Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hasanuddin Ibrahim

Saya menyukai hal-hal yang bersifat filsafati, atau berkenaan dengan dinamika perkembangan pemikiran manusia dalam menemukan selengkapnya

Percayalah Allah Mencintai Kita Semua

OPINI | 30 July 2012 | 05:06 Dibaca: 281   Komentar: 3   0

Albert Einstein tercatat dalam sejarah sebagai “orang besar” karena dia berhasil menemukan teori relativitas.

Bagi umumnya para saintist apa yang ditemukan Einstein tidak lebih dari sekedar sebuah teori yang memberikan sumbangan bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Pandangan seperti itu silahkan saja. Namun dalam kacamata religiusitas hukum-hukum alam termasuk relativitas, gravitasi bumi dan hukum alam lainnya di ciptakan, di atur oleh, yang dalam bahasa agama di sebut dengan Tuhan. Penamaan Tuhan bermacam-macam, berbeda pada tiap-tiap agama. Dalam tulisan ini saya menggunakan kata Allah yang digunakan dalam tradisi umat Muslim, serta penjelasan selanjutnya menurut pemahaman saya mengenai ajaran Islam.

Meski setiap agama memiliki nomenklature yang berbeda tentang nama Tuhan, namun persepsi manusia tentang apa dan bagaimana seharusnya Tuhan yang diyakini itu boleh dikatakan memiliki kesamaan. Tuhan itu dalam persepsi manusia adalah sesuatu yang Unik, karenanya Tuhan pastinya harus berbeda dengan Makhluk-Nya; Tuhan itu sudah seharusnya Tunggal (Esa) karena dengan Ketunggalan dan Ke-Esa-an-Nya itulah menegaskan keberkuasaan-Nya; bahwa Tuhan itu tidak ada yang menyaingi-Nya. Dengan demikian maka Tuhan itu satu-satunya tempat menyandarkan harapan, satu-satunya tempat di mana manusia dan makhluk lainnya pantas menyandarkan Ketergantungan. Tuhan dengan demikian adalah The Absolute Power.

Dalam al-Qur’an Surah al-Ikhlas Allah berfirman; Katakankah Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah tempat bergantung segala sesuatu (Absolute-Power); (Allah) tidak beranak dan tidak diperanakkan (Unik), dan tidak ada satu pun yang bisa di setarakan dengan Dia.

Antara Keadilan dan Kecintaan Allah kepada Makhluk-Nya.

Pernahkah anda berfikir, jika sekiranya tidak ada gravitasi Bumi bisakah anda berjalan, duduk atau berdiri dengan tenang, santai sambil menikmati pemandangan? Jika Bumi tidak diberi hukum gravitasi oleh yang menciptakannya, bisakah anda menentukan arah dengan tepat ? Tapi tentu pertanyaan tidak sampai disitu saja, anda juga mesti bertanya, siapa yang telah menetapkan ukuran tingkat kekuatan gravitasi itu sehingga daya tariknya tidak membuat kita melengket. Kita bisa berjalan, bisa lompat-lompat, itu tentu karena takaran dari gravitasi itu dibuat dan dirancang memang untuk kebutuhan manusia dan makhluk Allah lainnya. Anda bisa bayangkan kalau timbangan gravitasi itu berubah-ubah, kadang anda bisa duduk, tapi sulit berdiri karena ditarik gravitasi, anda melangkahkan kaki kesulitan karena di tarik gravitasi. Itulah salah satu bentuk keadilan Allah kepada seluruh makhluknya. Itulah contoh penerapan hukum, yang tidak membeda-bedakan. bukan hanya tidak membedakan manusia, tapi juga tidak membedakan dengan semua makhluk ciptaa-Nya.

Siapa saja yang menikmati hukum gravitasi itu ? semua makhluk ciptaan Allah di Bumi ini menikmatinya. Termasuk yang berdosa ? yang kafir ? yang murtad ikut menikmatinya ? ya, termasuk. yang kaya, yang miskin juga ? ya, mereka juga. Yang cacat, yang norma, yang abnormal ? mereka juga. Allah yang menciptakan makhluk-Nya dan Allah pula-lah yang memeliharanya.  Ini hanya salah satu contoh di mana Allah tidak melakukan pembedaan kepada makhluk-Nya. Anda bisa menambahkan banyak contoh lain di mana Allah memberikan nikmat dan karunianya kepada seluruh makhluknya tanpa kecuali. Cahaya Matahari misalnya ? ya, dan banyak lagi yang lain.

Sering muncul pertanyaan, atau lebih tepatnya ungkapan “kekesalan”. Lalu untuk apa kita beribadah kepada Allah kalau yang tidak beribadah atau kafir kepada Allah pun diberi nikmat yang sama ? Kalau begitu Tuhan Tidak Adil !! Ketahuilah bahwa dalam penciptaan langit dan bumi dan dalam silih bergantinya siang dan malam, di dalam dari semua peristiwa itu Allah telah tegakkan keadilan melalui hukum-hukum alam, melalui gravitasi, melalui realititas, dan berbagai hukum-hukum alam yang lain. Tugas manusia menemukan dan mempelajari karena didalam kesemua fenomena alam itu sesungguhnya tidak yang diciptakan Allah dengan sia-sia.

Karena hukum-hukum keadilan telah di tegakkan oleh Allah melalui hukum-hukum alam, yang dengan itu Allah menciptakan keseimbangan jagat raya ini, lalau Allah mengangkat manusia sebagai Khalifah di muka bumi ini, dan menghendaki agar manusia juga menegakkan keadilan dalam hukum-hukum sosial mereka, serta melakukan kebajikan.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl: 90).

Keadilan begitu penting dalam menciptakan keteraturan. Keadilan adalah kunci dari hukum keseimbangan, termasuk hukum keseimbangan kosmos. Karena itu Allah senantiasa menyukai orang yang berbuat adil. Muncul pertanyaan, apakah selamanya keadilan itu harus di dahulukan daripada yang lainnya ?

Jika kita memperhatikan urut-urutan konsepsi yang di buat Allah, dalam Surah-Al-Fatihah. Di awali dengan ayat (1) segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam, (2) Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang, (3) yang menguasai hari pembalasan, dst-nya.  Jelas Allah  mendahulukan cinta kasih dan sayang-Nya daripada mengedepankan keinginannya melakukan pembalasan, dan menangguhkan hari pembalasan itu di kemudian hari. Mendahulukan kebajikan berdasarkan cinta, kasih dan sayang, jauh lebih utama daripada mengendepankan upaya menegakkan timbangan keadilan, juga di misalnya bisa kita temukan dalam kaidah pelaksanaan hukum qisash. Bagi ahli waris yang ditinggal oleh kerabat keluarganya karena telah di bunuh, berhak menuntut agar pelaku pembuhan juga di hukum setimpal dengan di bunuh. Tapi, Allah akan lebih menyukai jika ahli waris korban pembunuhan itu, melakukan kebajikan dengan mengganti bentuk hukuman yang diberikan, dan atau bahkan jika mampu memberikan maaf atasnya.

Cinta Allah kepada makhluk-Nya mengalahkan keinginan Allah untuk membalas perbuatan tercela dari makhluk-Nya, dan menangguhkan hukuman atau penegakan akan keadilan kepada siapapun hingga tiba hari pembalasan. Cinta dan kasih sayang Allah membuka pintu taubat bagi siapapun untuk kembali ke jalan Allah, kapan dan di manapun.

Teramat besar nikmat dan kasih sayang Allah kepada kita semua. Teramat besar cinta Allah kepada makhluk-Nya. Yakinlah Allah mencintai kita semua.

Depok, 30 Juli 2012

wallahu a’lam bi al-shawab.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 8 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 9 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 10 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: