkan banyak kebudayaan kita yang terancam punah karena terganti dengan kedatangan budaya-budaya pop dari negeri lain. Wayang misalnya, kebudayaan ini hampir sama sekali tidak dilirik oleh generasi bangsa. Padahal disana terkandung pesan-pesan yang tak kalah filosofis dibandingkan cerita dari negeri lain. Bahkan lebih kental kebudayaan kita ini.

Dalam dunia pendidikan, kita ambil contoh tokoh Bimasena. Terutama kaitannya dengan pembangunan karakter tadi, Bimasena merupakan simbolisasi murid yang mampu meneguk madu dari ketaatan terhadap gurunya Eyang Durna. Sebagai seorang murid, Bimasena sami’na wa atho’na terhadap perintah dari gurunya untuk mencari “Tirta Prawitasari”, air kehidupan, guna menyucikan batin demi kesempurnaan hidupnya. Dan benda itu, harus dicari di hutan Tibaksara di gunung Reksamuka.

Ketika menghadap ibunya, Dewi Kunthi, saudara-saudaranya yang lain mengingatkan bahwa mungkin ini hanya jebakan Sangkuni. Karena hutan itu sudah terkenal sebagai  “alas gung liwang liwung, sato mara, sato mati”. Tapi Bima tetap ngotot, perintah Guru tidak mungkin ditolaknya meskipun karena itu dia harus menyerahkan jiwanya. Seluruh hutan sudah dijelajahinya, tapi yang dicari tak ada. Apa yang dilakukan Bima membuat 2 raksasa penunggu hutan Rukmuka dan Rukmakala yang lagi enak-enak tidur merasa terganggu. Dan Perkelahianpun segera terjadi dan 2 raksasa itu terbunuh oleh Sang Bima.

Menyadari bahwa yang dicarinya tidak ada, Sang Bima kembali menghadap gurunya. Gurunya yang semula kaget, lalu menyuruh untuk melakukan yang lebih sulit. Tirta Prawitasari itu harus dicari di kedalaman lautan. Tanpa banyak bertanya apalagi meragukan perintah sang Guru, Sang Bimasena pun langsung berangkat. Seisi lautan diaduknya, seekor Naga yang menghalangi jalannya disingkirkannya, tapi yang dicarinya tidak juga ketemu. Ditengah kebingungannya, dia menemukan mahluk serupa dirinya dalam ukuran yang lebih kecil, yang meniti ombak lautan, mendekati dirinya. Mahluk itu memperkenalkan dirinya sebagai Sang Dewa Ruci, sang sukma sejati, dirinya yang sebenarnya.(Kompasiana.com)

Disinilah esensi cerita Bimasena yang karena ta’dhim-nya pada sang Resi Durna, mampu mendapatkan inti pengetahuan sejati (Tirta Prawitasari). Dan pertemuannya dengan Dewa Ruci merupakan kesadaran teologis tertinggi yang sering kita sebut manunggaling kawula gusti. Itulah sepenggal cerita tentang salah satu tokoh pewayangan yang kedalaman maknanya tak akan habis untuk digali. Dalam bahasa ilmu pengetahuan adalah seperti kotak pandora. Semakin dibuka , maka akan semakin menarik.

Dan masih banyak lagi lokalitas kebudayaan kita yang menyimpan segudang nilai dan pesan moral. Adalah sebuah keniscayaan bagi kita sebagai guru, orang tua, ataupun kakak harus mampu menanamkan kecintaan anak-anak, adik, dan murid kita pada “hero-hero” lokal. Jangan sampai kemudian tokoh macam Naruto, Avatar, Sinchan, dsb, mengambil tempat dihati anak bangsa. Karena penokohan dan pengidola-an seperti itu akan turut membangun karakter generasi bangsa.

Setelah penanaman karakter tadi sudah mengurat nadi, barulah kita akan berbicara masalah wajah pendidikan kita. UAN, antara relevansi, efektifitas dan subtansinya, ataukah hanya prestis dan ritual tahunannya?. Apakah pendidikan kita hanya selesai dan ditentukan oleh barisan nilai dari beberapa mata pelajaran?. Dan apakah Ijazah yang menjadi esensi pendidikan, sehingga harus diper-“Tuhan”-kan bagaimanapun caranya?. Panjenengan-lah yang tahu jawabannya. Wallahu A’lamu Bisshowaab.

Hayyik Ali Muntaha Mansur

Santri Pon.Pes Sabilurrosyad Gasek

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 12 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 12 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 13 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 16 jam lalu

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: