Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Lintang Panjer Sore

Ingin menjadi insan yang baik, meskipun bukan yang terbaik.

Sastrawan Seberang, tentang Sastra di Kalangan BMI-HK

REP | 30 August 2012 | 18:03 Dibaca: 146   Komentar: 0   0

13463055352047974506

“Mas Adi,”  begitulah  teman-teman dari  beberapa  kalangan BMI-HK memanggilnya. Dengan nama lengkap Adi Toha, seorang penulis kelahiran  kota Pekalongan Jawa Tengah ini, pernah menempuh pendidikan di UP(Universitas Padjajaran), Bandung, jurusan fisika. Dan sekarang telah menjadi penulis sepenuh masa.  Selain menjadi penulis, Adi juga bergiat di dunia leterasi dengan mendirikan Rumah Baca Jalapustaka di Pekalongan dan  mengawangi Abatasa  housepublishing  yang semenjak awal tahun 2010 Abatasa  housepublishing  ini telah menerbitkan beberapa buku-buku karya BMI. Di antaranya adalah, buku dwi antologi cerpen karya Jaladara dan Wigi Azkiyanti yang berjudul Satu dalam Keabadian,Telur Surga, Senja di Pesisir Tsing Ma dan antologi puisi Jejak Mata Pena.

Sedangkan karya-karya yang telah Adi Toha sendiri lahirkan dari tulisan tanganya adalah, karya cerita pendek, puisi dan ulasan buku yang pernah dimuat di beberapa media massa local maupun nasional.  Novel Valharald, Kumcer Kalarupa, Kematian yang Indah, Sanibia, dan Dongeng untuk Allea.

Selain itu, berpuluh-puluh buku penulis terkenal dari manca Negara juga pernah Adi sunting dari kata perkata, di antaranya adalah, Big Breasts and Wide Hips, Love Bites, Cinta Sejati, Orang Kristen Naik Haji, Uncle Tom Cabin dan masih banyak buku-buku lainya.

“Semejak SMA saya kadang nulis puisi utuk dikirim ke radio dan mulai  betul-betul berhasrat untuk menulis sungguh-sungguh itu sejak tahun 2003-2004.  Dan mungkin juga saya ditakdirkan untuk menggeluti sastra, jadi saya berkiprah di sastra. Dibilang nekat juga iya, keras kepala juga iya, seharusnya saya millih jadi pengusaha atau guru atau PNS saja. Tapi karena saya punya banyak keterbatasan dalam hidup, dan dalam sastra, saya bisa menemukan pembebasan dan kebebasan,” tuturnya ketika saya menayakan sejak kapan Adi berkecimpung di dunia tulis menulis dan kenapa lebih suka memilih dunia sastra.

“Saya pernah mengikuti workshop satu dua kali dan selebihnya otodidak, dari baca dan interaksi dengan sesama penulis dan sastrawan. milis banyak membantu masa-masa awal perkembangan sastra. Yang jelas, setiap kali melahirkan karya, rasanya puas, bangga dan pertama kali karya dimuat di media massa, rasannya, bungah sumringah, seolah iingin mengabarkan kepada semua orang kalau aku masuk koran. Hahahaha” lanjutnya dengan bahasa yang penuh bersahabat.

Dulu Adi juga sempat kuliah dan mengambil jurusan fisika, namun pada akhirnya dia harus memutuskan perkuliahanya. Dan akhir 2009, dia juga pernah  mengambil kuliah lagi di Universitas terbuka, di jurusan sastra inggris. Nah dari situlah, sekarang dia sadar bahwa takdirnya  bukan di fisika atau ilmu-ilmu eksakta, tapi di sastra.

“seandainya dulu saya lulus dari fisika, pasti tidak akan berada di titik ini

saya itu anomali, paling unik, baik dalam keluarga atau dalam masyarakat kampung. Karena dulu waktu kuliah, saya satunya anak dari keluarga miskin yang bisa kuliah, kebanyakan teman-teman sebaya hanya sampai SMP habis itu langsung kerja, termasuk kedua kakak saya juga hanya sampai tamat persekolahan SD. Dan disaat teman seangkatan sekolah sudah pada jadi bos, guru, PNS, pengusaha, saya malah jadi penulis. Dan disaat teman-teman di kampung berlomba-lomba ngumpulin uang untukk beli motor atau barang-barang yang lain, saya malah ngumpulin uang buat beli buku. Ungkapnya lagi.

Visi dan misi Adi  dalam dunia tulis menulis tidak lain hanyalah ingin dan suka menyemangati orang yangg memang bersemangat untuk menulis. Membantu orang sebanyak-banyaknya dalam menulis.  Baginya,  menulis itu bisa dilakukan oleh semua orang, asalkan ada niat dan berlatih sungguh-sungguh.

menulis itu membebaskan. Seperti tadi yang Adi  bilang, “saya punya banyak keterbatasan dalam hidup”  terutama dia lahir dan hidup dalam keluarga miskin

tapi dengan menulis, dia  bisa berdiri sejajar dengan siapa saja, tanpa memandang kaya miskin, tanpa memandang status social. Bahkan Adi sendiri menyatakan “jika nanti saya punya keturunan, maka pertama kali yang akan dia ajarkan adalah menulis dan membaca. Dan saya sendiri akan berhenti menulis jika sudah sampai waktunya saya tidak lagi bisa membaca dan menulis.”

Dan tidak hanya itu saja, ketika saya menayakan “apakah saat menulis harus menunggu mood untuk bisa menulis” maka jawaban Adi adalah di antara tidak dan iya. Katanya  menunggu mood itu penting, mengejar mood juga penting.

“lha iya, kadang menunggu mood untuk menulis, kadang memaksakan diri untuk menulis, karena dua-duanya juga penting. Karena dalam kondisi kita betul-betul  tidak siap untuk menulis, karena banyak pikiran lain mungkin, karena lapar, karena stress, karena bising, dll, kita tidak mungkin bisa nulis efektif, makanya, perlu banyak berlatih dan mendisiplinkan diri,” ulasnya dengan detil.

Dan yang paling menggembirakan, Adi sendiri menawarkan jasanya keada para penulis pemula. “Jika ada para peminat sastra baru yang ingin menggali ilmu dari saya sudah tentu, dengan senang hati  saya akan menyambutnya dengan tangan terbuka.”

Lalu ketika saya mengajukan pertanyaan tentang BMIHK dan sejak kapan dia mulai berkecimpung dalam dunia sastra BMI. Dan  kenapa pula di abatasa housepublishing rata-rata menerbitkan karya BMI, serta apa pandangannya tentang para BMI yang terjun ke dunia sastra dan tulis menulis? Dengan senang hati dia menjawab.

“Seingat saya sejak sekitar awal 2009, saya mulai tahu tentang dunia sastra dan kepenulisan di kalangan BMI, melalui beberapa kawan. Dan saat itu juga saya merasa salut. Sebelumnya, apa yang ada dalam kepala awam saya, mungkin sama halnya dengan kebanyakan orang di tanah air dalam memandang tenaga kerja wanita di luar negeri. Sejak itulah saya mulai membaca, mengamati, dan berinteraksi dengan beberapa BMI yang bergiat di dunia tulis-menulis. Pada  pertengahan tahun 2010, saya membantu menerbitkan satu buku dwi antologi cerpen karya Jaladara dan Wigi Azkiyanti, yang pada waktu itu masih berstatus bmi HK, lewat penerbit independen yang saya gawangi, yakni Abatasa Publishing. Dwiantologi tersebut berjudul Satu dalam Keabadian dan Telur Surga. Berikutnya, saya kembali menerbitkan kumpulan cerpen Jaladara yang berjudul a pada Senja di Pesisir Tsing Mawal 2011. Dan terakhir, saya membantu penerbitan kumpulan puisi Jejak Mata Pena.

saya yakin, sastra dan kepenulisan di kalangan bmi di masa depan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika BMI. Ketika orang berpikir tentang BMI, selain terpikirkan tentang hal-hal menyangkut ketenagakerjaan yang sudah familiar, orang juga akan berpikir tentang dunia sastra dan tulis-menulisnya. Dan pada saatnya nanti, para BMI, terutama di HK, yang bergelut di sastra dan tulis menulis, setelah pulang ke tanah air mereka nanti, akan menjadi agen-agen pencerah dan perubahan bagi kampung halaman mereka. Dahsyat kan?

Dan saya yakin Sastra di kalangan BMI sangat bisa berkembang menjadi lebih baik, tapi itu hanya akan terjadi jika rekan-rekan BMI yang menggeluti sastra semakin memperluas bahan bacaan, bukan hanya dalam segi kuantitas bacaan, tapi juga kualitas buku-buku yang dibaca. Kurangi menulis tema-tema yang klise, dan bereksperimenlah dengan tema-tema lain, dengan tetap tidak menanggalkan identitas ke-BMI-an. Itu akan membuat tulisan-tulisan BMI lebih berkarakter.  Kalau perlu, baca juga buku-buku sastra berbahasa Inggris yang pastinya di Hong Kong  keberadaannya sangat melimpah melebihi di Indonesia.

(Terbit di MAJALAH PEDULI edisi 77 September 2012)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Senayan Berduka: Wajah Baru Caleg Misterius …

Saefudin Sae | | 25 April 2014 | 08:37

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: