Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aslam Syah Muda

Alumni UISU-Medan, SGI 2 and sekerang menjadi Publik Relation SGI-DD

Pentingnya Guru yang Profesional

OPINI | 02 September 2012 | 13:06 Dibaca: 2037   Komentar: 1   3

Mau tidak mau, siap atau tidak siap, suka atau tidak suka

Bahwa setiap kita adalah guru

Yang akan berpengaruh bagi siapa yang terpengaruh oleh kita

Dan setiap kita adalah murid yang akan terpengaruh

Dengan kuatnya suatu pengaruh

Karena setiap apa yang kita lihat, dengar, rasakan, ucapkan, lakukan dsb

Adalah sugesti bagi kita dan orang lain

Sahabat guru Indonesia pernahkah kita bertanya tentang siapa sebenarnya diri kita dan profesi kita? lalu siapa pula mereka yang menjadi lawan interaksi kita?. Perlu kita ketahui Masyarakat India sudah memasuki tahap perkembangan masa keemasannya begitu juga china pada hal dulunya negara  mereka sama dengan negara kita, terjajah, terpuruk, tertindas namun sekarang mereka dapat dikatakan stabil dari segala sudut pandang, dibandingkan kita. Dalam hal, penulis bukan hendak membandingkan satu dengan yang lainnya, namun merupak contoh bagi kita atas keberhasilan mereka. Dalam kesempatan ini penulis hanya ingin mengemukakan pendapat tentang ketertinggalan kita dalam dunia pendidikan khususnya. Menurut hemat penulis permasalahan yang terjadi itu tentunya tak terlepas dari pengaruh pertimbangan-pertimbangan sosial, politik, ekonomi dan budaya sehingga kepentingan siswa sering terlupakan, bukan begitu ?, dan pada akhirnya menimbulkan permasalahan baru yang mengakar yaitu :

· Banyaknya guru yang belum siap menjadi guru

· Banyaknya orang tua yang belum siap menjadi orang tua

· Banyaknya sendi-sendi kekuatan negara ini yang tidak berjalan sebagaimana mestinya

Dari sabang sampai merauke. Cukup  luas negri ini, namun satu pertanyaan besar yang belum berani utuk dijawab secara gamblang yaitu, “ virus apa yang merasuk genarasi kita saat ini ?, Perzinahan meraja lela, Pembunuhan dimana-mana, Perjudian jadi mata pencarian, Kerusuhan antar sesama sering terjadi, Minuman keras, narkoba menjadi tempat pelarian masalah, Perdukunan, meramal nasib, korupsi menjadi budaya dan lain sebaginya, bahkan yang paling mengenaskan adalah anak-anak didik kita atau buah hati kita pada kehilangan etik/ sopan santun baik pergaulan mereka dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Pertanyaan yang mendasar dari beragam permasalahan ini adalah Ada apa dengan sistem pendidikan di negri ini ?, sehingga tidak mampu mengatasi permasalahan yang terjadi, barang kali peran kerjasama kita dalam mempertahankan kemerdekaan tak lagi utuh dalam persatuan dan kesatuan serumpun visi perjuangan.

Sahabat guru Indonesia, mengapa para pendidik atau para orang tua yang disalahkan ?, karena pada dasarnya anak-anak kita lebih dekat kepada keluarga dirumah maupun disekolah, dimana peran kita sebagai pengajar dan pendidik jarang bertanya kepada diri kita. Mengapa bisa demikian ?, apakah karena salah dalam metode saat mengajar dan mendidik mereka ?, atau kita para guru dan orang tua memang tidak faham akan tahap perkembangan anak ?, sehingga salah dalam penerapan ilmu, yang seharusnya diterima sianak pada masanya, namun karena ketidakfahaman dalam mentransfer dan menanamkan nilai-nilai pembentuk karakter  membuat anak bingung bahkan  bosan atas cara mengajar dan didikan kita ?

Sahabat guru Indonesia, suatu hari penulis pernah memaparkan jawaban disebuah seminar, ketika itu penulis yang menjadi nara sumbernya disebuah kampus Islam ternama di tanah merauke. Seorang guru bertanya, “Mengapa pendidikan dikebanyakan wilayah di Indonesia belum bisa stabil, seperti yang diharapkan khususnya di tanah Merauke ?. penulis menjawab, bedasarkan survei penulis mengapa hal itu terjadi  karena disebabkan dua faktor terdekat yaitu.?

· 95%  para guru dan orang tua atau elit pendidikan belum profesional

· Ternyata sekitar 95 % sekolah-sekolah yang ada tidak memiliki  ketegasan peraturan dalam managemennya

Sahabat guru Indonesia, terlihat oleh kita bahwa nomor satu yang menjadi permasalahan dan harus segera diatasi adalah para team pendidiknya yaitu guru dan orang tua dan yang kedua adalah ketegasan peraturan yang diantara keduanya memiliki kapasitas seimbang. Seandainya para guru maupun orang tua mampu untuk profesional dalam artian mereka sudah mengerti dan faham siapa mereka, apa profesi mereka dan mengenal betul siapa objek didik mereka, maka dapat dibuktikan bahwa setiap anak akan merasa puas dengan apa yang mereka terima dari para pendidik mereka sehingga rasa penasaran tentang sesuatu hal yang selama ini menjadi pertanyaan mereka, akan terjawab.

Sahabat guru Indonesia, dari paparan permasalahan diatas dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa negara kita sangat memerlukan para pendidik (guru) yang profesional begitu juga para oarang tua jauh hari sebelum melangkah kejenjang pernikahan telah memikirkan dan belajar  bagaimana cara mendidik dan mengasuh anak, agar kelak anak-anak kita menjadi orang yang memiliki karakter terbaik demi terwujudnya negara yang adil dan makmur pada masa negri ini masih dalam tahap perkembangannya. Dan berikut ini penulis akan memberikan beberapa kirteria guru yang profesional,

  1. Guru yang berniat ikhlas mengajar dan mendidik

Niat adalah penentu segala perbuatan yang akan dan yang telah kita lakukan, dan sesorang dari kita akan menadapat akibatnya menurut apa yang telah kita niatkan sebelumnya maka jadilah kita berjalan dimuka bumi hingga detik ini menurut niat kita sebelumnya. Menjadi guru adalah pekerjaan gampang-gampang susah, semua itu tentunya kembali kepada niat kita dalam memulai profesi menjadi guru. Sahabat guru Indonesia jangan pernah berniat hanya sekedar coba-coba untuk mejadi guru, karena guru yang mencoba-coba berdiri diantara dua pilihan yaitu berhasil atau tidak. Sehinngga yang akan dilakukan dari niat yang seperti ini adalah jika tidak berhasil mengakibatkan keluhan panjang dan jika berhasil mengakibatkan keangkuhan akhirnya segala sesuatu dinilai dari sudut pandang untung dan rugi. Sebaiknya jujurlah dalam bertindak dan memilih profesi yang benar-benar kita sukai sehingga menimbulkan kecintaan kita terhadap profesi itu dan menjadi guru adalah tugas yang mulia dan terpuji merupakan salah satu bentuk ibadah yang diwajibkan kepada manusia, yaitu belajar dan mengajarkan. Jadi guru yang ikhlas dalam mengajar dan mendidik tidak mempermasalahkan suatu keadaan, baik itu dari sisiwanya maupun tempat dan peralatan yang akan digunakan dalam mengajar, sebab guru yang ihklas adalah guru yang benar-benar menginginkan peserta didikanya sukses meraih cita-cita dikemudian hari kelak sehingga dalam mengajar dan mendidik menggunakan bermacam cara untuk mentransfer ilmu yang bermanfaat bagi peserta didiknya.

2.Guru yang  mengenal dirinya, profesinya, dan mengenal peserta didiknya

Mungkin sedikit aneh ketika seorang guru belum mengenal siapa dirinya, apa profesinya bahkan siapa peserta didiknya sehingga berakibat fatal bagi karirnya maupun peserta didiknya. Menjadi guru profesional adalah pilihan bijak dan guru yang profesional menampilkan kesan guruku idolaku artinya guru yang tak pernah lekang dari ingatan peserta didiknya, berbagai macam cara ia lakukan dalam mentrasnfer ilmu dan pembentukan karakter peserta didiknya melalui mata pelajaran yang disampaikan yang sesuai dengan kurikulum, tahap perekembangan anak, kecerdasan anak dan cara belajar anak.

3.Guru yang disiplin dan bertanggung jawab

Sudah seyogiayanya kedisiplinan itu pangkal dari segala perbuatan manusia yang profesional dibidangnya. Seorang guru yang disiplin akan memepersiapkan segala sesuatu untuk menjalankan visi misinya sebagai pendidik dan bertanggung jawab atas segala perbuatannya dalam mengendalikan peserta didiknya pada saat proses pembelajaran, tentunya akan membekas dijiwa anak atas apa yang telah diterapkan dan diajarkan. Guru adalah cermin yang utama bagi peserta didiknya, panutan terbaik bagi mereka. Guru adalah contoh bagi siswanya mulai dari ucapan, perbuatan dan lain sebaginya. Untuk itu guru sosok yang menjadi panutan peserta didiknya harus lebih utama membudayakan kedisiplinan baik bagi dirinya dan profesinya maupun penerapan bagi peserta didiknya. Begitu juga tanggung jawabnya terhadap peserta didiknya atas apa yang telah dicontohkan atau ditanamkan terhadap perkembangan pengetahuan anak yang terlihat dari sikap, tingkah laku serta pola pikir anak baik didalam lingkungan sekolah maupun keluarga dan masyarakat. Guru berperan aktif dalam tanggung jawab membesarkan jiwa peserta didiknya menuju tahap kesempurnaan berpikir dalam tahap perkembangannya.

4.Guru yang bijaksana dalam bertindak

Dalam setiap situasi guru yang profesional akan melakukan sesuatu tindakan perbuatan lebih bijaksana baik pada saat memberi motivasi maupun hukuman pada peserta didiknya melakukan sesuatu yang berlebih dari standart peraturan yang telah disepakati bersama antara guru dan peserta didiknya

5. Guru yang kreatif, inovatif dan menyenangkan

Guru yang kreatif akan selalu menemukan cara terbaik dalam menyampaikan mata pelajaran  dan tentunya menggunakan inovasi terbaru sesuai dengan mata pelajaran dan keadaan yang berlaku saat itu baik dari situasi dan kondisi lingkungan setempat maupun dari latar belakang setiap peserta didiknya dalam proses belajar mengajar sedang akan berlangsung atau sedang berlangsung. Guru yang profesional faham dan mengerti trika apa yang akan digunakan ketika mengajar dan mendidik demi tersalurnya apa yang menjadi materi atau bahan ajar.

6.Guru yang selalu mendo’akan peserta didiknya

Guru adalah orang tua bagi peserta didiknya disekolah dan guru yang profesional tidak akan putus hubungan ketika sudah berakhirnya proses belajar mengajar. Guru yang profesionl akan selalu mendo’akan peserta didiknya sebab tugas yang diemban tidak hanya sebatas keberhasilan saat itu namun berkelanjutan sampai peserta didik sukses mencapai ciat-citanya.

Sahabat guru Indonesia, menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia jasa yang tak ternilai harganya kebanyakan dari kita para guru terkadang masih malu untuk mengakui bahwa dia adalah guru atau menjadi guru hanya setengah hati sekedar sampingan saja. Tentunya bukan seperti itu, sebab guru adalah modal utama sebuah negara menuju kesuksesan, maka jadilah guru yang profesional mencintai profseinya  dan menjadikan lahan ibadah baginya yang berisikan kebaikan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang banyak.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 8 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 8 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 8 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 8 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: