Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Akhmad Basori

Seorang motivator untuk generasi muda bangsa, selalu membiasakan diri untuk menulis baik tentang motivasi, kepemimpinan selengkapnya

Pramuka Pencegah Teroris Remaja

OPINI | 07 September 2012 | 14:29 Dibaca: 172   Komentar: 3   0

Melihat upacara peringatan Hari Pramuka Indonesia (3/9) yang dibina langsung oleh Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mencerminkan bahwa kepanduan pemuda-pemudi, remaja, dan anak-anak Indonesia adalah potensi besar untuk terus ditumbuhkembangkan. Pramuka tidak identik dengan acara alam bebas semata seperti perkemahan, atau baris-berbaris dalam aturan PBB, atau juga bukan seragam cokelat-cokelat saja. Lebih dari itu, jiwa pramuka adalah spirit untuk menjadi patriot Indonesia yang akan menjaga atau menjadi pandu bagi ibu pertiwi sekaligus mengikis benih-benih terorisme yang mengancam negeri ini.

Nasionalis ke Patriotis

Generasi muda bangsa ini perlu dididik, dibina, dan dibesarkan hatinya. Dalam struktur kepramukaan sangat jelas jejangnya, bahkan seperti militer. Dari tingkatan anak SD sampai kuliah. Ada jenjang Siaga (SD), Penggalang (SMP-SMA), Penegak dan Pandega (Kuliah-Dewasa). Tidak itu saja, segala keahlian dan kemampuan anggotanya juga ada sertifikasinya yang ditunjukkan oleh simbol-simbol yang dikenakan sebagai atributnya, entah misalnya seperti keahlian memasak, berkebun, memanah, dan sebagainya.

Satu hal yang sederhana adalah pramuka mengajarkan nasionalis murni dan sejati Buktinya yaitu pengenaan ‘hasduk’  atau dasi berbentuk scarft yang mempunyai warna dasar merah dan putih, lambang bendera Indonesia. Merah untuk keberanian, putih untuk kesucian. Bahkan Bung Karno menambahkan maknanya, merah untuk matahari dan putih untuk bulan, merah untuk perempuan dan putih untuk laki-laki.

Merah putih yang dikenakan seperti dasi yang menjulur dari leher hingga pusar itu menunjukkan disitulah dada merah putih disematkan. Disitu pulalah terletak simbol mendalam di era perjuangan fisik tahun empat lima dulu dimana pejuang-pejuang kita siap berkorban dan berseru, “belalah dadaku, dan akan kau temukan merah putih disitu.”

Kegiatan pramuka yang banyak berhubungan dengan alam, semakin menyadarkan anggotanya bahwa Indonesia itu luas, indah, dan banyak hal yang sudah Tuhan berikan sebagai anugerah. Tidak itu saja, pramuka mengajarkan pengabdian, dimana saat seperti mudik kemarin, tak sungkan sekelompok pramuka membantu mengatur lalu lintas di jalan bersama polisi. Mereka juga berada di stasiun untuk mengorganisir penumpang yang berjubel. Bahkan saat sholat idul fitri kemarin di Masjid Istiqlal pun dimana Presiden RI selalu turut hadir, pramuka tidak ketinggalan menunjukkan peranannya untuk turut serta merapikan jama’ah yang jumlahnya membludak luar biasa bersama petugas-petugas masjidnya.

Dari sanalah, dari hal-hal kecil dalam keseharian, setiap anggota pramuka  ditanamkan untuk berjiwa seperti pohon kelapa yang berguna di setiap bagiannya. Bahkan tunas kelapa yang menjadi simbolnya, mencerminkan pramuka dimana saja bisa tumbuh dan bermanfaat untuk lingkungannya. Hal inilah yang membuat pramuka mempunyai potensi besar untuk membentuk karakter bangsa yang berdaya guna, berdaya saing, sekaligus berdaya unggul.

Dengan semakin banyak kegiatan pramuka memberikan kontribusinya untuk tanah air tercinta ini, maka rasa nasionalis otomatis semakin lama akan semakin utuh terbangun. Mereka akan mudah melihat dari seabrek masalah bangsa ini dan sekaligus mereka siap menjadi bagian dari solusi. Dari nasionalis akan mudah merangkak tumbuh menjadi jiwa yang patriotis, jiwa yang siap sedia membela, berkorban, berjuang, untuk bangsa dan negaranya karena didorong rasa cinta yang mendalam akan bangsanya, didorong nasionalismenya.

Penangkal Teroris

Ujung pangkal tindakan teroris adalah pemahaman yang salah dalam beragama. Yang menggunakan tafsiran-tafsiran yang radikal dan sesuai dengan kepentingan golongannya. Tidak berimbang dan malah menimbulkan kekacauan dibandingkan rahmatan lil alamin yang menjadi tujuan Islam itu sendiri buat lingkungannya. Sasaran ke pasar remaja adalah salah satu bukti bahwa mereka rentan untuk di brain washing, di cuci otaknya.

Remaja yang mendapat pendidikan agama di pesantren maupun di sekolah umum pun juga tak luput dari sasarannya. Berhubung mereka sudah punya dasarnya, maka bagi teroris dalam berinfiltrasi akan jauh lebih mudah. Seperti gerakan NII yang sempat marak di kampus-kampus, mereka akan menjejalkan beberapa ayat yang dipaksa mengandung unsur ‘pembenaran’ dalam berbuat kekerasan, anarkis, bahkan kejahatan seperti pencurian, penipuan, ataupun menteror orang.

Menangkal itu semua, remaja harus diberdayagunakan dengan beragam kegiatan positif yang terkoordinir dengan baik dan profesional. Remaja harus dibuat sibuk. Tidak saja dengan sibuk belajar yang sudah menjadi kewajiban utamanya, namun sibuk mengabdi kepada bangsanya. Dan kegiatan kepramukaan memfasilitasi dan menjadi jawaban itu semua.

Bagaimana pramuka mengajarkan acara persami (perkemahan sabtu malam minggu) yang multiguna. Daripada mereka malam mingguan dengan pacaran, kongkow (nongkrong),  atau trek-trekan (balapan motor) di jalan, alangkah lebih baik dengan berkumpul bersama melalui kegiatan api unggun, menjalin persahabatan dengan membuat kelompok beregu, bahkan pementasan-pementasan kreatifitas yang dibimbing oleh pembina yang berkualitas.

Bagaimana pramuka mengajarkan acara penjejahan, dimana remaja ditantang untuk melakukan petualangan, dengan mencari pos-pos yang akan memberikan tugas-tugas seperti sandi-sandi yang membutuhkan kejelian berpikir, kreatifitas, inovasi,d dan juga kerjasama dalam tim. Penjelajahan ini pun kadang membelah kota besar di tengah keramaian, atau pun menyusuri hutan di tengah kesunyian. Itu semua mendidik mereka untuk bersatu dengan alamnya.

Dengan kesibukan-kesibukan seperti itu, tidak ada celah untuk teroris-teroris menanamkan ide pemikiran brutalnya ke benak mereka. Apalagi kegiatan kepramukaan yang selalu diadakan di akhir pekan sekali. Bahkan di beberapa sekolah, siswa diwajibkan untuk ikut kegiatan kepramukaan. Hal-hal seperti ini akan semakin membuat ketahanan remaja semakin tangguh untuk mengikis virus teroris.

Oleh karena itu event perlombaan pramuka, jambore, dan perkemahan harus sering digalakkan dan disupport penuh oleh pemerintah, terutama Kementerian Pemuda dan Olahraga RI yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

Pramuka, Pandu Indonesia

“Disanalah, aku berdiri jadi pandu ibuku…” Itulah sepenggal bait Indonesia Raya ciptaan WR Supratman. Kata-kata pandu tersirat jelas dan menunjukkan semangat untuk selalu siap berdiri dimanapun berada. Berdiri tidak asal berdiri namun berdiri untuk menjaga tumpah darah, tanah air, dan ibu pertiwi, Indonesia tercinta.

Lirik ini harus menjadi semangat kegiatan kepramukaan untuk terus berkarya dan berdaya guna. Bukan dengan merusak, menakut-nakuti dan mengintimidasi seperti yang teroris lakukan selama ini. Namun pramuka yang selalu siap berkorban, mengabdi dan menjadi pelayan masyarakat yang dimana-mana mereka menjadi seperti tunas kelapa, membawa rahmatan lil alamin.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 10 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 13 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 13 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: