Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Amirullah Suhada

make it easy. be happy.

Tarawih di Sini Serasa di Masjid Nabawi

REP | 25 July 2012 | 07:56 Dibaca: 634   Komentar: 0   0

Damai benar shalat tarawih di Masjid Agung Sunda Kelapa. Seandainya bacaan Al-Qur’an di tiap-tiap rakaat diperpanjang, niscaya jamaah akan tetap betah. Saya haqqul yakin, tidak ada jamaah yang terkantuk-kantuk menyimak ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan imam. Bacaannya fasih, suara merdu. Dengan tartil, irama lantunan ayat-ayat suci yang dibaca imam yang berasal dari Masjid Nabawi, Madinah, itu membuat kalam ilahi meresap ke dalam sanubari.

Pada Selasa (24/7) malam, atau malam kelima Ramadan 1433 H, saya berkesempatan tarawih di Masjid Sunda Kelapa. Ini bukan kali pertama saya tarawih di masjid yang terletak di kawasan elit Menteng dan bersebelahan dengan gedung Bappenas ini. Tahun-tahun sebelumnya, meski cuma beberapa kali, saya telah berkesempatan shalat di situ. Dari situlah saya tahu jamaah tarawih di sini kebanyakan berusia muda. Mayoritas 30-40 tahun. Dari tampilan fisik, mereka berasal dari kelas menengah, terdidik, dan punya gairah dalam beribadah.

“Bacaan Qur’an-nya enak, khusyu,” kata seorang Jamaah saat berbincang denganku. Bersama keluarga kecilnya, dia datang dari luar Menteng. Dan begitulah umumnya jamaah Masjid Sunda Kelapa: mereka adalah keluarga muda. Alunan Qur’an ini pula yang membuatku betah shalat di sini. Seperti ada rasa nikmat yang terputus saat imam mengakhiri bacaannya. “Ah, seandainya bisa lebih lama lagi,” kira-kira begitu batin bergumam.

Sepengetahuan saya, imam tarawih yang didatangkan dari Madinah ini baru dua tahun belakangan. Seiring itu pula, jumlah raka’at bertambah. Sebelumnya 11, kini 23. Karena saya mengamalkan yang 23, makanya dulu saya menambahkan rakaat tarawih di rumah. Itu kalau lagi rajin. Kalau lagi gak memungkinkan, ya cukup 11.

Meskipun di Masjid Sunda Kelapa sekarang sudah 23, tetap ada jamaah yang memilih selesai tarawih di rakaat ke delapaan. Setelah itu mereka pulang dan menambahkan witir tiga rakaat di rumah. Perbedaan ini harus dihormati. Itu hak setiap orang mau berapa rakaat shalat tarawih. Jangankan 11, orang yang nggak tarawih pun tetap kita hormati. Lha wong ini amalan sunnah. Hehe.

Tapi bagi saya, 23 rakaat shalat dipimpin imam seperti di Masjid Sunda Kelapa ini seperti kurang. Saya berangan-angan jumlah rakaat ditambah, misalnya jadi 39 rakaat seperti di Masjid Nabawi. Hehe. Itu khayalan saja kok. Saya juga belum tentu mampu sih J

“Memangnya boleh 39?”. Lho, kenapa gak boleh. Bahkan kalau sanggup lebih dari itu silakan saja. Kalau bisa, jangan terus-terusan membatasi diri di 11 rakaat dong. Masak di bulan lain 11, di bulan Ramadhan juga 11. Padahal di bulan Ramadhan nilai kebaikan berlipat ganda. Hehe, sori, jangan ada yang tersinggung. Itu cuma pikiran nakal saya aja.

Meski di beberapa riwayat, Rasul SAW sholat malam 11 rakaat, bukan berarti jumlah lebih dari itu dilarang. Imam Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib tiap malam shalat seribu rakaat. Karena itu cucu Fathimah Az-Zahra putri Rasul SAW ini dijuluki As-Sajjad (orang yang banyak bersujud). Dia juga dijuluki sebagai Zainal Abidin (hiasan para hamba). Itulah kenapa beliau disebut Ali Zainal Abidin. Tentu saja kita yang orang awam ini nggak usah repot mengkalkulasi secara matematis apakah delapan jam di waktu malam memungkinkan orang sholat seribu rakaat.

Ma’rifat Imam Ali Zainal Abidin, dan para wali min auliyaillah, tentu berbeda dengan orang awam seperti kita. Jangankan seribu, 23 rakaat pun masih banyak yang emoh. Masih banyak diantara kita yang lebih memilih paket kortingan 11 rakaat (Ah, saya nakal lagi. Maaf).

Yowis, berapa pun Anda mau tarawih, entah dua, empat, 11, 23, atau berapa pun, selamat beribadah. Tapi, kalau Anda sholat di Masjid Sunda Kelapa dengan imam dari Madinah ini, dan Anda cuma ikut dua rakaat kemudian pulang, kayaknya keterlaluan. Hehe. Dengan bacaan yang sungguh indah dan menyentuh ini, minimal 11-lah. Kalau Anda mau mengamalkan fastabiqul khairoot, terlebih di bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan ini, silakan menyelesaikan sampai 23. Selebihnya terserah Anda. []

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 4 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 6 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 8 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 8 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Cinta Sejati …

Adhikara Poesoro | 8 jam lalu

Mengenal Air Asam Tambang …

Denny | 8 jam lalu

Afta dan Uji Kompetensi Apoteker …

Fauziah Amin | 8 jam lalu

Demo BBM vs Berpikir Kreatif …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa (Paradigma Baru …

Ikhlash Hasan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: