Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Najib Yusuf

Seorang Mahasiswa, bercita-cita menjadi Presiden… Yakin Usaha Sampai http://www.bangnajib.com http://najibyusuf.blogspot.com selengkapnya

Tafsir Surat Al-Ma’un

OPINI | 12 August 2012 | 12:23 Dibaca: 2805   Komentar: 4   1

Pada tahun 1956 seorang satrawan Indonesia melahirkan sebuah karya sastra monumental berjudul Robonya Surau Kami, boleh jadi ini hanya sebuah kumpulan-kumpulan cerpen A.A Navis yang fiktif, tetapi karya-karya Navis nampaknya cukup relevan menggambarkan realitas Sosial masyarakatnya, dan mungkin kini. Sebagai karya sastra potret sosial  yang diangkat Navis begitu menohok, sastrawan yang terkenal ceplas-ceplos ini pandai menusuk jantung siapa yang di kritiknya. Walaupun hanya terinspirasi (devinely inpiring) oleh kondisi masyarakatnya tetapi yang ditulis Navis dalam kehidupan nyata menurut saya masih ada hingga kini (devinely authentic). Bagi saya generasi yang lahir 33 tahun setelah terbitnya Robohnya Surau kami surat Al Ma’un bisa menjadi kesimpulan sekaligus jawaban atas kritik sosial Navis yang akan saya tulis di pembahasan berikutnya.

Cerpen “Robohnya Surau Kami” bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil)di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia - si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun.Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya,tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja. (www.wikipedia.org)

Ada dua pesan sederhana yang saya tangkap dari karya Navis ini, pertama adalah seorang yang beragama Islam tidak boleh hanya beribadah secara ‘egois’ dengan hanya memandang bahwa beribadah hanya hubungan transenden saja dengan Allah SWT (Hablumminallah) yang dilakukan dengan cara menggugurkan kewajiban ibadah ritual. Padahal ibadah yang absolutely juga berhubungan dengan hubungan bermasyarakat (Hablumminannas). Filsafat beribadah bukan hanya mengajarkan bahwa manusia diturunkan untuk beribadah kepada Allah saja “Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz –Dzariyat: 56 ) tetapi Allah juga menciptakan manusia sebagai pemimpin dunia “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”.” (QS Al Baqarah : 30). Fungsi kedua ini sangat erat kaitannya dengan muamalah, serta mendorong ummat Islam menguasai berbagai ilmu keduniaan serta berkontribusi dalam bermasyarakat.

Pesan kedua yang saya simpulkan dari cerpen Robohnya surau kami adalah bahwa Navis berpesan secara ekspilis bahwa surau sebaiknya tidak untuk sholat saja, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Pada konferensi (World Conference on Religions for Peace) KH Hasyim Muzadi juga mengungkapkan kekhawatiran sama dengan Navis bahwa Ummat Islam banyak membangun masjid tetapi sedikit membangun rijalul masjid.

Surat Al-Ma’un mengandung arti yang sangat indah, Al-ma’un bermakna perbuatan cinta kasih, sebagai penegas tujuan diturunkannya agama Islam yaitu sebagai rahmatan lil alamin (pembawa cinta). Al Ma’un juga membawa pesan bahwa ummat Islam yang benar agamanya (bukan pendusta agama) sangat peduli terhadap peraikan nasib sesama, memberikan pertolongan pada dhu’afa, anak yatim dan kaum tertindas, menjadi masyarakat yang tidak sombong dan tidak riya. Indah sekali bagi siapapun yang membaca wajah ummat Islam yang dicita-citakan oleh ayat ini.

1344731199183069802

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang

( 1 ) Tahukah kamu ( orang ) yang mendustakan agama? ( 2) Itulah orang yang menghardik anak yatim, ( 3 ) dan tidak menganjurkan memberi makan fakir miskin. ( 4 ) maka celakalah bagi orang yang sholat ( 5 ) ( yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, ( 6 ) orang yang berbuat riya, ( 7) dan enggan ( menolong dengan ) barang yang berguna.

Sebab turunnya surat Al-Ma’un berdasarkan pada riwayat Ibnu Mudzir ialah berkenaan degan orang-orang munafik yang memamerkan shalat kepada orang yang berirman; mereka melakukan shalat dengan riya’, dan meninggalkan apabila tidak ada yang melihatnya serta menolak memberiakn bantuan kepada orang miskin dan anak yatim ( Riwayat ibnu Mudzir ).

Ayat pertama pada surat ini merupakan kalimat tanya Tahukah kamu ( orang ) yang mendustakan agama? Dalam sehari-hari kalimat tanya di awal pembuka pembicaraan biasa kita lakukan bukan karena tidak tahu, tetapi meminta agar pendengar benar-benar memperhatikan bahwa apa yang akan diungkapkan selanjutnya adalah informasi yang penting, dalam teori pendidikan kontekstual learning bertanya di awal sesi belajar memusatkan perhatian siswa. Kalau kita pehatikan ayat-ayat Al quran sebagian bernada menyindir, bertanya, mengancam, memuji itu karena memang Al-quran di turunkan sebagai bentuk komunikasi antara Allah dengan makhluknya, sehingga pertanyaan pertama yang diberikan Allah kepada kita dalam ayat ini wajib diperhatikan. Ayat kedua adalah jawaban lugas dari pertanyaan sebelumnya, bahwa salah satu ciri pendusta agama adalah orang yang menghardik anak yatim

Pada ayat ketiga menurut Prof. Dr. Quraisy Shihab dalam Tafsir Al-quran Al karim menyatakan paling tidak ada 2 hal yang patut disimak dalam ayat 3 surat ini. Pertama ayat tersebut tidak berbicara tentang kewajiban ”memberi makan” orang miskin, tapi berbicara ”menganjurkan memberi makan”. Itu berarti mereka yang tidak memiliki kelebihan apapun dituntut pula untuk berperan sebagai ”penganjur pemberi makanan terhadap orang miskin” atau dengan kata lain, kalau tidak mampu secara langsung, minimal kita menganjurkan orang-orang yang mampu untuk memperhatikan nasib mereka. Peran ini sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun, selama mereka bisa merasakan penderitaan orang lain. Ini berarti pula mengundang setiap orang untuk ikut merasakan penderitaan dan kebutuhan orang lain, walaupun dia sendiri tidak mampu mengulurkan bantuan materiil kepada mereka.

Dari ayat pertama sampai ketiga dalam tafsir kontekstual Alquran yang ditulis H. Ali Yasir menyimpulkan bahwa seseorang yang memilki kelebihan harta tidak boleh jumawa lalu meninggalkan kewajibannya peduli terhadap sesama, ada sebagian orang yang memiliki kekurangan harta merupakan sebuah ujian bagi mereka yang berkecukupan apakah peduli terhadap perubahan nasib anak yatim, dhuafa dan mereka yang kekurangan. Selain itu pada konteks kekinian bagi mereka yang disibukkan oleh dunia sepanjang waktu semestinya memberikan keluangan waktu untuk bermasyarakat, peduli terhadap sesama juga tidak melalaikan Sholat.

Sholat adalah ibadah utama ummat Islam, selain menjadi amal ibadah yang pertama kali dihisab “Sesungguhnya amal yang pertama dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholat, jika sholatnya baik maka ia beruntung dan sukses, jika shalatnya buruk ia akan merugi”. (HR.Turmudzi-413), Sholat sebagai perisai seorang muslim dari perbuatan tercela “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab ( Al-Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar ( keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ankabut ayat 45)

Menurut saya kalimat sindiran ayat 4-5 ( 4 ) maka celakalah bagi orang yang sholat ( 5 ) ( yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, memiliki susunan bahasa yang sempurna, bahwa Sholat menempati posisi penting dalam Islam, tetapi juga bisa menyebabkan kecelakaan memerintahkan kita untuk waspada dan selalu rendah hati bahwa diterima atau ditolak suatu ibada mutlak hak Allah, tidak ada manusia yang diberikan legitimasi menyatakan ibadahnya sudah cukup mengantarkannya pada surganya Allah, sehingga harus terus berusaha. Soal lalai dalam Sholat Suatu hari, Sayyidah Fathimah as bertanya kepada Rasulullah saw, “Yâ Abâtah, apa yang akan didapatkan oleh orang yang melecehkan shalatnya, menganggap enteng kepada shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan?” Rasul bersabda, “Hai Fathimah, barang siapa yang melecehkan shalatnya menganggap enteng kepada shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan, Tuhan akan menyiksanya dengan lima belas perkara. Enam perkara di dunia, tiga pada saat ia mati, tiga lagi pada waktu ia berada di kuburnya, dan tiga perkara pada Hari Kiamat, ketika ia keluar dari kuburnya.”

Pada konteks kekinian menurut saya bisa jadi perhatian kita terutama bagi para politisi yang mempolitisir agama hanya untuk memperoleh dukungan, dengan maksud riya tetapi pada kehidupannya tidak mencermintakan kepribadian islami yang absolutely terutama dalam surat Al Ma’un ini politisi/pemimpin yang tidak kebijakannya tidak mencermirkan kepedulian dan perbuatan cinta kasih terhadap rakyat maka mereka bisa dikategorikan sebagai pendusta agama.

Masih soal lalai dalam sholat Allah berfirman :

Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang meremehkan sholat dan menuruti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesaatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal sholeh? (QS. Maryam: 59-60)

Para ulama mengomentari ayat diatas dengan tafsirnya yang terdapat dalam Ibnu Katsir sebagai berikut :

1. Muhammad bin Kaab Al Quraan Al Qurdly, dan Ibnu Zaid bim Aslam dan Sady yang disebut meremehkan sholat adalah Meninggalkan Sholat ( Tidak sholat )

2. Al Auz, Ibnu Maasud, Ibnu jarir, Ibnu Juraih meremehkan sholat adalah meremehkan waktu

3. Al Hasan Al-Bashri, meremehkan sholat adalah meninggalkan Masjid ( Tafsir Ibnu katsir 3 / 21 )

Secara tegas Saad bin Abi Waqosh menyampaikan “Aku telah bertanya kepada Rasulullah tentang mereka yang melalaikan sholatnya, maka beliau menjawab Yaitu Mengakhirkan waktu , yakni mengakhirkan waktu sholat.”

Kesimpulan

· Surat Al-Ma’un ini adalah penegas bahwa tujuan agama Islam diturunkan adalah sebagai pembawa cinta pada alam semesta sehingga kepribadian Muslim adalah mereka yang penuh cinta kasih terhadap semua aspek-aspek yang ada di alam semesta ini.

· Kaum muslimin secara individual maupun kolektif dituntut mampu menyeimbangkan antara hablumminallah dengan hablumminannas, antara kepentingan duniawiyah dengan ukhrawi dengan maksud mencari ridho Allah

· Setiap ibadah yang dilakukan hanya karena Allah, bukan karena manusia atau maksud-maksud tertentu yang melnceng pada penghambaan kepada Allah seperti motif politik, kekuasaan, ekonomi, dan sebagainya

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 8 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Memenuhi Janjinya Memberantas Mafia …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Milad Himakom UNIFA yang ke-4: Himakom Dulu, …

Komunikasi Universi... | 8 jam lalu

Setelah Kelas Ibu Hamil, Ada Kelas Balita …

Imma Firman | 8 jam lalu

Positif Mengkritik Santun Memberi Saran …

Ferra Shirly | 8 jam lalu

Robohnya Kampus Kami …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: