Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Roy Simamora

Mahasiswa, Penulis, Blogger, suka membaca dan menulis. " Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih selengkapnya

Guru Ohh Guru………

OPINI | 01 August 2012 | 20:07 Dibaca: 140   Komentar: 4   2

Kalau mau menghasilkan selebriti, undanglah event organizer. Kalau mau mencari hukum dan keadilan, panggillah pengacara atau advokat. Tetapi kalau mau mendidik warga negara yang belum punya watak, pendirian dan prinsip, tanyakanlah kepada guru. Mengapa para guru jarang kita tanyai?. Jawabannya karena pendidikan di negeri ini sibuk dengan urusan yang bukan kependidikan.

Mendidik bukan berarti membuat murid itu pintar di semua bidang mata pelajaran, tetapi ini soal urusan kesetiaan guru menemani muridnya untuk menghasrati apa yang luhur dan bagaimana memperoleh kebiasaan-kebiasaan yang luhur. Kesetiaan guru untuk mendampingi muridnya untuk mencapai keluhuran itulah “jalan guru”.

Guru dalam bahasa sansekerta, yaitu gabungan kata ‘gu’ dan ‘ru’ yang berarti kegelapan (darkness) dan terang (light). Guru kemudian kita tafsirkan sebagai penerang kegelapan. Seorang guru membawa kita dari ketidaktahuan menjadi tahu. Ia mengubah kita dari kita tidak paham menjadi mengerti. Disamping itu, istilah guru juga tidak pernah lekang dari dua unsur, yaitu substansi dan pedagogi. Substansi adalah materi yang oleh sang guru ingin diterangkan, dijelaskan, dan untuk dipahami oleh para murid atau peserta ajar. Pedagogi adalah seni atau ilmu menjadi guru. Jelasnya pedagogi juga bisa diistilahkan sebagai gaya (style) guru.

Hilangnya gairah mengajar

Sekarang, jika keguruan memang menyediakan suka cita berlimpah, mengapa banyak guru kehilangan gairah mengajarnya? Mengapa banyak guru mengalami stress, depresi dan konflik emosi, kebosanan dan kejenuhan, dan bukannya antusiasme, optimisme, dan suka cita?

Penulis memaparkan ada beberapa alasan mengapa hal demikian terjadi. Pertama, masih adanya persepsi negatif yang menganggap kerja adalah beban, sedangkan berlibur adalah kesukaan. Persepsi ini merupakan kerak zaman era penjajahan dimana rakyat dipaksa atau terpaksa bekerja keras (kerja rodi), sedangkan kaum bangsawan atau ningrat dan tuan-tuan penjajah bersenang-senang di kediamannya. Mereka ini tak sudi bekerja keras karena berkeringat bagi mereka dianggap kasar, rendah dan hina. Mereka adalah kaum yang kelasnya tinggi dan hanya pantas untuk menghadiri upacara, tinggal dikeraton dan bersenang-senang.

Kedua, banyak guru yang sering membuat referensi yang salah. Sangkanya guru itu kalah pamor dibandingkan pegawai kantoran atau anggota DPRD hanya karena pendapatan mereka lebih besar daripadanya. Padahal belum tentu juga itu halal.

Ketiga, sikap seorang guru terhadap pekerjaannya. Guru dengan sikap “emang gue pikiran”. Guru jenis ini berkata : “Negeri ini, sekolah ini, kelas ini, bukan milik nenek moyangku. Aku disini orang gajian, cari uang buat makan keluargaku. Tugasku hanya mengajar, tak lebih tak kurang”. Bila dicermati sikap ini cenderung tidak peduli terhadap harapan Ibu Pertiwi, tidak ingat Hymne Guru, dan sudah lupa pesan Ki Hajar Dewantara.

Keempat, guru yang hanya doyan kritik. Guru yang seperti ini jagonya hanya bisa mengkritik, sok hebat, gemar mencela, tetapi tidak ada hasil yang didapat. Berteorinya hebat berbuatnya nol. Kalau ada masalah bukannya memecahkan masalah, tetapi mencari kambing hitam, dan menyodorkannya ke orang lain.

Dan yang terakhir adalah guru yang lari dari tanggung jawabnya untuk mengemban amanah yang diberikan kepadanya. Mengajar ala kadarnya, mendidik seenak perutnya, selalu berusaha melarikan diri dari tanggung jawab. Kepeduliannya terhadap tugasnya dangkal, komitmennya cuma dimulut saja. Seperti pepatah lama berkata “memang lidah tak bertulang”.

Inilah persoalan yang saat ini sedang dialami guru. Seorang guru seharusnya berpikir positif, membuang jauh-jauh pikiran yang negatif. Bekerja sebagai guru, ya cari nafkah, cari uang, cari sesuap nasi dan syukur-syukur bisa menjadi pejabat sekolah atau petinggi dinas pendidikan. Meskipun kenyataannya tak serta-merta tidak bisa disalahkan. Sikap seperti ini jelas tidak mungkin diandalkan untuk mencapai mutu pendidikan disekolah unggulan manapun jika sosok seorang guru hanya bisa mengandalkan sikap EGP (emang gue pikirin).

Guru yang baik adalah guru yang benar-benar mengajar dengan penuh tanggung jawab, mulia karena pelayanan, dan mengajar dengan cinta dan penuh dedikasi. Guru seharusnya memberikan perhatian yang khusus kepada muridnya. Bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya karena menjadi seorang guru merupakan pengabdian dan panggilan hidup bukan semata-mata hanya untuk sekedar mencari sesuap nasi dan mencari nafkah.

Melihat kenyataan sekarang ini, masih ada banyak hal yang masih harus dibenahi dalam persoalan guru saat ini. Secara umum, kualitas guru dan kompetensi guru juga masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Masih banyak yang harus dituntaskan. Standar kualitas guru harus mulai dicanangkan saat ini. Dengan adanya standarisasi guru ini diharapkan menjadi babak baru melakukan uji kompetensi awal terhadap guru.

Keguruan adalah panggilan

Menurut Jansen Sinamo (2010) dalam bukunya 8 Etos Keguruan. Saya mengutip salah satu etos keguruan dari 8 (delapan) Etos Keguruan yang dijabarkan beliau. Keguruan adalah panggilan, yang memaparkan secara sepintas apa itu sebenarnya panggilan atau misi.

Secara khusus saya mengutip pernyataan beliau yang menyatakan “hanya orang-orang tertentu yang terpanggil menjadi guru. Tak semua orang terpanggil menjadi hakim, dokter, atau seniman. Inilah darma, yang tak lain adalah profesi. Dan kita melakoni profesi itu dengan bermodalkan talenta, bakat, minat, dan pendidikan yang kita dapat, utamanya dari sekolah”.

Menjadi guru adalah panggilan hidup. Menjadi guru adalah jalan juang yang menyimpan secercah kemuliaan. Di tangan guru, eksistensi bangsa dan negara dipertaruhkan. Menjadi guru adalah sebentuk keberanian untuk membawa anak-anak bangsa menuju cita-cita. Menjadi guru adalah sebuah bentuk pengorbanan dan pengabdian demi terlahirnya manusia Indonesia yang kuasa belajar dari masa lalu, berinteraksi dengan masa kini, dan mampu beradaptasi dengan masa depan.

Dengan demikian, rasa keterpanggilan yang kuat membuat seorang guru diberdayakan untuk bekerja sepenuh hati tanpa ada tekanan maupun paksaaan. Seorang guru akan menghayati keguruannya sebagai tugas yang harus diembannya. Dengan kata lain, seorang guru harus bermental kuat, penuh semangat, penuh gairah dan antusias.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: