Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Nur Hayid

ingin mengabdi untuk kemaslahatan, menjadi sinar bagi gelapnya kehidupan akhir zaman, seperti kanjeng nabi muhammad selengkapnya

Ketika Kematian Itu Semakin Dekat …

REP | 23 August 2012 | 22:18 Dibaca: 726   Komentar: 1   0

Alhamdulillah ya Allah, Segala puji dan syukur hanya bagiMU dan untukMU ya Allah … ruh, jiwa, nafas, badan serta semua kenikmatan yang telah kau berikan kepada kami berupa keimanan kepadaMU, nikmat sehat dan semuanya yang ku tak mampu menghitungnya masih kau jaga sampai detik ini. Tak terasa waktu berlalu, kini ku sudah 32 tahun. Waktu yang tak lagi muda apalagi anak-anak. Banyak cerita, suka cita dan duka lara yang telah kau berikan menghiasi lembaran hidupku selama ini. Ada senyum, tawa, bahagia,
sedih, tangis dan duka lara.

Namun semua itu aku pahami dan yakini hanya sebagai garis-garis takdir dan alur perjalanan hidup yang telah KAU patri di lauh mahfudz sana. Sebagai orang yang beriman kepadaMU ya Allah, aku hanya bisa menyatakan Insyallah, aku termasuk orang-orang yang ihlas dan insyallah aku termasuk orang-orang yang sabar dan tawakkal. Jagalah keihlasan dan tawakkal kami hanya kepadaMU ya rabbi. Karena aku hanyalah hambaMU yang lemah dan banyak khilaf dan penuh dosa, ampunilah kami ya Allah. Allahummagfirlana dzunubana waliwalidaina warhamhuma kama robbayani soghiro …

Ya Allah, kini aku bukan lagi diriku yang bebas ke manapun aku pergi. Aku bukan lagi orang yang bisa melakukan apa saja semau gue. Dan bukan lagi anak-anak yang setiap saat merengek ke orangtuanya jika ingin sesuatu. Kini aku telah menjadi manusia dewasa, seorang suami dari istriku tercinta yang sabar dan luar biasa. Kini aku ayah dari 3 putriku yang cantik dan pintar nan cerdas. Dan kini aku sudah menjadi manusia mukallaf (tanggungan), tak hanya dalam pengertian agama, tetapi juga mukallaf atas persoalan umat dan bangsa.

Ya Allah, sepanjang hidup yang telah kau berikan selama ini, hingga umurku yang ke 32 ini, memang telah ku lalui dengan penuh dinamika. Ada fluktuasi keimanan, ada pasang surut semangat dan ada inflasi dan deflasi rizki dan nikmatMU dan beribu warna, cita rasa saat menjalani kehidupan ini. Ada senang karena nikmat yang kau limpahkan kepada kami, ada sedih atas ujian yang kau berikan kepada kami. Ada bahagia saat kau berikan kesenangan kepada kami, tapi juga ada duka lara saat kau uji dengan kenistaan dan fitnah kepada kami.

Namun sekali lagi ya Allah, aku ihlas menjalani semua itu. Karena aku yakin semua itu adalah kehendakMU dan jalan takdirMU. Nikmat yang telah KAU berikan kepada kami sunguh sunguh sunguh sangat luar biasa buuuaaannyaaak dan tak terhitung. Bahkan nikmat yang begitu besar dan buanyak itu, tak pernah kubayangkan akan sebanyak itu saat aku masih belepotan tanah ketika membantu orangtuaku di ladang saat itu. NikmatMU yang begitu besar yang kami rasakan saat ini tak terbayang pula saat kami bersimbah, bersujud dan bersimpuh di hadapanMU ketika tengadah tangan dan tetesan air mata ini mengalir saat bedoa dan meminta keridloan kepadaMU.

Engkau sungguh maha rahman dan rahim ya Allah. Engkau maha pemurah dan lagi maha penyayang ya Allah. Ya Allah, saking banyaknya nikmat yang telah kau curahkan kepada kami, di umurku yang 32 ini aku sudah dapat merasakan kehadiranMU secara nyata. KAU sudah hajikan aku di umur yang relatif muda, 28 tahun. Kau sudah kelilingkan aku di seluruh Indonesia, kau sudah penuhi keinginanku belajar di negeri yang berbahasa asing bagiku, kau sudah berikan kami ’surga dunia’, istri yang cantik dan keturunan yang cantik, sehat dan pintar-pintar, kau berikan aku keluarga yang luar biasa teman serta sahabat yang beraneka ragam, dari presiden, menteri, para pejabat sampai tukang becak dan kiai. Dan kau berikan banyak lagi yang lain yang tak mampu aku sebutkan karena sungguh nikmatMU sangat banyak, mulai nikmat sehat, nikmat Islam, iman dan hidayahMU serta nikmat ilmu dan lainnya, ‘wain tauddu nikmatallahi la tuhsuha’.

Karenanya, Ya Tuhanku, jika kau telah uji kami dengan berbagai fitnah dan kesukaran hidup, itu sungguh tak ada apa-apanya dibanding kenikmatan yang telah kau berikan kepada kami. Sungguh aku malu jika hanya karena ujian dan fitnah seperti itu membuat aku berputus asa dengan rahmat dan magfirahMU. Sementara aku tahu ujian kepada hamba-hambaMU yang kau cintai dan kasihi jauh berjuta kali lipat lebih dahsyat dari yang kau ujikan kepada kami, dan apa yang mereka lakukan? Mereka sabar dan ihlas menerima dan menjalaninya ya Allah. Aku jadi ingat betapa berat dan besarnya ujian yang KAU berikan kepada Nabi kholilullah, Ibrahim Alaihissalam.

Di usianya yang renta dan hanya berharap keturunan satu-satunya (sebelum dikaruniai Nabi Ishak AS), Nabi Ismail Alaihissalam sebagai penerusnya untuk menyeru kepada tauhid, KAU malah uji beliau dengan ujian maha dahsyat harus menyembelih anaknya sendiri dengan pisau dan tangannya sendiri. Padahal anak ini harapan besar dan yang selalu dirindukan karena telah ditinggal bertahun-tahun di lembah gersang bersama ibunya, Siti Hajar di tempat yang saat ini paling diberkahi Allah, Makkatul Mukarramah. Bayangkan, betapa berat dan amat pedihnya ujian itu? Namun karena kecintaan dan keimanan yang sempurna kepadaMU, sang nabi pilihan ini pun menjalankan semua perintahMU dengan ihlas dan khusyuk.

Aku jadi ingat bagaimana sabar dan tawakkalnya sang Nabi Ayyub yang kaya raya, dihormati, lalu KAU uji dengan kemiskinan, kenestapaan karena semua yang dicintainya hilang dan mati, sampai sebuah penyakit aneh dan menjijikkan hingga semua orang mengusirnya, tinggal hanya istri tercinta Rahmah yang menemani tinggal dalam gua (yang sekarang katanya berada di daerah Irak, atau ada juga pendapat gua itu sekarang ada di daerah Turki) karena mengucilkan diri. Namun beliau sabar dan tawakkal serta tak mau berputus asa kepada Allah. Justru ketika istri satu-satunya yang menemani menyarankan untuk sang nabi berdoa meminta kesembuhan kepada Allah, sang nabi malah mengusir istrinya, karena berdoa meminta kesembuhan itu adalah tanda kita tak sabar dan ihlas dengan cobaan. Apa kata sang nabi, aku malu memohon agar ujian ini dihilangkan, karena nikmat yang telah diberikannya kepada kami jauh lebih banyak dan besar. Sunguh tak sebanding kenikmatan selama 70 tahun yang diberikanNYA aku tukar dengan ketidaksabaran atas ujian yang hanya 7 tahun ini. Malu aku dengan Tuhanku, kata sang nabi kepada istrinya yang lalu meninggalkannya karena tak kuat dengan bujuk rayu syetan juga. Subhanallah …

Aku jadi ingat bagaimana sabarnya dan tawakkalnya Nabi Ya’kub saat kehilangan anak tercintanya Nabi Yusuf karena dibuang oleh saudara-saudaranya. Sampai-sampai beliau buta karena setiap hari menangis karena sedih dengan ujian hilangnya sang putra yang diketahuinya memang kelak akan menjadi nabi dan penyeru jalan tauhid. Tak malukah diri ini akan kesabaran Nabi Yusuf saat difitnah oleh Zulaikha sang permaisuri raja yang kesengseng habis dengan ketampanan sang nabi, dan bahkan karena fitnah ini, sang nabi harus mendekam di penjara dan dibawah ancaman hukuman mati karena tuduhan mengoda istri sang raja. Dan juga kesabaran beliau sang nabi saat dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya yang hasud dan dengki kepadanya karena paling disayang dan dicinta oleh ayahnya.

Aku jadi ingat bagaimana Rasulullah SAW begitu sabar dan tawakkalnya beliau saat difitnah, dikejar-kejar dan mau dibunuh kaum kafir dan musrik Qurais pimpinan Abu Jahal dan Abu Lahab, diludahi, dilempari batu, dikhianati, dianggap gila dan sinting serta giginya rontok karena berperang membela agamaMU. Namun Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW begitu sabar dan tak mundur kendur selangkahpun mengajarkan wahyu dan perintahMU serta ihlas menjalani semua ujian itu dengan senang dan senyuman bahagia di bibirnya. Dan banyak lagi keteladanan yang KAU terangkan dalam ayat-ayatMU dan hadis rasulMU serta kisah-kisah hambamu para auliya, syuhada dan sholihin.

Maka pantaskah aku tak merasa malu jika ujian dan fitnah yang kau gariskan kepadaku aku balas dengan marah, dan berkeluh kesah serta menyalahkanMU? Tak hinakah diri ini jika dalam menghadapi ujian darimu aku malah bermaksiat kepadamu? bukan malah bertaubat dan kembali ke dekapanMU dengan ihlas, sabar dan tawakkal menjalani semua itu sebagaimana kesabaran, keihlasan dan ketawakkalan Nabi Ibrahim,Nabi Ismail, Nabi Syuab, Nabi Ayub, Nabi Yusuf, Nabi Muhammad SAW dan para waliyullah? Jika tak ada rasa malu itu pada diri ini, maka sungguh kita termasuk orang-orang ya dzolim, merugi serta kufur nikmat. Rabbana dzolamna anfusana, wainlamtagfirlana watarhamna lanakunanna minalkhosirin.

Karena itu ya Allah, aku ihlas, aku ridlo dan aku senang atas semua ujian dan takdir yang telah KAU gariskan kepada kami. Namun, sebagai hamba yang hina dan lemah ini, perkenankanlah aku meminta, Robbana la tuakhidna in nasina au akhthokna. Raobbana wala tahmil alaina isron kama hamaltahu alallazina min qoblina. Robbana wala tuhammilna ma la toqota lana bih, wakfu anna wagfir lana warhamna anta maulana fansurna alalqoumil kafirin, fansurna alalqoumil munafikin, fansurna alalqoumil hasidin, wadzolimin, walkadzibin, walfasidin, wa ahlil fitani addollin. Amin.

Ya Rabbi, rahman-rahimMU sungguh telah menjadikanku malu atas dosa dan maksiat yang masih saja tak bisa kami tinggalkan saban hari. Kadang solatku masih telat, kadang dikirku kepadaMU masih berat, kadang mulutku masih menusuk hati mahlukMU yang penuh rahmat. Aku malu kepadaMU ya Allah … kenapa hambamu ini begitu tak tahu diri? KAU sudah berikan segalanya namun bukan pengabdian total dan pengorbanan sejati yang ku berikan untuk membalas semua kemurahan dan kasih sayangMU, tapi masih saja maksiat yang kami lakukan. Namun anehnya, KAU masih tetap saja sayang dan murah kepada kami.

Kalau saja waktu itu telah terhenti, sementara aku belum sepenuhnya kembali dan khudu’ kepadaMU, sungguh sia-sia hidupku di dunia ini ya Allah. Sebab, hanya siksa dan tumpukan siksa yang akan kami nikmati di kehidupan kekal kami nanti, naudzubillah. Ya Allah, bimbinglah hamba yang lemah ini agar senantiasa berada di jalanMU, bermanfaat bagi mahlukMU dan mendapati akhir yang baik dengan khusnul khotimah biqouli La Ilaha Illa Allah. Robbana la tuzigh qulubana bakda id hadaitana, wahablana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab. Rabbana ya Allah … Ihdinassirotol mustaqim, sirotollazina an’amta alaihim, ghoiril magdlubi alaihim waladdollin. Amin.

Ya Allah, kini aku bersimpuh di hadapanmu mengharap ridlo dan rahmatMU agar senantiasa tercurah kepada kami, keluarga kami, istri kami, anak-anak kami dan orang tua kami serta keluarga dan saudara, teman, sahabat dan kaum muslimin dan muslimat. Berkah ramadan yang baru kami teguk rasanya belum hilang sampai saat ini. Karena itu, perkenankanlah kami berdoa ke haribaanMU di hari ulang tahunku yang ke 32 ini semoga ENGKAU jadikan kami keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. KAU jadikan istriku istri yang solehah dan bisa membantu perjuanganku, kau jadikan anak-anakku sebagai anak yang soleh dan solehah yang taat kepadaMU dan cinta rasulmu, taat kepada kedua orangtuanya, sehat wal afiat, sukses dalam hidupnya, bermanfaat bagi sesama serta pandai bersyukur atas nikmatMU, untuk orang tua kami, mertua kami dan semua yang mencintai kami kau selalu liputi dengan rahmat dan keberkahan serta kesehatan dan keselamatan hidupnya.

Dan dengan kehinaan dan kerendahanku, aku berdoa hanya kepadaMU, berilah kami ketaatan yang sempurna, keimanan tanpa ragu dan keislaman yang kafah, berilah kami kesehatan, rizki yang banyak dan berkah serta halalan toyyiba, keselamatan dalam hidup di dunia dan akherat dan kemudahan segala urusan serta berilah kami umur yang panjang untuk menambah bekal dan amal ibadah kepadaMU sebagai penganti dosa dan salah khilaf kami selama ini. Jauhkanlah dari kami mara bahaya dan fitnah yang keji serta kemungkaran dan kemaksiatan ya Allah … Jagalah kami semua dengan penjagaanMU yang tak akan ada kekuatan yang mampu menembusnya. Karena hanya engkaulah sang penjaga dan pelindung sejati. Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikmannasir wala haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.

Ya Allah … Jadikanlah kami sekeluarga sebagai orang-orang ahli ibadah, ahli surgaMU ya Allah …, dan jauhkanlah kami semua dari orang-orang yang menjadi penghuni nerakaMu dan azabMU. Semoga umur yang masih kau berikan kepada kami menjadi ladang mazroatul akhirat (lahan menanam untuk akherat) dan surgaMU serta ridloMU, bukan menjadi sarana yang semakin mendekatkan diri ini kepada kemaksiatan dan neraka dan kemarahanMU. Ya Allah, aku hanyalah hambaMU yang lemah dan hina, maka ampunilah dosa-dosaku dan kabulkanlah doa kami. Robba atina fiddunya hasanah, wafil akhiroti hasanah, waqina azabannar. Wa adkhilnal jannata maal abror ya aziz ya ghoffar ya robbal alamin, wasollalllahu ala sayyidina muhammadin wa ala alihi wasohbihi wabaraka wasallam, walhamdulillahi robbil alamin. Alfatehah (Alger, 23 Agustus 2012 Pukul 02.40 Waktu Aljazair)

Tags: hayid alger ultah

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 15 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 16 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 17 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 18 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: