Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Fennywongso

Mahasiswi Komunikasi USU 2011, menyukai dunia anak-anak, musik, dan tulis-menulis. Web : fennywongso.com, Twitter : @FennyWongso

Belajar dari Cicak

REP | 28 July 2012 | 15:22 Dibaca: 213   Komentar: 6   3

Siapa yang tidak tahu cicak? Binatang berekor yang bisa saya pastikan ada di setiap langit – langit rumah, iya kan? Seperti yang kita tahu, cicak memakan nyamuk. Secara tidak langsung, dia sudah banyak membantu manusia terserang dari gigitan nyamuk – nyamuk nakal. Hehehe…

Walaupun kecil, tapi apa salahnya belajar darinya?

Belajar dari makhluk kecil seperti cicak? Ya!

Suatu hari, saya tidak sengaja memperhatikan cicak yang sedang merayap di dinding.  Tapi, secara fisik dia kelihatan aneh. Ohya! Saya baru menyadari bahwa saat itu dia tak berekor. Tapi anehnya, dia masih mampu merayap dengan gesit. Luar Biasa!

Readers, pernahkah Anda melihat cicak yang memutuskan sebagian ujung ekornya? Hal itu dilakukan untuk mengelabui pemangsanya. Jika ada pemangsa yang menyerang dan menangkap ekor cicak, makhluk tersebut akan segera memutuskan ekornya. Bagian ekor yang putus akan bergerak-gerak untuk beberapa menit. Hal ini akan mengalihkan perhatian pemangsanya. Pada saat itu, cicak akan segera menjauhi pemangsanya. Ekor cicak akan tumbuh seperti semula dalam beberapa bulan. Ini benar – benar ajaib, bukan? Bahwa ada ekor yang bisa tumbuh lagi setelah lepas. CiptaanNya memang sungguh Luar Biasa!

Namun, yang ingin saya share disini bukan semata – mata tentang ini, tapi saya ingin mengajak Anda untuk belajar dari cicak. Lho bagaimana bisa?

Cicak, meskipun ekornya telah lepas dari tubuhnya, dia tetap bisa bergerak dan masih bisa hidup. Kita sebagai manusia, hendaknya bisa sama seperti itu. Seringkali kita menyerah dan putus asa pada saat “ekor” kita diputuskan. Ekor yang saya maksud disini adalah ambisi dan semangat dalam memperjuangkan hidup. Kita sebagai manusia seringkali diejek, disepelekan, dicaci, dianggap remeh, bahkan sampai dihina. Bagaimana sikap kita sewaktu “ekor” kita diputuskan? Apakah kita tetap akan bergerak? Apakah kita akan tetap “merayap” menjalani hidup? Apakah kita akan sabar menunggu beberapa saat saja sampai “ekor” kita yang baru itu tumbuh? Apakah kita bisa hidup saat ada bagian dalam diri kita hilang?

Terkadang kita perlu melawan arus kehidupan. Di titik – titik tertentu dalam hidup, kita perlu tetap bertahan memegang kesakitan, tetap berpegang di dalam kepedihan, menunggu sampai “ekor” kita tumbuh lagi.

Belajarlah dari cicak, yang akan tetap merayap meskipun ia kehilangan ekornya.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.

———————————————————————————————————

Your beloved friend,

FennyWongso

Tags: cicak

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 6 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 9 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 10 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Layanan Kesehatan Harus Ramah dan Terbuka …

Baihaqi | 8 jam lalu

Bogor Islamic Book Fair 2014 …

Adi Setiadi | 8 jam lalu

“Indonesia Tanah Air Beta”, Kata …

Elvini Effendi | 8 jam lalu

Layakkah Menteri Agama RI menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Orang Indonesia Itu Baik-baik semua …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: