Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aryya Dwisatya Widigdha

Kuekspresikan perasaanku dengan berbagai cara, salah satunya adalah menulis

Pelajar, Dahulu dan Sekarang

OPINI | 10 August 2012 | 23:56 Dibaca: 246   Komentar: 0   1

Entah mengapa pagi ini saya ingin sekali menuangkan apa yang ada di pikiran saya selama beberapa hari ini. Topik yang saya angkat adalah pelajar. Ya, pemuda yang (katanya) calon penerus bangsa (semoga).

Beberapa tahun terakhir, tawuran sering terjadi terutama yang dilakukan oleh para pelajar. Walaupun hanya karena persoalan sepele, tawuran bisa saja terjadi. Mungkin karena ego yang tidak pernah ingin kalah dan tidak menerima kekalahanlah yang menjadikan tawuran  sebagai salah satu jalan akhir. Atau, mungkin juga karena para pelajar punya waktu lebih untuk berlatih fisik kalau-kalau suatu saat Indonesia bakal perang dengan negara lain. (?)

Sayangnya, bukan tawuran pelajar yang ingin saya bahas kali ini, tetapi sebuah pernyataan dari guru saya. Guru saya pernah bercerita, dahulu ketika beliau masih bersekolah di sekolah tempat saya beajar waktu itu, beliau sangat sering terlambat masuk kelas. Bukan karena malas, memang rumahnya yang berkilo-kilo jauhnya dari sekolah. Tidak jarang beliau melompat pagar untuk masuk, tetapi nahasnya selalu ada guru yang sama ketika beliau melompat. Dijewerlah guru saya dan digiring masuk disertai omelan-omelan nasehat yang sangat banyak. Kemudian ketika bercerita, guru saya berkata, “lha ibu itu kok iya mau, ngapain saya dibegituin, padahal saya bukan anak kandungnya, tapi kok ya mau ibu itu menasehati saya seperti itu”, Sontak, saya langsung termenung memikirkan perkataan guru saya tersebut. Mungkin, bila pada zaman sekarang ada kasus seperti itu, (sebagian atau mungkin semua) siswa akan nyeletuk,”ngapain sih guru ini, terserah gw dong”.

Saya termenung karena perbedaan pola pikir antara guru saya dengan mungkin (sebagian atau seluruh) siswa masa kini. Guru saya bertanya-tanya mengapa dia perlakukan seperti anaknya sendiri, dididik, diarahkan. Bukan malah memandang beranggapan bahwa yang ia terima adalah suatu bentuk hukuman tanpa bentuk perhatian.

Apa yang beliau ceritakan menjadi sedikit lebih tau tentang sample pelajar zaman dahulu. Semoga pesan dari tulisan saya ini tersampaikan.

Salam,

Bang Satya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 5 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 7 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 9 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: