Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Maiyurnis Aisyah

Pendidik di SMAN 1 Bantan Bengkalis RIAU

Guru Sang Penulis, Kenapa Tidak?

OPINI | 23 August 2012 | 12:12 Dibaca: 158   Komentar: 4   2

Menjadi guru sekaligus seorang penulis? Mungkin yang ada dalam benak Anda, ‘bisa saja, kalau gurunya buru bahasa Indonesia, kenapa tidak? Kan sudah punya dasar-dasar ilmunya’. Eit! Tunggu dulu, yang saya maksud disini, semua guru! Ya, semua guru bisa menjadi penulis. Sekali lagi, semua guru bisa menjadi penulis.

Inilah topik utama kita kali ini.

Guru sangat berpotensi untuk menjadi penulis. Beneran…! kalimat ini bukan sekadar kata-kata penghibur belaka. Saya akan ungkapkan kepada Anda betapa seorang guru punya peluang yang sangat besar untuk menjadi seorang penulis.

Sumber ide yang tiada henti.

Hal pertama yang sangat mendukung adalah banyak sekali ide-ide yang bertebaran dalam keseharian seorang guru. Kenapa? Ya. Karena setiap hari guru berhadapan dan berinteraksi dengan banyak sekali siswa, rekan guru dan staf sekolah sampai petugas kantin dengan berbagai tipe dan karakter, dengan berbagai latar belakang keluarga dan budaya. Wow! Ini adalah ladang ide. Apalagi guru-guru yang sudah lama bertugas, sampe puluhan tahun, tentu akan banyak peristiwa-peristiwa berkesan, bermanfaat, bahkan inspiratif, yang akan sayang bila hanya disimpan untuk diri sendiri.

Pengalaman guru sendiri di dalam mengajar bisa juga menjadi bahan tulisan. Kesulitan-kesulitan di dalam pembelajaran, upaya-upaya kreatif di dalam mengelola kelas dan suasana ceria di dalam kelas ketika belajar menjadi menyenangkan, akan sangat di sayangkan berlalu begitu saja bila guru enggan berbagi melalui tulisan.

Kemampuan Dasar Menulis

Suatu hari ….melalui informasi seorang teman di fb , saya membeli sebuah buku, judulnya Cinta Dakwah, dan setelah saya baca eh ternyata ada bonusnya juga. Yaitu gratis mengikuti Pelatihan Menulis Secara On Line. Awalnya sempat ragu. Saya hubungi penulisnya lewat kotak pesan fb;

“Pak AK, saya mau ikut pelatihannya, tapi saya bisa nggak ya?, saya belum pernah menulis, paling juga menulis laporan penelitian”.

“Saya yakin, ibuk pasti bisa! J” balas Pak AK.

Dengan memantapkan diri saya mengikuti pelatihan menulis secara on line tersebut, dan berhasil menyelesaikan sampai tahap akhir. Dan menghasilkan satu buku, ya satu buku! Dengan beberapa tulisan didalamnya, hanya dalam 30 hari.

————

Apa yang ingin saya sampaikan lewat cerita ini? Ya. Jangan remehkan kemampuanAda! Itu intinya. Tidak di pungkiri, bagi sebagian guru, menulis adalah hal yang paling menjadimomok , apalagi guru-guru dengan dasar keilmuan eksakta atau ilmu pasti.

“Saya nggak bisa menulis”,

Saya tidak suka menulis” atau

“Gimana mau menulis, wong hari-hari berkutat sama rumus-rumus aja”. Kalimat inilah yang paling sering kita dengar.

Namun, sekali lagi, jangan remehkan kemampuan Anda!. Seorang guru sudah dibekali ilmu kepenulisan secara umum ketika di bangku kuliah. Sudah biasa menulis laporan-laporan, baik tugas maupun penelitian. Guru juga sudah biasa bercerita, berceramah, menyampaikan materi secara lisan di dalam kelas, berkomunikasi dengan siswa, menggunakan teknik-teknik tertentu agar siswa fokus dan memperhatikan pembicaraannya. Ini semua adalah bekal yang sangat mendukung. Tinggal mengasah dan memindahkannya ke dalam bentuk tulisan. Ibarat pepatah, ’senjata sudah di tangan, tinggal berperang saja.’

Reward yang Menjanjikan

Inilah hal yang paling menggembirakan. Tidak hanya siswa yang suka di berikan reward atau hadiah. Sesederhana apapun bentuknya, bahkan walau hanya dalam bentuk ucapan terimakasih atau pujian. Bagi guru, menariknya, tulisan-tulisan yang sudah dipublikasikan-diluar honor, hadiah atau royalti- adalah penilaian dalam bentuk poin yang akan sangat membantu dalam hal kenaikan pangkat atau jabatan.

Jadi dengan membiasakan diri untuk menulis, akan memudahkan mencapai syarat-syarat kenaikan pangkat plus dapat untung juga. Orang bijak mengatakan, ’sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil menyelam minum susu’..he he.

Wah…jadi semangat menulis nih!

Sarana dan Prasarana yang Memadai

Ibarat mendaki gunung, menulis juga membutuhkan persiapan-persiapan. Di antaranya adalah persiapan logistik. Anda memerlukan logistik berupa alat tulis. Apakah itu pena, buku catatan, Ipad , laptop atau komputer.Dan bisa jadi juga modem dan flashdis atau apa saja yang dibutuhkan untuk menulis. Kemudian Anda juga memerlukan bekal berupa buku-buku bacaan, artikel, majalah, jurnal, essay dan sebagainya yang akan mendukung tulisan Anda.

Dan itu semua sebagai guru, sebagian besar Anda sudah punya! Dan perpustakaan sekolah juga menyimpan banyak buku-buku yang berhubungan dengan kepenulisan ini. Jadi Anda lihatkan betapa Anda punya peluang yang sangat besar untuk menulis! Jangan sia-siakan kesempatan ini. Ayo mulailah menulis!

Tags: penulis guru

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: