Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Zainur Rahman

Presiden BEM FMIPA UB 2014 | Chemistry' 11 | Follow @Zain_Chemistry | Pin: 26A86AB5

5 Perkara Penghapus Pahala Puasa

REP | 30 July 2012 | 14:30 Dibaca: 5081   Komentar: 2   3

Di bulan suci Ramadhan ini semua umat Islam diwajibkan untuk menunaikan Ibadah Puasa. Sebagaiman firman Allah dalam Al-qur’an surat Al-baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Berpuasa disini dalam artian puasa sebagaimana yang telah dicontohakan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu Imanan Wa Ihtisaban, berpuasa karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah dengan perantara niat yang ikhlas. Dan jangan sampai kita tergolong kepada orang yang disebutkan nabi dalam hadisnya yaitu“berapa banyak dari orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya mendapatkan lapar dan haus saja”,

Ada beberapa perbuatan yang sering sekali dialkukan oleh orang bahkan tidak menutup kemungkinan diri kita sendiri yang dapat menyebabkan terhapusnya pahala puasa diantaranya adalah Pertama, al-kadzbu yaitu berdusta atau bohong. Perbuatan ini sering terjadi di kalangan masyarakat misalnya hanya beralasan untuk menghindar dari sebuah kesalahan sehingga dengan mudahnya untuk berbohong. Sebenarnya masalahnya itu kecil, sepele tapi tanpa berfikir diri kita sendiri yang membuat masalah lebih besar dan menutupinya dengan berbohong yang berakibat pahala puasa kita terhapus.

Yang kedua, al-ghibah yaitu membicarakan kejelekan orang lain. Orang yang pandai Ngerasani orang lain ini juga tergolong dari amal yang akan menyebabkan terhapusnya pahala puasa. Makanya ada suatu maqalah yang menyatakan “Salamatul insan fii hifdzil lisan”, selamatnya seseorang tergantung orang tersebut dalam menjaga lisannya. Maka dari itu, jagalah lisan kita dari perkara-perkara yang dapat mengurangi bahkan menghapus pahala puasa kita.

Kemudian yang ketiga, an-namimah yaitu mengadu domba. Hal ini sudah tidak asing dalam kehidupan sehari-hari apalagi dalam dunia politik. Partai yang satu menjelekkan partai yang lain, ormas yang satu menganggap paling benar dan menjelekkan ormas yang lain, antar organisasi bahkan antar personal. Yang salah dianggap benar, dan yang salah sengaja dibenarkan. Padahal dibalik itu semua terdapat dosa besar yang terkadang diri sendiri tidak merasa bahwa hal tersebut dapat menghapus pahala puasa kita.

Penyebab terhapusnya pahala puasa yang keempat adalah Sumpah palsu. Penulis tidak mampu menyebutkan satu-satu dari setiap orang, sekarang cobalah instrospeksi sudah berapa ribu kalikah kita bersumpah atas nama Allah selama hidup khususnya di bulan Ramadhan ini, padahal sumpah tersebut tidak benar adanya. Jangankan suatu hal yang sudah pasti dan konkret kesalahannya, suatu kebenaran pun tidak dianjurkan untuk mengutarakan sumpah atas nama Allah. Apalagi sumpah yang berkembang pada saat ini di kalangan masyarkat adalah sumpah yang dibuat-buat, diskenario agar dianggap paling keren, gaul dan lain sebagainya. Sumpah sudah menjadi kebiasaan dan bagikan mainan yang menurut mereka tidak beresiko.

Dan yang terakhir dari suatu amal yang dapat menyebabkan pahala puasa itu terhapus adalah melihat aurat lain jenis (wanita) dengan syahwat. Hal ini tidak dapat dipungkiri terjadi pada seluruh lapisan masyarakat apalagi di zaman yang serba modernisasi, teknologi canggih, sekarang semua orang tidak harus pergi ke alun-alun untuk melihat aurat wanita, tidak harus jauh-jauh untuk pergi ke pantai hanya melihat seorang wanita. Akan tetapi orang bisa melihat aurat seorang wanita hanya tinggal duduk manis di depan laptop atau HP di dunia maya baik berupa foto maupun dalam bentuk video. Apalagi sekarang internet tidak hanya bisa diakses oleh orang yang hidup di kota, di pelosok desa pun juga bisa mengaksesnya.

Na’udzubillah, semoga kita terhindar dari hal dan perkara tersebut diatas agar amal puasa kita tidak sia-sia dan diterima disisi Allah SWT. Hanya tergantung pada niat dan kesungguhan diri kita untuk menghindarinya. Semoga senantiasa istiqamah dalam kebenaran. Amiin.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | | 23 November 2014 | 12:04

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 9 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 17 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 12 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 12 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Nur Delima | 12 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 12 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: