Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ahmad Zarkasih

http://zarkasih20.blogspot.com

Dilema, Puasa Syawal Dulu atau Qodho Romadhan Dulu Ya?

OPINI | 23 August 2012 | 21:36 Dibaca: 4130   Komentar: 10   0

Pada dasarnya tidak ada ulama dari 4 mazhab fiqih yang mensyaratkan bahwa siapa yang ingin puasa syawal, ia harus menggenapkan puasa ramadhannya terlebih dahulu dengan mengqodho’ puasa yang terlewat. Itu tidak ada. Artinya mereka tidak melarang untuk berpuasa syawal walaupun masih ada hutang ramadhan.

Hanya saja beberapa ulama dari kalangan syafi’iyyah memakruhkan puasa sunnah syawal bagi mereka yang masih punya hutang. Artinya mereka menganjurkan untuk bersegera menunaikan kewajiban qodho’ romadhon dibanding puasa sunnah syawal.

Walaupun sebenarnya tidak mengapa. Karena waktu qodho romadhan ialah bersifat “Tarokhi”, yaitu boleh menunda tidak mesti bersegera karena waktunya sangat panjang. Yaitu dari sejak keluar Ramadhan sampai akhir sya’ban menjelang Ramadhan yang akan datang. Walaupun tetap menyegerakan kewajiban adalah suatu yang baik dibanding menundanya.

Imam Nawawi, petinggi ulama syafi’iyyah mengatakan: “ulama dari mazhab Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan juga Mazhab Imam Ahmad bin Hambal, serta jumhur ulama baik salaf maupun kholaf berpendapat bahwa qodho’ ramadhan bagi mereka yang meninggalkan puasa karena udzur seperti Haidh, ataupun safar (perjalanan) itu hukumnya “Tarokhi” (boleh menunda) dan tidak disyaratkan untuk bersegera mengqodho diawal waktu ketika selesai Ied pada tanggal 2 syawal.” (Syarhu Nawawi Lil-Muslim 8/23)

Para ulama yang menganjurkan sekali agar tidak menunda qodho ramadhan dan mendahulukan qodho dibanding sunnah syawal, melihat bahwa qodho ramadhan itu suatu kewajiban dan puasa syawal ialah suatu sunnah. Walaupun kemuliaan dan fadhilah puasa syawal itu snagat besar tapi hendaklah ia mendahulukan yang wajib.

Karena kita tidak tidak tahu ajal kita kapan akan menjemput. Dikhawatirkan ajal datang lebih dulu tetapi kita belum melaksanakan suatu kewajiban karena kita lebih memilih yang sunnah. Artinya masih ada hutang kewajiban yang belum ditunaikan.

Dan ulama yang menganjurkan dan tidak mempermasalahkan puasa sunnah lebih dulu itu menganut pendapat diawal pembicaraan kita tadi. Bahwa qodho ramadhan itu waktunya sangat panjang, yaitu dari sejak keluar ramadhan mulai tanggal 2 syawal sampai pertengahan atau akhir sya’ban, sebelum memasuki ramadhan tahun depan.

Sedangkan puasa syawal ini waktunya hanya pada bulan syawal, tidak ada syawal lagi setelah syawal ini. Artinya waktunya sangat sempit. Kalau dihabiskan bulan syawal ini untuk menqodho ramadhan, dikhawatirkan kita tidak punya waktu untuk puasa syawal yang akan melewatkan fadhilah dan keutamaan puasa syawal yang amat agung ini.

Jadi ada dua pilihan didepan kita, tinggal dipilih saja mana yang baik buat kita.

Wallahu A’lam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 12 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 14 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 18 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 20 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: