Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Agus Santosa

Guru Sosiologi pada SMA Negeri 3 Yogyakarta

Radikalisme Agama

OPINI | 16 August 2012 | 04:46 Dibaca: 281   Komentar: 6   2

Pada kelas Sosiologi yang saya ampu, muncul satu pertanyaan dari murid saya, “Bapak, mengapa agama yang seharusnya menjadi sumber ketenangan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi tak jarang  justru menjadi sumber dan legitiamasi untuk berbuat kekerasan?” Saya terhenyak oleh pertanyaan salah seorang murid saya. Setelah berdiam sejenak, saya menjawab pertanyaan itu sambil memanggil-manggil apa yang ada di memori otak saya tentang radikalisme agama. Dan jadilah jawaban yang ketika saya tuliskan kembali menjadi seperti berikut ini!

Setelah tragedi 11 September 2001, di mana dua pesawat dengan penumpang penuh menabrak gedung kembar WTC (World Trade Center) di New York, AS, istilah radikalisme agama yang sering diidentikkan dengan terorisme banyak digunakan, lebih-lebih setelah peristiwa Bom Bali 12 Oktober 2002.

Dan penggunaan istilah radikalisme atau terorisme sering sengaja atau tidak dialamatkan kepada umat Islam, yang menurut Dr. Ahmad Syafii Maarif, hal ini merupakan semacam kecelakaan sejarah. Menjadi demikian karena memang posisi Islam sebagai kekuatan peradaban sedang berada di buritan.

Umat Islam sangat tersudut, karena pelaku teroris mayoritas beragama Islam dan dalam aksinya selalu menggunakan simbol-simbol Islam. Bahkan, media massa yang didominasi oleh media Barat menuduh Islam sebagai basic Idea dari terorisme, dan pesantren-pesantren yang banyak tersebar di Indonesia dituding sebagai sarang teroris.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan radikalisme?

Dalam sebuah buku sederhana berjudul Islam dan Radikalisme (2004), Rahimi Sabirin menjelaskan bahwa radikalisme adalah pemikiran atau sikap keagamaan yang ditandai oleh empat hal, yaitu: (1) sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, (2) sikap fanatik, yaitu selalu merasa benar sendiri (paling benar), menganggap orang lain salah, (3) sikap eksklusif, yaitu membedakan (memisahkan) diri dari kebiasaan umat Islam kebanyakan, dan (4) sikap revolusioner, yaitu cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan.

Umumnya radikalisme muncul dari pemahaman agama yang tertutup dan tekstual. Kaum radikal selalu merasa sebagai kelompok yang paling memahami ajaran Tuhan, karena itu mereka suka mengkafirkan orang lain atau menganggap orang lain sebagai sesat. Dalam sejarahnya, terdapat dua wujud radikalisme, yaitu (1) radikalisme dalam pikiran, yang sering disebut sebagai fundamentalisme, dan (2) radikalisme dalam tindakan, yang sering disebut sebagai terorisme.

Sejak kapan radikalisme muncul?

Sikap fanatik, intoleran dan eksklusif dalam masyarakat Islam pertama kali ditampakkan oleh Kaum Khawarij sejak abad pertama Hijriyah.  Kaum Khawarij pada mulanya merupakan pengikut Khalifah Ali bin Abu Thalib (sering disebut sebagai kelompok Syi’ah). Sejarah tentang Khawarij berawal dari perang Shiffin. yaitu perang antara pasukan Ali melawan pasukan Muawiyah, pada tahun 37 H/648 H.

Ketika perang berlangsung dan kelompok Ali hampir memenangkan perang, Muawiyah menawarkan perundingan sebagai penyelesaian permusuhan. Ali menerima tawaran Muawiyah. Kesidaan Ali untuk berunding menyebabkan kurang lebih empat ribu pengikut Ali memisahkan diri dan membentuk kelompok baru yang dikenal dengan Khawarij (artinya keluar atau membelot). Kelompok ini menolak perundingan. Bagi mereka, permusahan hanya bisa diselesaikan dengan Kehendak Tuhan, bukan perundingan.  Karena kelompok Ali melakukan perundingan, maka dianggap sebagai kafir, dan dituduh sebagai pengecut. Kafir dan pengecut dipakai oleh kelompok Khawarij untuk kelompok-kelompok moderat. Kelompok Khawarij pun melalukan teror dan kekerasan terhadap orang-orang Islam yang tidak sependapat dengan mereka. Mereka bahkan memasukkan JIHAD sebagai  RUKUN IMAN.  Dan, Ali bin Abu Thalib pun dibunuh oleh seorang Khawarij –Ibnu Muljam– ketika sedang shalat subuh.

Pemikiran dan sikap keagamaan model Khawarij ternyata diteruskan oleh faham Wahabi di Arab Saudi pada abad ke12 H/18 M yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Gerakan ini bermaksud memurnikan ajaran Islam, dan menuduh kaum muslim yang tidak sependapat dengan mereka disebut sebagai Islam sesat, tidak asli, atau menyimpang.

Sampai sekarang, radikalisme Islam terus berkembang. Radikalisme demikian tidak mudah dihilangkan karena terkait dengan pemahaman teologi dan syariat Islam yang kaku. Kekuasaan Barat yang semakin dominan menguasai Islam, menjadikan kekuatan radikalisme ini semakin menguat.

(bersambung ….)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | | 30 August 2014 | 00:43

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 11 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 11 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 16 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 18 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 22 jam lalu


HIGHLIGHT

London in a Day on Foot …

Fillia Damai R | 10 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 10 jam lalu

Mengintip Sekelumit Catatan Umar Kayam …

G | 11 jam lalu

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 12 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: