Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muwaffiqol Fahmi

Freelance Intelligent. Student of USBI (Universitas Siswa Bangsa Internasional) majoring in Finance Management.

Mau Jadi Guru yang Baik? baca deh

OPINI | 14 August 2012 | 14:21 Dibaca: 3385   Komentar: 0   1

GURU DENGAN FILOSOFI AYAH DAN IBU

13449539411841665318

Guru yang baik itu adalah guru yang membukakan pintu rumahnya ketika tengah malam seorang siswa dengan lelehan air mata mendatanginya. Mungkin kedengarannya lucu, tetapi menurut saya itu bisa menjadi parameter penilaian sudah baik belumkah seorang guru.

Sekarang kita berbicara tentang baik dan buruk dulu sebelum menelisik lebih jauh. Ada orang yang mengatakan baik buruk itu relatif karena perbedaan pendapat dan pro-kontra yang memang banyak terjadi dalam kehidupan kita. Namun ada juga yang mengatakan bahwa baik buruk itu absolut yang berarti keduanya dipisahkan oleh satu batas yang jelas dan mampu membuatnya terlihat benar-benar berbeda. Anda percaya yang mana? Kalau dalam hal menilai guru saya lebih memilih pendapat kedua yang mengatakan baik buruk itu absolut. Mengapa? Karena ada benang merah yang jelas disini.

Fungsi guru adalah sebagai pendidik bagi para siswanya, tujuan dari pendidikan bukan hanya membuat siswa mampu membedakan mana yang benar, mana yang salah atau mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi juga membuat siswa mau dan mampu mengikuti yang benar dan yang baik itu, sehingga kedepannya mereka mampu menghadapi setiap permasalahan dalam hidupnya dan menjadi manusia yang berguna. Disinilah guru memiliki peran penting. Disadari atau tidak, guru adalah teladan bagi para siswanya. Jadi untuk mendidik siswa-siswa menjadi baik, gurunya juga harus baik.

Setelah menganalisa berbagai pelajaran yang saya dapatkan dari guru-guru saya, saya meringkas dua hal utama yang wajib disampaikan guru kepada siswanya agar siswa mau dan mampu mengikuti kebaikan dan kebenaran. Dua hal itu adalah inteligensi dan kasih sayang. Saya mengistilahkan inteligensi itu sebagai filosofi ayah dan kasih sayang sebagai filosofi ibu.

Selama ini fokus utama kebanyakan guru adalah pada filosofi ayah, yaitu bagaimana siswa-siswa mereka mampu mengerjakan soal-soal dengan benar sehingga nanti nilai ujian nasional mereka bisa tinggi. Karena memang sistem pendidikan Indonesia menuntut seperti itu, sehingga akhirnya banyak guru yang kehilangan filosofi ibu yang seharusnya mereka miliki. Bayangkan saja selama sekitar delapan jam siswa berada di sekolah, sekitar 85% waktu itu digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran akademik yang porsinya banyak dan berbobot, karena kurikulum KTSP yang kita pelajari adalah kurikulum tersulit nomor 2 sedunia setelah Belanda.

Jadi wajar saja kalau dewasa ini banyak siswa yang bertindak tidak benar dan tidak baik seperti berciuman hingga free seks, mabuk-mabukan hingga nge- drugs, tawuran hingga membunuh, dan yang lebih parah adalah berani kepada guru bahkan orang tua di rumah. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena mereka kurang kasih sayang dan perhatian. Delapan jam disekolah mereka tidak mendapatkan kasih sayang nyata dari guru yang fokus menyampaikan materi akademik, kemudian delapan jam lagi di rumah mereka harus mengerjakan tugas dari guru, atau bermain computer, atau melakukan pekerjaaan lainnya, dan berinteraksi dengan orang tua. Itupun kalau orang tua mereka sedang berada di rumah, kalau tidak?

Kurangnya kasih sayang dan perhatian yang diberikan guru kepada para siswanya tidak hanya berdampak pada perilaku siswa di luar kelas, tetapi juga didalam kelas. Mereka jadi sulit menerima materi pelajaran yang disampaikan gurunya. Sebab itulah saya berpendapat bahwa guru yang baik itu adalah guru yang memiliki filosofi ibu untuk mengajar siswanya yaitu dengan memberikan kasih sayang dan perhatian yang siswa butuhkan, karena dampak baiknya akan sangat besar walaupun kedengarannya sederhana. Lantas bagaimana guru mengaplikasikan filosofi ibu? Inilah tiga hal dasar dan satu hal yang mendasari ketiganya yang menurut saya akan membentuk guru yang baik.

Tidak memberikan label nakal

Saya berani mengatakan kalau semua siswa itu nakal. Tetapi nakalnya berbeda-beda, ada yang nakal suka melanggar peraturan sekolah tetapi tidak pernah mabuk, ada juga sebaliknya, nakal mabuk-mabukan tetapi tidak pernah mencontek ketika ulangan, atau malah ada juga yang nakal suka mengkritik kebijakan sekolah tetapi selalu belajar dengan tekun. Begitu beragam kenakalan siswa dan saya yakin semua siswa pasti memiliki kenakalannya masing-masing. Sebab itulah guru yang baik pasti tidak akan memberikan label nakal kepada seorang siswa, karena semua siswa itu memiliki kenakalannya sendiri-sendiri.

Pelabelan siswa sebagai siswa yang nakal tidak akan membuat siswa itu menjadi baik, tetapi malah akan membuatnya menjadi lebih nakal. Misalnya ketika menemukan siswanya minum minuman keras di kamar mandi, seorang guru yang baik akan berkata “Sebenarnya kamu ini anak yang baik, tapi mengapa kok melakukan tindakan yang tidak baik?”, nasihat itu jauh lebih baik dan untuk membuat siswa itu menjadi baik dan sayang kepada gurunya karena dia merasa diperhatikan. Bukan seperti guru yang langsung memarahi habis-habisan siswa itu lalu memanggil orang tuanya untuk datang ke sekolah dengan tujuan agar siswa itu kapok. Bukannya kapok, malah siswa itu jadi kebal hukuman.

Jadi melabeli siswanya sebagai siswa yang baik adalah salah satu pemberian kasih sayang yang sangat sederhana oleh guru sebagai implementasi filosofi ibu.

Mau mendengar

Ketika seorang guru menanyakan tentang tugas kepada siswanya, kemudian siswa itu menjawab belum mengerjakan, kebanyakan guru akan langsung menghukum siswa itu. Tanpa peduli dengan keadaan siswanya. Guru seperti itulah guru yang tidak mau mendengarkan siswanya, sehingga siswa pun pada akhirnya tak akan mau mendengarkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh gurunya, karena seperti itulah yang dicontohkan oleh guru mereka. Namun ceritanya akan berbeda ketika guru itu mau mendengarkan siswanya, dengan menanyakan seperti; “Tumben kamu tidak mengerjakan tugas, padahal sebenarnya kamu bisa kan mengerjakannya saya tahu kemampuan kamu, kamu anak yang pintar” (walaupun sebenarnya siswa itu juga tidak pintar). Pasti siswa itu akan menceritakan alasannya seperti; “Ibu saya sedang sakit di rumah bu, ayah saya bekerja di luar kota dan hanya pulang satu bulan sekali, saya harus memasak untuk ibu dan dua adik saya yang masih kecil, saya tidak sempat pergi ke warnet untuk mencari bahan tugas ini bu”. Atau jika memang siswa itu sengaja tidak mengerjakan, dia pasti dengan rasa bersalah (bukan rasa terpaksa) akan minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Mau mendengarkan pendapat siswa tentang materi yang guru ajarkan juga akan memberikan kesan kalau guru itu menghargai siswanya. Baik menghargai pemikirannya maupun keberaniannya untuk menyampaikan pendapat. Walaupun mungkin pendapat siswa itu tidak bisa diterima oleh guru, hal itu akan membuat siswa senang karena mereka merasa dihargai. Pada akhirnya siswa itu juga akan sangat menghargai gurunya.

Guru yang mau mendengarkan siswanya akan membuat siswa itu merasa nyaman ketika berada di dekatnya, dengan begitu siswa akan sangat menghargai nasihat-nasihat yang dikatakan oleh gurunya. Mau mendengarkan adalah bentuk pemberian kasih sayang oleh guru yang paling sederhana ke-dua sebagai implementasi filosofi ibu.

Fokus

Tak perlu kita ragukan lagi bahwa dengan fokus sebuah energi yang sedikit bisa sangat besar kekuatannya. Seperti energi sinar matahari yang mampu membakar tumpukan soal-soal ujian ketika difokuskan dengan lup. Begitu juga guru. Ketika seorang guru yang berada di kelas memfokuskan dirinya untuk mendidik siswanya, maka tanpa menguras banyak energi anak didiknya lebih mudah memahami apa yang guru itu sampaikan. Fokus dalam hal ini yaitu melupakan urusan-urusan lain yang mengisi pikiran guru itu. Seperti laporan keuangan, janji dengan teman, rapat dengan kepala sekolah, menjemput anak sekolah, menghadiri pernikahan saudara dengan suami, dan hal-hal lain mulai dari hal pribadi hingga ke karir yang wajib dipikirkan oleh semua manusia. Walaupun guru yang sedang mengajar itu memiliki urusan yang sangat penting dengan kepala sekolah, berani mematikan ponsel ketika sedang mengajar walaupun guru itu tahu kalau kepala sekolah akan menghubunginya merupakan salah satu contoh pengaplikasian salah satu cara sederhana untuk fokus. Fokus juga tidak berhenti sampai disitu saja, akan menjadi percuma kalau guru itu sudah mematikan ponselnya tetapi pikirannya tetap tertuju pada urusan di luar kelas yang sedang dia hadapi. Disadari atau tidak hal itu juga akan mempengaruhi siswa yang sedang dididik untuk melakukan hal serupa. Yakni ketika guru itu memikirkan hal-hal lain, siswa juga akan memikirkan hal-hal seperti pertandingan sepak bolanya sore nanti, janji dengan kekasihnya untuk jalan-jalan di danau akhir pekan, membantu orang tua menjaga kios, dan hal-hal lain yang juga tidak seharusnya dipikirkan ketika pelajaran.

Dengan fokus, maka guru akan jauh lebih mendapatkan perhatian dari siswanya dan lebih bisa memperhatikan siswanya. Dengan begitu guru tidak memerlukan energi berlebih atau membuang energi dengan percuma untuk mengajak siswanya melakukan hal-hal yang baik dan benar.

Tiga tinjauan mendasar utama yang menurut saya merupakan syarat dasar untuk mengaplikasikan filosofi ibu oleh guru untuk menjadi guru yang baik. Namun, ada satu hal lagi yang juga sangat penting yang mendasari ketiga hal diatas. Karena tanpa hal ini, tidak mungkin ketiga tinjauan diatas bisa dilakukan oleh guru. Percaya atau tidak suka atau tidak coba anda buktikan sendiri dengan mengaplikasikan tiga hal diatas tanpa anda memiliki satu hal yang sangat istimewa ini, saya yakin pasti anda akan gagal walaupun pada awalnya terlihat berhasil. Hal ini adalah ketulusan dan keikhlasan untuk mendidik. Ketulusan dan keikhlasan yang murni terlahir dan tumbuh dari hati seorang guru untuk mengajar pasti akan melahirkan ketulusan dan keikhlasan anak-anak didiknya untuk belajar. Sehingga akan tercipta sebuah hubungan yang harmonis antara guru dan siswa, hubungan harmonis yang akan menciptakan suasana belajar yang nyaman dan bahagia.

Dengan perubahan-perubahan sederhana diatas akan semakin banyak siswa-siswa Indonesia yang menjadi baik, berkarakter, dan berakhlak karena pendidikan guru-guru mereka untuk menjadi manusia yang baik dan berguna karena mengikuti kebenaran yang dikatakan oleh hatinya yang penuh kasih sayang, karena filosofi ibu yang diterapkan oleh gurunya. Terimakasih, selamat hari raya idul fitri, semoga ulasan yang sederhana ini bermanfaat untuk pendidikan dalam peradaban kita yang berkembang pesat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indonesia 0 – 4 Filipina : #BekukanPSSI …

Angreni Efendi | | 26 November 2014 | 00:33

Bom Nuklir Ekonomi Indonesia …

Azis Nizar | | 26 November 2014 | 04:44

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | | 26 November 2014 | 04:01

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 5 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 6 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 11 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 12 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: