Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ira Sasmita

belajar mengeja langkah mengarifi hidup

Menata Relasi dengan Komunikasi

OPINI | 05 September 2012 | 00:02 Dibaca: 166   Komentar: 0   0

Kehidupan social tidak pernah lepas dari yang namanya komunikasi. Komunikasi dengan keluarga, tetangga, teman dan yang lainnya. Melalui komunikasi kamu mengungkapkan keinginan kamu terhadap orang lain dan dengan komunikasi juga orang lain bisa mengungkapkan keinginannya terhadap kamu.

Coba bayangkan bagaimana kalau komunikasi tidak ada. Meski dekat, tapi kamu tentu merasa sendiri. Dan siapa saja tentu tidak bisa hidup sendiri. Kamu selalu membutuhkan orang lainnya, sama halnya orang lain juga butuh kamu. Dan untuk mempertautkan kebutuhan itu adalah dengan komunikasi. Ibumu minta tolong belikan sayur umpamanya, atau kamu curhat dengan temanmu tentang masalah pacar, seorang pimpinan mengajak semua stafnya rapat dan duduk bersama menyelesaikan masalah, guru mengajar di ruang kelas, pak polisi mengatur lalu lintas dengan menggunakan perangkat komunikasi peluit atau gerakan tangannya. Ini semua adalah kegiatan komunikasi.

Komunikasi tidak saja bersifat verbal melalui kata-kata, tapi juga bisa melalui isyarat tangan, kerlipan mata, kerutan kening, sebaris senyum. (Atau ini bisa dikatakan dengan bahasa tubuh). Selain itu juga ada komunikasi melalui tulisan. Bisa melalui sms, email, twiter, facebook atau lainnya. Artinya ketika kamu melakukan kontak dengan orang lain dengan cara apapun, maka itu bisa dikatakan bahwa kamu sedang melakukan komunikasi dengannya.

Hal-hal yang perlu kamu pikirkan tentang komunikasi, adalah: pertama, komunikasi sebagai identitas diri. Ketika kamu sedang melakukan komunikasi dengan orang lain, kamu sedang mengungkapkan dirimu ke orang lain. Caramu memandang orang lain yang sedang berbicara, semua gerakan tubuhmu, responmu terhadap lawan bicara, bagaimana kamu mengawali sebuah perkenalan, bagaimana kamu menyapa atau malah diam saja saat bertemu orang lain baik yang dikenal maupun tidak, itu adalah dirimu sendiri. Artinya itulah kamu melalui apapun yang kamu lakukan terhadap orang lain. Dan orang lain pun akan menilai kamu melalui semua gerak gerik sikapmu, tubuhmu dan perkataanmu.

Ini bisa menjadi ruang bagimu untuk mengenal diri lebih dalam. Pelajarilah bagaimana cara kamu membangun komunikasi dengan orang lain. Jika ada yang salah, berarti kamu perlu melakukan koreksi. Mengidentifikasi ini sangat mudah. Kamu bisa lihat apakah lawan bicaramu merasa senang atau tidak saat berkomunikasi dengan dirimu.

Kedua, komunikasi sebagai pengikat atau pemutus relasi. Mengingat bahwa relasi social dijalin melalui komunikasi, maka kamu harus benar-benar menyadari bahawa komunikasi menjadi pengikat utama sebuah relasi atau justru pemutus utama relasi. Kuncinya adalah di komunikasi. Artinya jika kamu ingin membangun sebuah relasi yang baik, maka kamu perlu membangun komunikasi yang baik pula.

Ketiga, komunikasi sebagai sumber konflik atau pencerah/penyejuk. Konflik dalam rumah tangga, di tempat kerja atau bahkan lebih besar soal Negara, berawal dari kerusakan komunikasi. Pemimpin yang dictator dan tidak mau mendengarkan bawahan, suami/istri yang selalu sibuk dan tidak memperhatikan anaknya atau pejabat yang hanya mementingkan diri sendiri adalah beberapa contoh komunikasi yang buruk. Sedangkan di sisi lain, komunikasi yang baik bisa membuat semua masalah diselesaikan dengan baik. Relasi yang tidak nyaman bisa menjadi indah.

Kalau begitu, jangan sepelekan komunikasi. Belajarlah dari pengalaman sendiri untuk melihat kemampuan diri dalam melakukan komunikasi. Membaca berbagai referensi dan belajar dari pengalaman orang sangat baik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Waspada Oknum Polisi pada Ngumpet di Jalan …

Iskandar Indra | | 15 September 2014 | 16:23

Super Yuraaaa! Catatan Konser Balada Sirkus …

Irvan Sjafari | | 15 September 2014 | 21:23

Dampak Kasus Perkosaan Rutin Mewarnai Media …

Majawati Oen | | 15 September 2014 | 19:44

Kita adalah Dua Layang-layang …

Conni Aruan | | 12 September 2014 | 12:42

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

RUU Pilkada: Jebakan Betmen SBY buat Jokowi, …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Timnas U-23 Pimpin Grup E Asian Games …

Abd. Ghofar Al Amin | 9 jam lalu

Festival Film Bandung, SCTV, dan Deddy …

Panjaitan Johanes | 16 jam lalu

Berkunjung ke Tebet? Kunjungi Tempat Ini …

Ryu Kiseki | 18 jam lalu

Keluar dari Zona Nyaman …

Afrisal Planter | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Pilih ONH Reguler atau ONH Plus? …

Bonekpalsu | 8 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 9 jam lalu

Perilaku Agamis dan Pentingnya Ekonomis …

Saktya Alief Al Azh... | 9 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Runtuhnya Agate: …

Hsu | 9 jam lalu

Mencapai Gelinjang Orgasme di Kompasiana …

Pebriano Bagindo | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: