Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Wijaya Kusumah

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta selengkapnya

Mengapa Kita Tak Bangga Dengan Bahasa Indonesia?

REP | 13 August 2012 | 01:43 Dibaca: 669   Komentar: 11   2

Bahasa menunjukkan bangsa. Setiap bangsa pasti memiliki bahasanya sendiri, dan merasa bangga dengan bahasa mereka. Bahkan mereka berusaha keras untuk memperkenalkan bahasa bangsanya ke forum-forum international. Meskipun mereka  tahu bahwa bahasa Inggris telah menjadi bahasa Internasional yang banyak dipakai oleh masyarakat dunia dalam berkomunikasi. Kebanggaan itu akan terlihat ketika mereka bernarsis diri dalam blog mereka seperti para peserta didik saya yang sangat bangga dengan sekolahnya. Kami pun selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam setiap kegiatan siswa di sekolah. Sementara untuk kegiatan internasional, kami menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, seperti kegiatan Labschool International Student Acosiation yang disingkat LISA. Dalam kegiaan ini, kami mengundang siswa-siswi dari luar negeri untuk memperkenalkan budayanya.

1344779682460096537

Gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam setiap kegiatan sekolah

Saya tertegun sesaat, ketika salah satu sahabat saya bercerita tentang kunjungannya ke beberapa negara di Eropa. Orang Perancis sangat bangga dengan bahasa nasionalnya. Setiap turis asing yang melancong ke negerinya akan diarahkan untuk mengenal, dan mengerti bahasa Perancis. Begitupun dengan orang Jerman, dan Swiss. Berbeda sekali dengan negeri yang kita cintai ini. Kita justru lebih suka berbahasa Inggris daripada bahasa sendiri. Para turis asing yang berwisata ke negeri ini tidak kita arahkan untuk mengenal, dan mengerti bahasa Indonesia. Jarang sekali saya temui, ada turis asing dari manca negara yang langsung diajarkan bahasa Indonesia oleh guide atau pemandu wisata di negeri ini. Misalnya dengan kata-kata, “Hai apa kabar?” atau “Selamat datang di negeri impian dan negeri surgawi Indonesia”.

Hal yang lebih menyakitkan lagi, para guru  di sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) diminta menyampaikan materi pelajarannya dalam dua bahasa (Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia), dan kalau bisa bahasa Inggrisnya lebih ditonjolkan ketimbang bahasa Indonesia, karena sekolah sudah diharuskan untuk bertaraf internasional dengan menguasai bahasa Inggris. Padahal tidak seperti itu seharusnya penerapan bilingual dalam pembelajaran di sekolah. Pelajaran Bahasa Inggris tetap diberikan, namun posisinya tak bisa menggantikan bahasa komunikasi dalam menyampaikan materi ajar. Sebab banyak kaidah berbahasa Inggris yang belum tentu tepat digunakan dalam istilah-istilah teknik, matematika, dan ilmu pengetahuan alam. Apalagi Ilmu pengetahuan sosial yang didalamnya ada mata pelajaran geografi, ekonomi, sejarah, dan sosiologi.

Bahasa hanya sebagai sarana saja menyampaikan pesan. Jadi, bila seorang guru ingin pesannya sampai kepada para peserta didik, gunakanlah bahasa Indonesia dalam menyampaikan materinya, dan bukan memakai bahasa Inggris yang terlihat keren didengar, tetapi tidak dipahami pesannya oleh peserta didiknya. Oleh karenanya, penerapan dua bahasa (bilingual) di sekolah-sekolah kita, terutama sekolah RSBI/SBI harus dievaluasi agar supaya generasi penerus bangsa ini bangga dengan bahasa Indonesia. Mereka harus terbiasa menggunakan bahasa negerinya, dan tetap dituntut untuk menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa International.

Bahasa Indonesia harus terus dipakai dalam dunia pendidikan kita. Posisinya tak boleh tergantikan dengan bahasa internasional. Bahasa Indonesia harus terus berkembang, dan dikembangkan oleh para guru di sekolah agar kesusastraan Indonesia terus bermetamorforsis mencapai keindahannya. Bahasa Indonesia harus menjadi bahasa resmi di negeri sendiri dalam hal berkomunikasi. Dia harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Kita pun akan bangga bila nilai Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonsia lebih tinggi dari nilai UN bahasa Inggris. Para pembuat soal perlu mengevaluasi diri, bagian mana yang kurang dikuasai siswa.

Sebagai sarana komunikasi, bahasa juga mampu membangun keterampilan berkomunikasi, keterampilan menyampaikan pendapat, gagasan, dan pandangan dalam menyikapi suatu persoalan yang dihadapi dalam kehidupan pada era global ini. Keterampilan seperti itu tentu sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan zaman.Tak Terkecuali, para blogger yang telah memiliki blog sendiri di internet, dan mengelolanya secara mandiri. Keterampilan berbahasa tentu sangat membantu mereka berkomunikasi dengan blogger lainnya. Di sinilah bahasa Inggris dibutuhkan sebagai bahasa internasional. Sebagai bahasa pergaualan antar bangsa. Namun demikian, kemampuan berbahasa Indonesia tak lantas ditinggalkan begitu saja, kita harus pula memperkenalkan bahasa Indonesia kepada negara lainnya, seperti perancis, yang memperkenalkan bahasa negerinya kepada turis asing yang mengunjungi negerinya.

Kenapa kita tak bangga dengan bahasa Indonesia?

Dalam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini, blog berhasil merebut perhatian masyarakat dan menjadi trend yang sangat digemari, terutama di kalangan pengguna internet. Atas dasar itu, banyak lembaga menyelenggarakan lomba blog dengan maksud untuk memberikan penghargaan kepada pembuat blog yang bernilai unggul, baik dari sisi artistik, informatika, maupun kemanfaatan isi yang termuat di dalam blog tersebut.

Lomba itu diadakan untuk membiasakan diri para blogger agar mampu menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan begitu seorang blogger akan memiliki peran tersendiri dalam mempublikasikan khasanah ilmu, dan kesusastraan Indonesia di ranah maya.

Para pengelola blog atau blogger seharusnya bangga dengan bahasa kita. Kebanggaannya itu harus dipublikasikannya dalam bentuk tulisan atau postingan di blog yang senantiasa mencerminkan kebanggaan dan kecintaan kepada bahasanya sendiri. Berusaha untuk menyuguhkan informasi yang dapat dipahami dan dimengerti dengan bahasa Indonesia yang mudah dicerna oleh siapa saja para pengguna internet (netter) yang membaca blognya itu. Tentu saja, blog yang dibuat lebih difokuskan kepada pembaca orang Indonesia. Bila pemilik blog menginginkan tulisannya dibaca secara global, blogger itu dapat memanfaatkan fasilitas language sehingga tulisannya bisa diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa terkenal di dunia.

Mengapa kita tak bangga dengan bahasa Indonesia? Jawabnya, karena kita tidak membiasakan diri menulis dan membaca dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Oleh karena itu, peran guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan guru bahasa Indonesia sangat penting agar mampu mengarahkan para peserta didiknya untuk mampu menulis dalam blog mereka dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan begitu, bahasa Indonesia akan terus terpelihara, dan terus berkembang seiring dengan majunya kesusastraan Indonesia.

Kemajuan di bidang TIK/ICT ternyata tidak selalu menampilkan dampak yang baik. Terutama pada pemanfaatan facebook. Terkait dengan mencintai bahasa Indonesia, mencintai bahasa Indonesia berarti menggunakannya dengan baik dan benar dalam situasi keseharian. Sementara facebook, yang notabene penggunanya adalah kalangan Anak Baru Gede (ABG), telah merusak kaidah bahasa Indonesia. Mereka menuliskan bahasa Indonesia seenaknya dan sama sekali tidak peduli dengan kaidah bahasa kita. Untuk itu diperlukan peran guru sebagai pemandu. Sayangnya, masih sedikit guru yang melek internet, sehingga dibutukan gerakan guru melek internet dan senang menulis.

Sebagai salah seorang pengajar mata pelajaran TIK di SMP, hal  di atas itulah yang saya lakukan. Sebagai guru saya berusaha untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Saya pun mengumpulkan alamat link blog peserta didik dalam sebuah blog agreagator di http://materi-tik-smp.blogspot.com/. Dengan begitu, saya bisa memantau tulisan-tulisan mereka, dan mengambil tulisan terbaik untuk diterbitkan dalam majalah sekolah yang bernama GEMA SMP Labschool Jakarta.

Tulisan para siswa sangat inspiratif sekali, dan sebagai guru saya harus mengapresiasikan karya tulis mereka dengan memasukkannya dalam majalah sekolah yang dicetak setiap semester satu kali. Merekapun sangat senang, karena tulisannya masuk dalam majalah sekolahnya. Mari bangga berbahasa Indonesia. Bahasa yang mempersatukan bangsa Indonesia. Katakan kepada dunia, “I love Bahasa Indonesia”. Saya cinta Bahasa Indonesia.

http://4.bp.blogspot.com/-k559MEzsdWs/T6i9lJ9sgBI/AAAAAAAAAE8/kiOYrfkZkrE/s1600/DSC_0389.JPG

Kunjungan siswa ke Luar negeri, tetap mempertahankan budaya bangsa, dan memperkenalkan bahasa Indonesia kepada masyarakat dunia

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kunonya Rekapitulasi Pilpres, Kalah Canggih …

Ferly Norman | | 22 July 2014 | 07:48

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Kompasiana-Bank Indonesia Blog Competition …

Kompasiana | | 27 June 2014 | 16:59

Siku Sudut Unik Candi Dadi Tulungagung …

Siwi Sang | | 22 July 2014 | 12:11

Bukan Dengkuran Biasa …

Andreas Prasadja | | 22 July 2014 | 10:45


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 6 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 7 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 7 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 8 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: