Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nurlaely

eine gluckliche Frau

Maafkan Ibu, ya, Nak!

OPINI | 31 July 2012 | 18:15 Dibaca: 188   Komentar: 0   1

Pernahkah anda mendapat kepuasaan selama dan setelah melaksanakan proses pembelajaran? Sekali, dua kali, atau lebih? Atau jangan-jangan anda termasuk guru yang tidak pernah merasakan kepuasan? Atau yang lebih parah, anda sebagai guru tidak pernah memikirkan hal itu?

Pernahkah peserta didik anda menyatakan kepuasannya kepada anda? Coba anda ingat-ingat. Ternyata betapa bahagianya saat peserta didik mengemukakannya kepada kita. Seperti ini: “Bu, nanti belajar kayak kemarin lagi, ya? Rame walaupun capek”, kata peserta didik setelah saya memberikan materi tentang menulis teks procedure dengan menyuruh anak-anak untuk lari estapet di lapangan dan kemudian menyusun kalimat. Semua anak tampak sumringah, mereka berlari, tertawa dan berdiskusi dengan temannya serta berlomba ingin menjadi kelompok yang paling cepat menyusun kalimat.  Contoh lainnya ada juga peserta didik yang berkata: “Bu, kemarin saya dipuji saudara-saudara saya waktu arisan.” Kemudian saya tanya alasannya ternyata anak tersebut membuat ‘Banana Split ‘ seperti yang pernah dipelajarinya di kelas. Di lain waktu, ketika ada kegiatan bazaar pada akhir semester ganjil di sekolah, tampak anak-anak menjual kue bola-bola coklat. Dengan bangganya mereka berkata: “ ini kan pelajaran waktu di kelas dulu, Bu….kemarin kami membuatnya lagi dan ngomongnya pake bahasa Inggris, lho, dan Alhamdulillah sekarang  jualannya tinggal dikit lagi, soalnya dari tadi banyak yang beli”, dan masih ada contoh- contoh ungkapan kepuasan lainnya.

 

Ketika saya kaji lebih jauh apa yang disampaikan anak-anak tersebut ternyata sama dengan apa diharapkan dari peserta didik sesuai dengan permendiknas 23/2006  tentang SKL SMP/MTs/SMPLB*/Paket B, antara lain:

 

1.      Menunjukkan sikap percaya diri

2.      Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secaralogis, kritis, dan kreatif

3.      Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif

4.      Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya

5.      Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari

6.      Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya

7.      Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang

8.      Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun.

9.      Menghargai adanya perbedaan pendapat

 

Ketika saya merenung, ingatan saya langsung flash back ke tahun 90an. Selama saya jadi guru bahasa Inggris di SMP, saya merasakan kepuasan selama dan setelah melakukan proses pembelajaran jauh jumlahnya dibawah jumlah ketidakpuasannya alias bisa dihitung dengan jari. Mengapa demikian? Karena selama saya mengajar di kelas,  peserta didik lebih menganggap belajar bahasa Inggris hanya merupakan suatu keharusan dan keterpaksaan, pelajaran yang sulit, membosankan sekaligus menakutan.  Dulu, bertahun-tahun lalu ke belakang saya mengajar di kelas lebih banyak bertumpu pada buku dan LKS saja, paling hanya beberapa kali saja menggunakan media dan metode pembelajaran yang yang beragam sehingga ketika saya masuk kelas saya cukup menyuruh anak membuka buku dan mengerjakan latihan selain mendengarkan materi yang saya terangkan dengan ceramah.

Padahal sebagai guru, ketika kita menyusun RPP kita harus memperhatikan prinsip-prinsip:

1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik

RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik

Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar (Permendiknas no 41/2007 tentang Standar Proses).

 

 Menyadari kekurangan-kekurangan saya tersebut akhirnya terbersit dari hati yang paling dalam ditujukan kepada semua anak-anakku dimanapun kalian berada, izinkan Ibu berkata:

“Maafkan Ibu selama ini, ya, Nak!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 11 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | 7 jam lalu

Si Bintang yang Pindah …

Fityan Maulid Al Mu... | 8 jam lalu

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | 8 jam lalu

Jokowi Mirip Ahmadinejad …

Rushans Novaly | 8 jam lalu

Alternatif Solusi Problem BBM Bersubsidi …

Olivia | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: