Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Anak Melamun di Kelas, Baikkah?

OPINI | 08 September 2012 | 14:41 Dibaca: 684   Komentar: 11   4

Salah satu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita adalah belajar. Baik anak kecil maupun orang dewasa. Belajar secara umum maupun belajar yang lebih khusus. Dalam hal ini saya ingin melihat lebih dekat belajar dalam kontek formal, yaitu kegiatan belajar yang dilakukan di sekolah, kampus maupun tempat belajar lainya.

Berbicara tentang belajar tentu sangat erat kaitannya dengan fungsi otak sebagai media yang kita gunakan untuk belajar. Sebelum kita melihat lebih jauh bagaimana kita belajar dan kaitannya dengan otak kita, ada baiknya kita mengulang kembali pengetahuan kita tentang fungsi otak.

Kita sudah sering mendengar istilah “Use it or lost it!” atau “Sleeping giant” untuk mengungkapkan kurang maksimalnya penggunaan fungsi otak kita. Mari sekilas mengenal potensi otak kita. Antara lain; fungsi otak kiri dan kanan (dual brain function) dan tiga lapisan otak.

Sebagian kita banyak yang faham tentang teori otak kiri dan kanan ini yang di temukan oleh Roger Sperry dan Michael S. Gazzaniga. Secara garis besar otak kiri bekerja memproses informasi yang berhubungan dengan angka, bahasa dengan gaya berpikir logis dan linear. Sedangkan otak kanan lebih cendrung memproses informasi melalui gambar dan ritme musik dengan gaya berpikir acak.

Fungsi kedua belahan sangat penting untuk proses belajar kita. Ketika ada ajakan untuk memaksimalkan belajar dengan belahan otak tertentu ini hanya kecendrungan. Pada dasarnya untuk mencapai fungsi maksimal itu hanya ada satu cara yaitu menyeimbangkan potensi kedua belahan otak.

Sering ada pertanyaan, kenapa anak-anak itu lebih betah dan menikmati kegiatan nonton TV atau baca komik di bandingkan dengan kegiatan blajar? Ini sebuah kebenaran umum, dimana anak-anak atau bahkan kita bisa lebih lama menghabiskan waktu untuk nonton daripada belajar. Ya tentu saja, jawabannya nonton dan baca komik itu menuntuk keseimbangan fungsi otak kiri dan kanan. Dengan melihat gambar otak kanan kita berfungsi dan dengan membaca otak kiri kita diaktifkan. Secara alamiah fungsi otakpun jadi maksimal sehingga kita bisa menikmati kegiatan yang kita lakukan. Sebaliknya dalam kegiatan belajar seringnya yang banyak berfungsi adalah otak kiri.

Lalu bagaimana menjawab pertanyaan, apakah melamun saat belajar itu baik? Jawabannya iya. Dengan melamun di kelas itu pertanda bahwa anak memiliki otak yang sehat. Kegiatan kelas yang kurang menyenangkan dan atau membosankan adalah salah satu penyebabnya. Pada saat kegiatan belajar di kelas terfokus hanya untuk merespon fungsi otak kiri maka otak kanan kita secara alamiah mencoba untuk bekerja mengambil perannya atau bahkan memaksa untuk bekerja. Melamun adalah salah satu kegiatan otak kanan yang memanfaatkan fungsinya untuk menyeimbangkan kegiatan yang membosaankan saat di kelas.

Melamun ini bisa saja si anak sedang mengimajinasikan apa yang sedang di bahas gurunya. Ini tentu saja akan sangat membantu pemahaman si anak terhadap pelajaran yang sedang di pelajari. Tapi ada hal yang sangat menggu, si anak melamun hal lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelajaran. Melamun tentang game yang semalam di mainkannya di rumah atau hal lain.

Di sinilah dituntut peran seorang pendidik untuk mengevaluasi kembali cara mengajarnya. Bagaimana memaksimalkan fungsi kedua belahan otak dalam proses belajar mengajar. Bisa saja dengan sedikit humor agar kelas jadi lebih hidup dan masih banyak strategi lain yang sudah di kembangkan dewasa ini.

Sebagai evaluasi untuk para pendidik, anak melamun di kelas itu bagus. Itu berarti si anak masih memiliki otak yang sehat dan itu merupakan cara keja alamiah otak kita untuk tetap bisa memberikan konstribusi dalam penyeimbangan fungsi kedua belahan otak. Seperti halnya ketika kita berdiri dengan satu kaki, ketika kaki yang satu terasa berat untuk menahan beban tubuh kaki satu lagi akan memaksakan diri untuk berdiri membantu menopang berat tubuh. Begitu juga ketika kita mencoba untuk menggunakan satu mata saja dan memejamkan satu mata lainnya. Kita pasti akan merasakan ketidak nyamanan, sampai kedua mata kita gunakan dengan semestinya.

Anak melamun di kelas jangan justru dimarahi tapi coba evaluasi diri. Tulisan ini sebagai salah satu upaya refleksi diri saya sebagai calon pendidik di masa depan. Semoga menjadi masukan untuk para pendidik dan jadi pengetahuan untuk orang tua. Wallahu’alam…

Fauziah Humaira

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 6 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 7 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 10 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Usia 30 Batas Terbaik Untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 7 jam lalu

Sepenggal Cerita dari Takabonerate Islands …

Hakim Makassar | 7 jam lalu

Demokrat Dukung Pilkadasung, PKS Kebakaran …

Revaputra Sugito | 7 jam lalu

4,6 Juta Balita Gizi Buruk-Kurang di …

Didik Budijanto | 7 jam lalu

‘Belgian Waffles’, Menggoyang …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: