Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Henry Trias Puguh Jatmiko

sebuah tulisan rasa diperuntukan untuk segenggam asa

Analisis Novel Sebelas Patriot Melalui Pendekatan Sosiologi Sastra

OPINI | 13 August 2012 | 10:36 Dibaca: 4977   Komentar: 0   0

Makalah ini Ditulis untuk Memenuhi

Tugas Mata Kuliah Kajian Apresisasi Prosa

Dosen Pengampu: Dr. Nugraheni Eko Wardani, S.S, M.Hum

Oleh :

Henry Trias Puguh Jatmiko K1210028

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

BAB I

1. Latar Belakang Masalah

Karya sastra merupakan hasil karya cipta manusia yang merupakan hasil imajinasi dan refleksi seorang penulis dari suatu hal yang ia rasakan, ia lihat, ia dengar, dan yang terjadi di dalam masyarakat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa terciptanya sebuah karya sastra tidak dapat lepas dari bagaimana situasi dan kondisi masyarakat pada saat sebuah karya sastra diciptakan. Proses penciptaan karya sastra selain dipengaruhi oleh situasi dan kondisi masyarakat juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi dalam diri penulis. Kondisi tersebut dapat berupacara pandang seorang penulis terhadap dunia dan masyarakat secara utuh baik dari segi negative maupun positif.

Sebuah karya sastra dapat dinilai dari berbagai aspek baik dari dalam karya sastra itu sendiri atau intrinsik maupun unsur dari luar karya atau ekstrinsik yang juga memengaruhi sebuah karya maupun aspek genetic sastra yaitu asal-usul karya sastra, dalam hal ini asal-usul karya sastra yaitu pengarang dan kenyataan sejarah yang melatarbelakangi lahirnya sebuah karya sastra (Iswanto, 2001). Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakanoleh Goldman (dalamFaruk, 2003:31), yaitu terdapat suatu korelasi atau hubungan yang kuat antara bentuk literer novel dengan hubungan keseharian anta rmanusia dengan komoditi pada umumnya atau secara lebih luas, antara manusia dengan sesamanya dalam masyarakat.

Novel sebelas patriot karya merupakan kisah nyata dari seorang penulis novel yaitu andrea Hirata. Andrea Hirata sering menceritakan pengalaman unik yang dikemas dalam sebuah novel seperti novel lasker pelangi, sang pemimpi, dan Edensor. Trilogy tersebut merupakan perekaan kembali cerita hidupnya yang dikemas dalam novel dan telah dibumbui oleh unsur-unsur sastra. Begitu juga pada novel yang berjudul sebelas patriot yang isinya mengenai kebanggannya terhadap ayah dan PSSI yang isinya sarat akan motivasi dan pendidikan. Pada bab selanjutnya akan dibahas mengenai analisis novel Sebelas Patriot.

2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana kondisi sosial budaya yang tergambar dalam novel Sebelas Patriot

3. Tujuan Penulisan

a. Untuk mengetahui kondisi lingkungan yang tergambar pada novel Sebelas Patriot

b. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel sebelas patriot

4. Landasan Teori

Sosiologi sastra merupakan salah satu pendekatan sosiologi sastra yang mendasarkan pada teori marxisme. Menurut Marx dan Engels, dalam masyarakat terdapat dua buah struktur: infrastruktur dan superstruktur. Dalam masyarakat superstruktur memiliki   fungsi esensial untuk melegitimasi kekuatan kelas sosial yang memiliki alat produksi ekonomi, sehingga ide-ide dominan dalam masyarakat adalah ide-ide kelas penguasanya (Eagleton, 2006).

Sosiologi sastra merupakan pendekatan yang bertitik tolak dengan orientasi kepada pengarang. Semi (1984 : 52) mengatakan : “Sosiologi sastra merupakan bagian mutlak dari kritik sastra, ia mengkhususkan diri dalam menelaah sastra dengan memperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan. Produk ketelaahan itu dengan sendirinya dapat digolongkan ke dalam produk kritik sastra”.

Ratna (2003 : 25) mengatakan : “Sosiologi sastra adalah penelitian terhadap karya sastra dan keterlibatan struktur sosialnya”. Wellek dan Warren dalam (Semi, 1989 :178) mengatakan: “Bahwa sosiologi sastra yakni mempermasalahkan suatu karya sastra yang menjadi pokok, alat tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan serta amanat yang hendak disampaikan.

Abrams (1981 :178) mengatakan : “Sosiologi sastra dikenakan pada tulisan-tulisan para kritikus dan ahli sejarah sastra yang utamanya ditujukan pada cara-cara seseorang pengarang dipengaruhi oleh status kelasnya, ideologi masyarakat, keadaan-keadaan ekonomi yang berhubungan dengan pekerjaannya, dan jenis pembaca yang dituju”

Ditambahkan oleh Teeuw (1984:94 dan 1983:65), sastra tidak lahir dalam situasi kekosongan budaya dan juga karya sastra merupakan karya fiksi yang bersifat imajinatif, pengarang berusaha memanfaatkan kondisi sosial di sekitarnya sebagai objek karya sastra. Kehadiran sastra ada misi-misi tertentu dari seorang pengarang sebagai anggota masyarakat yang peka akan sentuhan-sentuhan situasional.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Sinopsis

Sebelas patriot adalah sebuah novel karya andrea hirata. Di dalamnya menceritakan tentang kehidupan seorang anak bernama ikal tentang kebanggannya terhadap PSSI. Dari sebuah album foto yang tidak sengaja ia temukan di atas almari ayahnya Ikal bangga terhadap ayahnya juga dengan PSSI. Karena di foto tersebut tersimpan sejarah ketika ayah ikal sebagai seorang pemain sepak bola yang andal. Dulu ketika ayah ikal mudah. Pernah menjadi seorang pemain bola terbaik di zamannya, bersama dua saudaranya. posisi sayap kiri yang dipegang ayah ikal dan posisi tengah dan kedua pamannya sebagai gelandang dan sayap kanan. Tiga pemain ini pada zaman pemerintahan belanda dulu notabennya sebagai pekerja kuli parit. Berita tantang tiga bersaudara tersebut sampai pada telinga van holden dan langsung menyaksikan pertandingan tersebut, yaitu pertandingan untuk memperingati ratu belanda. Pertandingan antara pemuda belanda dengan tim kuli parit. Pertandingan tersebut sempat mendapat intimidasi dari pihak belanda bahwa ketiga bersaudara tidak boleh main, sang pelatih amin sampai dipanggil. Tapi ketiga saudara itu tidak mau tahu tetep bersi keras ingin main dalam pertandingan melawan belanda dan tidak mau menjadi pemain dibangku candangan. Alhasil pemain pemuda belanda dipermalukan tim parit. Berkat sontekan dari gelandang tengah dari tiga bersaudara dan saat itu juga tim parit merasakan kemerdekaan. Mereka merasakan kemerdekaan di lapangan hijau atas kemengan yang diperolehnya.

Keesokan harinya pelatih amin dan tiga bersaudara babak belur ketika keluar dari tangsi. Atas perintah dari distric behendeer pelatih amin dan tiga saudara itu dibuat babak belur, dibuat sengsara oleh pemerintahan belanda kaki ayah ikal menjadi saksinya, saksi kebiadaban orang belanda yang telah membuatnya pincang. Perjalanan hidup ayahnya di masa silam menjadi motivasi ikal untuk menjadi pemai sepak bola. menjadikan dirinya semakin cinta pada ayahnya dan cinta pada PSSI. Ikal juga mengikuti tes pemilihan pemain PSSI mengikuti seleksi dari tahap awal hingga akhir, tapi nasib berkata lain ikal dimata para pelatih PSSI tak layak masuk kedalam pemain PSSI karena kemampuan yang masih kalah dengan pemain lain. kegagalan yang dialami ikal tak membuatnya benci terhadap PSSI. Dia justru bangga terhadap PSSI dan semakin cinta terhadap PSSI. Karena ayahnya selalu bangga terhadap PSSI itu yang membuat Ikal menjadi fans berat PSSI.

Ketika ikal merantau di Universitas Sorbone, Perancis. Ikal mengikuti sebuah kegiatan yaitu menjadi seorang backpacker. Bersama Arai, Ikal menjelajahi afrika dan eropa. Tujuan Negara yang ingin dikunjungi ikal yaitu spanyol dia ingin singgah di kota Madrid, salah satu club dikota itu menjadi kebanggan ayah ikal yaitu Real Madrid. Ikal dan Arai berpisah ditengah jalan karena tujuan kota yang diminatinya berbeda. Ikal ingin ke Madrid sedangkan Arai ingin ke Alhambra. Di kota Madrid Ikal mendapat kenalan bernama Adriana seorang perempuan yang gemar dengan bola. selain penggemar bola dia berprofesi sebagai penjaga toko resmi kepunyaan Real Madrid. Perkenala itu berawal ketika ikal akan membeli sebuah kaos bola bertanda tangan Luis Figo. Pertama kali pertemuan itu Adriana menawarkan sebuah kaos bertanda tangan Luis Figo, tapi dengan harga yang berlipat lebih mahal dibanding kaos tak bertanda tangan. Kemudian ikal berjanji pada Adriana bahwa dirinya akan kembali lagi kesini untuk membeli kaos bertanda tangan Luis Figo. Ikal bekerja mati-matian untuk memperoleh uang 250 Euro. Ikal rela menjadi kacung serta pembantu rumah tangga untuk mendapatkan uang 250 Euro. Sebuah kaos Luis Figo yang bertanda tangan untuk dihadiahkan kepada ayahnya, karena ikal tahu bahwa ayahnya penggemar berat Luis Figo setelah menggemari PSSI. Selama bekerja keras akhirnya Ikal mendapatkan uang tersebut dan langsung meluncur ke toko resmi Real Madrid. Sampai disana kaos yang diincarnya ternyata sudah menghilang dari tempatnya. Ikal sempat merasa sedih bahwa dirinya telah gagal mendapatkan kaos bertanda tangan Luis Figo, akan tetapi kaos tersebut ternyata sengaja disimpan oleh Adriana untuk Ikal. Dia tahu bahwa Ikal akan kembali kesini dan membeli kaos bertanda tangan lusi figo. Ikal merasa senang sekali ketiak kaos bertanda tangan Luis Figo berada ditangannya. Dari permulaan itu Ikal semakin akrab dengan Adriana dan sempat diajaknya secara langsung menonton pertandinagn Real Madrid VS Valencia. di depan kepalanya sendiri serta melihat langsung sepak terjang Luis Figo di lapangan hijau.

Esok harinya Ikal mengirimkan Kaos bertanda Tangan Luis Figo untuk ayahnya dan kaos Barcelona untuk pelatih Toharun. Ikal juga mengirim surat pada ayahnya yang isi bahwa dia berada di Estadio Santiag dan dilampiri foto ikal saat berpose di dapan stadion kebanggan ayahnya itu. di spanyol ikal selalu merindukan ayah dan bertanya-tanya apakah ayah masih mengikuti pertandingan PSSI? Apakah kaki kirinya bergerak melihat pertandingan itu? betapa ikal sangat merindukan ayahnya saat berada di kota kebanggaan ayahnya yaitu Real Madrid.

Kondisi Sosial Budaya pada Novel Sebelas Patriot

Pada novel ini kondisi sosial budaya terbagi menjadi tiga, yakni kondisi (a).sosial pada zaman pemerintahan belanda, (b). kondisi sosial ketika ikal tumbuh sejak kecil hingga dewasa di Belitong,(c). kondisi sosial budaya ketika ikal merantau ke eropa.

a. Kondisi sosial budaya zaman pemerintahan belanda di Belitong

Pada zaman pemerintahan belanda di belitong diceritakan bahwa para penduduk belitong dipaksa untuk kerja rodi. “dalam putaran kerakusan nan dahsyat itu anak-anak lelaki melayu dibawah umur diseret ke parit-parit tambang untuk kerja rodi”( hal 6). Para penduduk diperas tenaganya hanya untuk memberi keuntungan kepada belanda. Harga diri rakyat belitong diinjak-injak oleh belanda. Masalah sepele yang dibuat oleh orang Indonesia selalu dibesar-besarkan. Keadaan sosial pada saat itu sangat memprihatinkan. Seluruh kekeyaan alam terutama timah yang ada di belitong dikeruk habis. “telah kutemukan dalam buku sejarah, bahwa timah berlimpah di pulau kami­­ belitong membuat belanda bernafsu mengeruk sebanyak-banyaknya” (hal.5).

Anak-anak kecil dipaksa meninggalkan rumah untuk dijadikan pekerja bagi belanda. Bahkan ayah ikal dan kedua saudaranya mengalami nasib pahit tersebut di era pemerintahan belanda. “ketiga anak itu bergabung dengan ratusan anak seusia mereka, bergelimang lumpur, membanting tulang sepanjang waktu (hal.6). Para penduduk juga tak tinggal diam. Meraka mencoba melawan tindasan belanda terhadap rakyat belitong. Tetapi akhirnya juga kalah. Perjalanan waktu yang terus berlalu, tertindas terus menerus oleh belanda rakyat menemukan taktik tersendiri untuk melawan belanda yaitu “para penyelam tradisi onal melawan dengan membocorkan kapal-kapal dagang belanda yang mendekati perairan belitong. Para pemburu meracuni sumur-sumur yang akan dilalui tentara belanda. Para imam membangun pasukan rahasia di langgar-langgar. Para kuli parit tambang melawan dengan sepak bola (hal.7). para kuli parit yang melawan belanda melalui sepak bola adalah ayah ikal sendiri dan kedua saudaranya.

Pada zaman pemerintahan belanda, ayah ikal dan kedua saudara kandungnya menjadi bintang sepak bola saat kelihainnya dalam bermain bola disanjung oleh masyarakat. Sampai-sampai Van Holden ingin menyaksikannya sendiri,. ( Van Holden sengaja datang ke lapangan sepak bola untuk menyaksikan anak-anak muda itu bermain (hal.17). Van Holden terpana melihat kepiawaian tiga bersaudara itu menggiring bola. sayap kiri ayah ikal, gelandang dan sayap kanan. Pada suatu ketika ketiga saudara tersebut dilarang bermain bola saat pertandingan melawan pemuda belanda. Tapi ketiga saudara itu tetap bersikeras dalam mengikuti pertandingan dengan modal nekat. ketiga saudara itu bermain dengan pemuda belanda dan memalukannya di mata orang banyak. Saat seperti itulah sebuah kemerdekaan muncul walaupun hanya di lapangan.

Akibar dari kenekatan ketiga pemuda itu, sebagai gantinya tentara belanda membuat ketiga pemain tersebut babak belur dan juga pelatihnya.

b. Kondisi sosial dan budaya ketika ikal tumbuh dari kecil hingga dewasa di Belitong.

Sepak bola telah mendarah daging pada diri ikal. Posisi sayap kiri telah ikal miliki. Dulu ayahnya posisi sama seperti ikal tapi dulu waktu menjadi Tim Parit. “PSSI untuk menggantikkan posisi ayah yang telah dirampas belanda. Aku harus menjadi pemain PSSI! Apapun yang terjadi”(hal. 38). Ikal bersikeras ingin menjadi pemain PSSI. Keinginannya yang kuat itu di dorong oleh motivasi tentang kehidupan ayahnya dulu, dan ingin meneruskan perjuangannya.

Kondisi budaya sosial pada saat itu, seorang ikal mati-matian ingin menjadi pemain sepak bola. dia menganggap bahwa sepak bola adalah agama keduanya. “sepak bola adalah agama kedua kami setelah Islam” (hal.37). betapa tingginya sepak bola di mata ikal. Pengaruh sosial budaya di masa lampau membuat ikal segila ini dengan bola. dia rela berjualan roti untuk mendapatkan sepasang sepatu bola. “sejak itu aku dan mahar menjujung kue lebih banyak dan berjualan keliling kampung lebih rajin demi membeli sepatu bola”(hal. 41), yang membuat ikal segila itu memengaruhi pandangannya bahwa sepak bola adalah agama kedua, yakni seorang ayah yang menjadi pejuang bola saat penjajahan Belanda.

Gemblengan dari pelatih Toharun membantu membentuk jati seorang sepak bola. terutama gemblengan yang diberikan pada ikal dan teman-temannya. Ketika mahar cengengesan dia kena semprot. “apa katamu!? Anak keenam!? Aku tak peduli kau anak berapa! Aku tak peduli ibumu ikut KB atau tidak! Itu urusan rumah tanggamu! Ini lapangan sepak bola! apa kau pikir ini Puskesmas!? Nomor urut!” (hal.40). keadaan sosial dalam pelatihan sepak bola sangat keras. Ikal diberi latihan push up dengan bertumpu tangan kiri. Pelatih menyuruhku push up dengan bertumpu sebelah tangan kiri (hal.42). tidak hany itu saja pelatih Toharun memerintahkanku untuk menggunakan bagian kiri pada tubuhku agar kemampuan pada posisi sayap kiri semakin matang.

Seleksi PSSI telah diikuti ikal, ikal terpompa semangatnya agar bisa masuk kedalam tubuh PSSI. Seleksi dari tahun ketahun telah dilaluinya, akan tetapi ikal gagal dan harus mengakui kemampuan saingannya yang lebih baik. Kepribadian ikal dalam bermain bola terbentuk dari didikan keras oleh pelatih toharun. Berbagai pertandingan telah dilalui bersama pelatih Toharun.

c. Kondisi sosial budaya ketika di benua eropa

Kondisi sosial di benua eropa sangat berbeda dengan kondisi budaya di Belitong. Ikal melakukan sebuah perjalanan jauh dari perancis menjelajahi eropa, menjadi seorang backpacker. Ikal ingin menuju ke Madrid. Dimana kota yang menghasilkan pemain sepak bola yang digandrungi oleh ayahnya. Ikal dengan arai menuju ke Spanyol tapi mereka berdua berbeda tujuan. Setelah hampir sebulan berkelana, kami sampai di spanyol dan harus berpisah arah untuk sementara. Arai meminati Alhambra dan aku harus kemadrid.(hal.70). tujuan ikal kemadrid yaitu untuk membelikan kaos bertanda tangan luis figo yang akan dihadiahkan untuk ayahnya. Ikal mendapat kaos bertanda tangan itu dengan susah payah, dia harus bekerja seperti kacung menjadi pembantu untuk mencari uang 250 euro. Akhirnya ikal bisa membeli kaos bertanda Tangan Lusi Figo, berkat bantuan andriana. Menyembunyikan kaos yang di pajang untuk ikal. Karena Adriana yakin ikal akan kembali. Dari awal seperti itu persahabatan ikal dengan penjaga toko bernama Adriana tumbuh menjadi seorang yang kenal akrab. Mereka saling mencintaim tapi dalam sepak bola. tidak selebih perasaan dari hati.

Ikal diajak Adriana menonton secara live Real Madrid vs Valencia Ikal merasa senang karena dapat melihat langsung serpak terjang Luis Figo. Pemaian favorit ayahnya. Sosial budaya di daerah eropa sangat memengaruhi pola kehidupan ikal. Kehidupan ikal begitu keras menjadi backpacker, yang lebih memengaruhi lagi dalam hubungan sosial budaya dalam pada tokoh yang bernama ikal yakni, sejarah ayahnya di masa pemerintahan belanda dan kehidupannya saat dikampung belitong dididik oleh pelatih tohari yang keras dan displin, membuatnya menjadi seorang pekerja keras.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

a. sastra tidak lahir dalam situasi kekosongan budaya dan juga karya sastra merupakan karya fiksi yang bersifat imajinatif, pengarang berusaha memanfaatkan kondisi sosial di sekitarnya sebagai objek karya sastra. Kehadiran sastra ada misi-misi tertentu dari seorang pengarang sebagai anggota masyarakat yang peka akan sentuhan-sentuhan situasional.

b. pada novel sebelas patriot terdapat Sosiol budaya ketiga unsur, yaitu Kondisi sosial budaya zaman pemerintahan belanda di Belitong, Kondisi sosial dan budaya ketika ikal tumbuh dari kecil hingga dewasa, sosial budaya ketika di eropa

c. hubungan sosial budaya dalam pada tokoh yang bernama ikal yakni, sejarah ayahnya di masa pemerintahan belanda dan kehidupannya saat dikampung belitong dididik oleh pelatih tohari yang keras dan displin, membuatnya menjadi seorang pekerja keras.

2. saran

analisis ini masih merupakan awal dari analisis selanjutnya. Maka dari itu dibutuhkan banyak pengetahuan lagi untuk mengkaji lebih dalam tentang sosiologi sastra.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. “Menggunakan Google sebagai Penunjang Proses Pembelajaran” dalam http://skaterfm.blogspot.com/2012/04/pengertian-sosiologi-sastra-marxis.html. Diakses Tanggal 24 April 2012.

Anonim. 2012. “Menggunakan Google sebagai Penunjang Proses Pembelajaran” dalam http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17404/4/Chapter%20II.pdf

. Diakses Tanggal 24 April 2012.

Anonim. 2012. “Menggunakan Google sebagai Penunjang Proses Pembelajaran” dalam http://www.scribd.com/doc/82014610/Makalah-Sosiologi-Sastra-Drama

Diakses Tanggal 24 April 2012.

Anonim. 2012. “Menggunakan Google sebagai Penunjang Proses Pembelajaran” dalam http://murdanierpos.blogspot.com/2011/10/blog-post.html. Diakses Tanggal 24 April 2012.

Anonim. 2012. “Menggunakan Google sebagai Penunjang Proses Pembelajaran” dalam http://fitriaapriliaismail.blogspot.com/2011/10/psikoanalisis-dan-sosiologi-sastra.html. Diakses Tanggal 24 April 2012.

Hirata, Andrea. 2008. Sang Pemimpi. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 6 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 8 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 9 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 10 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 7 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 7 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 8 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Resiko Terlalu Banyak Informasi Diri di …

Opa Jappy | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: