Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Siti Mugi Rahayu

Saya seorang guru yang tertarik pada pendidikan yang humanis.

Seberapa Pentingkah Guru BK di Sekolah?

REP | 11 August 2012 | 01:13 Dibaca: 4945   Komentar: 3   5

Mengapa takut konseling ?

Dari jaman saya sekolah dulu (tahun 90-an.. lama amat ya?) hingga kini, mengapa ya anak-anak cenderung memilih tidak curhat pada guru BKnya ?

Guru bimbingan konseling adalah guru yang memiliki tugas, tanggungjawab, dan wewenang dalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap siswanya. Hal ini terkait juga dengan pengembangan diri siswa baik pelayanan terhadap kebutuhannya, potensi, bakat yang dimiliki, minat, serta kepribadian mereka.

Dulu, sebagai siswa tentu saja saya tidak tahu tugas guru bimbingan konseling itu seperti apa. Setahu saya, guru-guru ini hanya akan memanggil siswa yang sedang mempunyai masalah. Entah itu pelanggaran kedisiplinan dan tata tertib, nilai jelek, bahkan uang bayaran yang nunggak. Beneran, saya tidak tahu manfaat guru BK buat saya.

Jadi, siapapun yang masuk ke ruangan BK, tentu saja saya dan hampir semua siswa pada saat itu akan beranggapan bahwa dia sedang punya masalah. Cap yang biasa ditempel adalah : Anak Bandel !

Jaman sudah lama berlalu, sampai akhirnya saya menjadi guru. Dan tahu tidak, kebanyakan siswa sekarangpun masih sama dengan siswa tempo doeloe..enggan menemui guru BK. Apakah karena alasannya masih sama?

Yuk, kita tengok sejenak :

Pertama, hampir separuh siswa masih berfikiran bahwa guru BK hanya untuk siswa bermasalah. Tidak bisa disalahkan memang, kerena siswa yang masuk ke arsip BK kebanyakan adalah siswa yang memang membutuhkan pelayanan konseling yang sifatnya mendesak. Padahal, guru BK seharusnya mempunyai pelayanan yang kurang lebih sama terhadap siswa-siswa yang tidak bermasalah sekalipun karena mereka juga membutuhkan bimbingan. Berdasarkan pengalaman mengajar, siswa yang bermasalah berat diawali dengan masalah-masalah kecil yang tidak terselesaikan.

Kedua, siswa kebanyakan tidak tahu fungsi dan manfaat keberadaan guru BK di sekolah selain upayanya membantu menyelesaikan masalah.

Ketiga, jumlah guru BK sangat minim. Ini berdasarkan pemantauan saya pada beberapa sekolah terutama swasta, di mana jumlahnya yang tidak proporsional dengan jumlah siswa. Bahkan di sekolah-sekolah swasta kecil, ada yang malah tidak memiliki guru BK.

Dalam blognya, Ahmad Sudrajat menuliskan bahwa beban kerja guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik dan paling banyak 250 (dua ratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan yang dilaksanakan dalam bentuk layanan tatap muka terjadwal di kelas untuk layanan klasikal dan/atau di luar kelas untuk layanan perorangan atau kelompok bagi yang dianggap perlu dan yang memerlukan. Sedangkan beban kerja guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah membimbing 40 (empat puluh) peserta didik dan guru yang diberi tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah/madrasah membimbing 80 (delapan puluh) peserta didik.

Artinya, sekolah yang kekurangan guru BK akan sangat kesulitan mengatur jadwal bimbingan dan layanan individual. Biasanya, hanya memberikan layanan klasikal dalam bentuk ceramah di kelas. Hal ini memungkinkan pemunculan potensi, bakat, dan minat siswa tidak akan bisa dilaksanakan karena perhatian terhadap siswa secara individual terbengkalai. Sehingga,  penyelesaian masalahpun kerap tidak bisa dilakukan. Jadilah, masalah-masalah siswa menumpuk menjadi karakter yang tak diinginkan, semisal mencuri, membangkang,  gagal berprestasi, dan sebagainya.

Seberapa Pentingkah Guru BK di sekolah ?

Keberadaan guru BK / konselor tentu saja penting karena banyak aspek dari diri siswa yang perlu dikembangkan.Aspek-aspekpengembangan tersebut meliputi :

  • Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa memahami serta mampu  menilai bakat dan minatnya sendiri
  • Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
  • Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan di  sekolah secara mandiri.
  • Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu siswa dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 16 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 18 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 19 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 20 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 25 October 2014 08:22


HIGHLIGHT

Selamatkan Kawasan Ekosistem Leuser Aceh …

Nur Terbit | 9 jam lalu

Terinspirasi = Plagiat ? …

Aqsa Intan Pratiwi | 9 jam lalu

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Kontroversi Pengangkatan Menteri oleh …

Edward Pakpahan | 9 jam lalu

Pesta Raffi Ahmad dan Bakiak Lady Gaga …

Ifani | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: