Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nurlaely

eine gluckliche Frau

Maafkan Ibu, ya, Nak!

OPINI | 31 July 2012 | 18:15 Dibaca: 187   Komentar: 0   1

Pernahkah anda mendapat kepuasaan selama dan setelah melaksanakan proses pembelajaran? Sekali, dua kali, atau lebih? Atau jangan-jangan anda termasuk guru yang tidak pernah merasakan kepuasan? Atau yang lebih parah, anda sebagai guru tidak pernah memikirkan hal itu?

Pernahkah peserta didik anda menyatakan kepuasannya kepada anda? Coba anda ingat-ingat. Ternyata betapa bahagianya saat peserta didik mengemukakannya kepada kita. Seperti ini: “Bu, nanti belajar kayak kemarin lagi, ya? Rame walaupun capek”, kata peserta didik setelah saya memberikan materi tentang menulis teks procedure dengan menyuruh anak-anak untuk lari estapet di lapangan dan kemudian menyusun kalimat. Semua anak tampak sumringah, mereka berlari, tertawa dan berdiskusi dengan temannya serta berlomba ingin menjadi kelompok yang paling cepat menyusun kalimat.  Contoh lainnya ada juga peserta didik yang berkata: “Bu, kemarin saya dipuji saudara-saudara saya waktu arisan.” Kemudian saya tanya alasannya ternyata anak tersebut membuat ‘Banana Split ‘ seperti yang pernah dipelajarinya di kelas. Di lain waktu, ketika ada kegiatan bazaar pada akhir semester ganjil di sekolah, tampak anak-anak menjual kue bola-bola coklat. Dengan bangganya mereka berkata: “ ini kan pelajaran waktu di kelas dulu, Bu….kemarin kami membuatnya lagi dan ngomongnya pake bahasa Inggris, lho, dan Alhamdulillah sekarang  jualannya tinggal dikit lagi, soalnya dari tadi banyak yang beli”, dan masih ada contoh- contoh ungkapan kepuasan lainnya.

 

Ketika saya kaji lebih jauh apa yang disampaikan anak-anak tersebut ternyata sama dengan apa diharapkan dari peserta didik sesuai dengan permendiknas 23/2006  tentang SKL SMP/MTs/SMPLB*/Paket B, antara lain:

 

1.      Menunjukkan sikap percaya diri

2.      Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secaralogis, kritis, dan kreatif

3.      Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif

4.      Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya

5.      Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari

6.      Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya

7.      Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang

8.      Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun.

9.      Menghargai adanya perbedaan pendapat

 

Ketika saya merenung, ingatan saya langsung flash back ke tahun 90an. Selama saya jadi guru bahasa Inggris di SMP, saya merasakan kepuasan selama dan setelah melakukan proses pembelajaran jauh jumlahnya dibawah jumlah ketidakpuasannya alias bisa dihitung dengan jari. Mengapa demikian? Karena selama saya mengajar di kelas,  peserta didik lebih menganggap belajar bahasa Inggris hanya merupakan suatu keharusan dan keterpaksaan, pelajaran yang sulit, membosankan sekaligus menakutan.  Dulu, bertahun-tahun lalu ke belakang saya mengajar di kelas lebih banyak bertumpu pada buku dan LKS saja, paling hanya beberapa kali saja menggunakan media dan metode pembelajaran yang yang beragam sehingga ketika saya masuk kelas saya cukup menyuruh anak membuka buku dan mengerjakan latihan selain mendengarkan materi yang saya terangkan dengan ceramah.

Padahal sebagai guru, ketika kita menyusun RPP kita harus memperhatikan prinsip-prinsip:

1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik

RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik

Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar (Permendiknas no 41/2007 tentang Standar Proses).

 

 Menyadari kekurangan-kekurangan saya tersebut akhirnya terbersit dari hati yang paling dalam ditujukan kepada semua anak-anakku dimanapun kalian berada, izinkan Ibu berkata:

“Maafkan Ibu selama ini, ya, Nak!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 4 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 6 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 7 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 8 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: