Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Giuslay Zone

"Menjadi diri sendiri bagi semua". Asal dari Kurubhoko - Flores. SD, SMP dan SMU diselesaikan selengkapnya

Paul Ricoeur: Identitas, Narasi, dan Pendidikan

OPINI | 13 August 2012 | 21:45 Dibaca: 206   Komentar: 0   1

Identitas dan narasi (cerita) termasuk dalam salah satu pokok pemikiran dari Paul Ricoeur. Menurut Paul Ricoeur, identitas mengambil bentuk yang problematis karena identitas memiliki dua sisi atau model. Paul Ricoeur mencoba untuk mempersiskan kedua model atau bentuk identitas ini, yaitu identitas, yang dari satu sisi dinamakan «identitas idem» dan dari sisi lain dinamakan «identitas ipse».

Apa yang dimaksud dengan «identitas idem» dan apa yang dimaksud dengan «identitas ipse»? Paul Ricoeur mengatakan bahwa yang dimaksud dengan «identitas idem» ialah identitas tentang sesuatu yang tetap dan tidak berubah, sementara penampakkan-penampakan (seperti misalnya «kecelakaan-kecelakaan») selalu berubah. Model filosofisnya, dalam istilah tradisional, ialah substansi. Substansi adalah lapisan bawah atau dasar (latin: substratum), sokongan, dukungan, identik dalam arti kekal, tetap dan abadi, yang tidak dapat berubah, yang dihapus dari waktu (tidak termasuk dalam waktu). Identitas substansial ini dapat juga direalisasikan di bawah bentuk identitas struktural. Sebagai contoh, kode (susunan yang teratur) genetik kita tetap sama dari lahir sampai mati, seperti satu spesies tanda biologis. Kita memiliki contoh dari «identitas idem»: identitas struktur, identitas fungsi, dan identitas hasil. Dengan demikian jelas bahwa, «identitas idem» ialah substansi dari «sesuatu» atau «seseorang» karena mengindikasikan ketidakberubahan dan bersifat tetap, kekal.

Sebaliknya «identitas ipse» tidak berimplikasi pada ketetapan seperti pada «identitas idem», tetapi mengindikasikan suatu perubahan, mengandung variabilitas perasaan, ada kecenderungan, keinginan, dll. Sebagai contoh dari «identitas ipse»; identitas diri saya sendiri ketika saya membuat janji. Janji, yang saya buat buat adalah contoh yang paling jelas, karena saya tidak mempunyai sesuatu untuk dilakukan (dalam kasus subyek yang menjanjikan), dengan suatu identitas substansial, sebaliknya, saya memenuhi janji saya meskipun terdapat perubahan-perubahan suasana hati saya. Ini adalah identitas yang akan dapat kita sebut dengan pemeliharaan, lebih daripada nafkah hidup (subsistence). «Saya adalah saya dan saya masih tetap sebagai diri saya sendiri, meskipun saya tidak lagi identik, meskipun saya terus diubah dari waktu ke waktu dan terus berubah di dalam waktu». Substansi janji akan tinggal tetap tetapi ipsenya akan terus berubah di dalam waktu.

Berdasarkan pada konsep tentang kedua identitas di atas, Paul Ricoeur akhirnya menghubungkannya dengan «waktu»: satu adalah hubungan dalam beberapa bentuk kekekalan, ketidaktetapan, dan yang lainnya berkaitan dengan natural. Paul Ricoeur menyebut «identitas naratif», yang ingin mengatakan dengan mana bahwa identitas dari suatu subyek, mampu menjaga sebuah janji, disusun sebagai identitas dari sebuah karakter cerita. Maksudnya ialah bahwa kedua identitas tersebut bukanlah hal-hal yang hanya tinggal permanen dalam diri manusia, tetapi menjadi «identias yang dinarasikan» atau «identitas yang diceritakan» kepada yang lain dalam hidup. Karena itu, identitas personal itu selalu harus dinarasikan kepada orang lain yang kita hadapi dalam keseharian hidup kita. «Saya sebagai pribadi memiliki identitas idem, yaitu sebagai substansi, alas, dasar, atau penopang dan itu ditampakkan (walaupun tidak menyeluruh) dalam identitas ipse yang berbentuk rangkaian seluruh kejadian dalam perjalanan (semacam auto-biografi) kehidupan. Rangkaian kejadian dalam auto-biografi inilah yang dilihat sebagai narasi atau cerita (yang terus bersambung) yang juga sekaligus membangun dan memformat diri dan pribadi kita secara terus.

Hal yang paling penting yang ingin ditegaskan oleh Paul Ricoeur adalah dialektika dari dua identitas tersebut: «identitas idem» dan «identitas ipse». Dapat dikatakan bahwa «identitas naratif» – yang hadir dalam cerita-cerita besar atau ditafsirkan oleh kita, diuraikan dalam kehidupan – berosilasi antara kutub identitas besar: yang kekal atau tidak berubah dan yang eksis hanya anugerah-anugerah kepada kehendak untuk mempertahankannya, seperti ketika dipertahankan sebuah perjanjian.

Dalam konteks pendidikan, Paul Ricoeur memberikan sumbangan besar yaitu dalam kaitan dengan «pendidikan dan penarasian». Aksi kependidikan harus dimengerti sebagai tindakan yang rentan (sensitif) untuk diceriterakan, atau untuk menciptakan sebuah sejarah yang pantas diceriterakan. Pendidikan dan terdidik masing-masing memiliki identitasnya, memiliki sejarahnya, memiliki idem dan ipse-nya. Dalam proses pembelajaran, pendidik (dan juga terdidik) harus mampu melihat masing-masing identitas ini. Karena itu, proses pembelajaran adalah kesempatan di mana seluruh peserta berkesempatan «membuka dan mempresentasikan» narasinya masing-masing. Setiap narasi yang melekat dalam setiap pribadi, baik langsung maupun tidak langsung, menjadi masukan dan teks pelajaran bagi orang lain yang hadir ketika teks narasi itu dipresentasikan. Paul Ricoeur juga menekankan bahwa seluruh pengalaman pribadi adalah teks-teks narasi, yang sekaligus menjadi «income» bagi orang lain ketika mereka mendengarkan dan merasakan. Proses pembelajaran adalah seni «bercerita» dan ketika terjadi «penceritaan» maka sekaligus juga terjadi «seni pertukaran pengalaman» dan pengalaman yang diceritakan menghadirkan identitas dari setiap pencerita.

Pertanyaannya ialah, manakah auto-biografi yang perlu dan ingin diceritakan? Tentu saja itu adalah identitas kita, baik yang berada secara substansi maupun yang berada dalam peristiwa-peritiwa sejarah kita. Memang setiap orang memiliki auto-biografi masa lalu yang perlu diceritakan, tetapi dalam proses pembelajaran, perlu juga menciptakan narasi baru atau «narasi etika» yang dibangun bersama dalam kelompok belajar. Kebersamaan dalam pembelajaran adalah sebuah sejarah yang akan dinarasikan sejak ketika proses itu terjadi. Karena itu seperti dikatakan Paul Ricoeur, «waktu dan cerita» memiliki hubungan yang sangat erat dengan setiap kehidupan kita. Cerita berada di dalam waktu dan kejadian dalam waktu itu akan diingat dan diceritakan. Kegiatan pendidikan yang terjadi dalam waktu harus menciptakan sebuah cerita yang mampu mengubah sejarah pada masa depan yang lebih positip dan baik. Bagaimana dengan proses pendidikan kita?

(tulisan ini pernah dimuat di blog pribadi: http://giuslay.wordpress.com/2010/12/11/paul-ricoeur-identitas-narasi-dan-pendidikan/

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 3 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 12 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Anggota DPR Baru (Dilantik) Jangan Korupsi …

Wardah Fajri | 7 jam lalu

Selamat Bertugas Wakil Rakyat yang …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Belajar Mudah Standup Comedy …

Thamrin Dahlan | 7 jam lalu

Pelantikan Anggota DPR-RI dan Rupiah yang …

Benediktus Andre Se... | 7 jam lalu

Dekret (Ngobrol dari Pinggiran) …

Tasch Taufan | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: