Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Icha_nors

Berhenti melihat jam/waktu dan mulai melihat dengan mata

Lebaran, Momentum Bagi Pemenuhan Kualitas Ibadah

OPINI | 13 August 2012 | 23:14 Dibaca: 168   Komentar: 14   7

Tak terasa sebentar lagi Ramadhan meninggalkan kita tanpa seorang pun sanggup untuk menahannya. Momen melipatgandakan pahala seperti di bulan suci tak akan ada lagi di bulan-bulan lain.

Sayang sekali masih saja ada bahkan banyak yang bersikap acuh tak acuh terhadap kehadiran bulan suci ini, terbukti dari sikap dan tampilan sebagian saudara-saudara kita yang dengan telanjang tanpa rasa malu menampakkan kevulgarannya enggan melakukan perintah agamanya. Pemandangan miris ini saya temui di jalan-jalan, mall dan beberapa tempat umum lain.

Saya tidak membahas mereka yang non muslim. Lha wong jelas-jelas berbusana muslim, berjilbab koq tanpa rasa pekewuh sedikitpun menyantap makanan dengan lahapnya di siang hari bolong. Entah motif apa yang ada dalam benaknya. Ada juga sepasang muda-mudi jalan bergandengan sambil menikmati ice cream di gerai pakaian dan lagi-lagi si gadis juga berjilbab, naudzu billah…

Tanpa penyesalan dan duka, mereka menggerus kesakralan Ramadhan dengan mempertontonkan perilaku menyimpang, mendemonstrasikan keenggananannya berpuasa. Anehnya rata-rata dari mereka melakukan semua ini dalam rangka mempersiapkan datangnya lebaran. Lebaran? Apanya yang “lebar?”

Kata lebar diadopsi dari bahasa Jawa yang berarti rampung, usai. Yang dimaksud tentu saja usai melakukan ibadah di bulan Ramadhan. Otomatis yang berhak berlebaran adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban dan amalan-amalan sunnah di bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan mewajibkan manusia tidak hanya meninggalkan makan dan minum di siang hari tapi juga diperintahkan untuk mengendalikan dan mengekang hawa nafsu termasuk nafsu belanjakan atau menasarufkan uang secara berlebihan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Ingatlah, ada yang berhak atas sebagian harta kita yaitu tetangga, fikir miskin. Jangan sampai kegilaan memburu barang-barang keperluan lebaran mengalahkan empati berbagi dengan para dhuafa.

*****

Ramadhan segera berlalu, hari raya Idul fitri menjelang. Orang-orang begitu antusias menyambut datangnya hari kemenangan. Dengan pakaian terindah dan raut wajah berseri-seri berbondong-bondong ke Masjid menunaikan sholat ied. Namun sebenarnya ada tangis tak terbendung karena kesempatan emas selama satu bulan penuh tak digunakan secara efektif. Peluang yang hanya datang satu tahun sekali terbuang sia-sia.

Hari boleh berganti hari, bulan berganti bulan, tahun demi tahun boleh bekali-kali terlewati namun lebaran tetap fenomenal. Semangat berlebaran selalu sama, diwarnai hal-hal yang serba baru, aneka hidangan dan jamuan menyambut kunjungan tetamu. Itulah sebagian perwujudan syukur atas anugerah yang telah dilimpahkan Allah dan kemampuan menunaikan kewaiban meski untuk menyatakannya tidak selamanya harus berbentuk fisik material. Sebab lebaran adalah momentum bagi pemenuhan kualitas ibadah yang lebih bisa dibanggakan. “Lais al ‘iedu liman labis al jadied, innam al ‘iedu liman tho’atuhu mazid.”

Merefleksikan berlebaran dengan selalu mengulurkan tangan dan melapangkan dada sambil mengucapkan minal aidin wal faizin adalah ungkapan yang menyatakan do’a semoga memperoleh ampunan dan keridhaan Allah serta kebahagiaan, patutlah dinyatakan dengan harapan kembali suci dan kembali sebagai pengamal agama yang sejati.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: