Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

I Made Maha Dwija Santya

Seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saat ini tergabung dalam tim keuangan perusahaan Candra Group. selengkapnya

Bagaimana Jika Menumbuhkan Rasa Nasionalisme dengan (Upa)Cara Seperti Ini?

OPINI | 14 September 2012 | 06:41 Dibaca: 1058   Komentar: 2   1

Kepada Sang Saka Merah Putih….Hormat Grak!!!

Aba-aba itu langsung disusul dengan suara merdu lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya.

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu



Masing ingat potongan kejadian di atas? Kalau kamu orang Indonesia, kamu pasti ingat. Ya, itu momen saat upacara bendera. Hal yang menjadi rutinitas setiap pagi di hari Senin. Katanya, nasionalisme seorang insan Indonesia bisa diukur dari upacara bendera ini. Cara menilainya seperti ini, jika seseorang tidak mau ikut upacara bendera, atau pun ikut upacara namun tidak menghargai jalannya upacara bendera, maka akan mendapat label “tidak nasionalis” dari lingkungannya.

Hmmm… Sepertinya ada yang salah ya, tapi apa ya?

Saya mau bagi sedikit pandangan tentang upacara bendera, ritual yang dianggap sebagai simbol nasionalisme, dan simbol penghormatan terhadap para pahlawan (dengan tanda jasa atau pun tanpa tanda jasa).

Dengan harapan bisa menarik minat baca, saya akan mengungkapkannya dengan frontal dan agak kasar.

Upacara bendera di Indonesia saat ini, dengan susunan acara dan segala jenis embel-embel formalnya, saya klasifikasikan sebagai KEGIATAN TIDAK PENTING. Dari zaman dulu, saat pertama kali saya mengenal kegiatan upacara bendera, sampai sekarang menginjak umur 22 tahun, upacara bendera masih begitu-begitu saja. Seluruh rangkaian acara sangat mudah ditebak, isinya hanya seputaran pembacaan UUD 45, pembacaan Pancasila, pembacaan doa, pengibaran bendera, menyanyi lagu kebangsaan, lapor sana lapor sini, pidato yang membosankan, dan lain-lain.

Kamu tahu apa yang lebih membosankan dari hal di atas?
Harus melakukan hal tersebut berulang kali setiap hari Senin pagi.

Saya masih belum melihat dimana letak nasionalisnya. Mungkin pemikirannya, ORANG JADI TERLIHAT NASIONALIS karena dia TETAP BERTAHAN untuk tetap BERDIRI TEGAK KEPANASAN meskipun sudah nyata-nyata upacara bendera itu SANGAT MEMBOSANKAN. Seperti itu ya?

Itu namanya nasionalisme terpaksa. Nasionalisme yang dilakukan tidak benar-benar dari hati. Kamu tetap berdiri tegak karena takut dihukum guru, atau takut dicap jelek lingkunganmu. Bukan karena rasa banggamu terhadap perjuangan pahlawan, bukan karena banggamu terhadap bangsa ini.

Semoga hanya saya yang berpikir demikian ya. Karena kalau tidak, berarti upacara bendera di Indonesia selama 67 tahun ini hanya proses formalitas yang memaksa kamu untuk menjadi robot penurut yang berbaris rapi menghadap jahitan kain merah putih.

Saat menulis tulisan ini, saya mendamba sebuah upacara bendera yang dimana justru pesertanya lah yang semangat untuk mengikuti jalannya upacara bendera, sesemangat seorang anak yang akan mendapatkan handphone baru dari Ayahnya.

Saya juga ingin upacara bendera yang dimana perangkat upacaranya sangat bangga bisa berada di depan mengatur jalannya upacara, sebangga seorang anak yang bisa menaikkan haji orang tuanya.

Selain itu, saya juga rindu merasakan panasnya kobaran api semangat peserta upacara karena dibakar pidato upacara yang menggelegar, semenggelegar suasana Istana Rahwana di Alengka Pura yang dibakar Sang Hanoman.

Pertanyaannya, kapan upacara bendera di Indonesia bisa seperti itu?

Mungkin nanti, saat orang-orang di Indonesia ini sadar bahwa upacara bendera bukan soal seberapa sering dilakukan, tapi seberapa penting untuk dilakukan. Pengertiannya seperti ini, saat ini upacara bendera dilakukan terlalu sering tanpa menjaga kesakralan upacara tersebut. Alhasil, upacara dilakukan dengan persiapan seadanya, tidak ada beban dan rasa tanggungjawab untuk mengadakan sebuah upacara bendera yang berkualitas. Contoh kecil, perangkat upacara dipilih secara asal hanya berdasarkan jadwal piket, dengan apresiasi terhadap perangkat upacara yang tidak terlalu besar. Pemberi pidato dalam upacara juga dipilih secara asal, mentok-mentok untuk kasus dalam sekolah yang dipilih untuk pidato adalah  kepala sekolah, wakil kepala sekolah, atau guru yang senior.

Ini ada sedikit saran yang bisa dipakai untuk mewujudkan harapan upacara bendera di masa depan yang berkualitas, berlaku untuk tingkat nasional sampai tingkat sekolah terpencil sekali pun.

  1. Upacara bendera dilakukan paling banyak 12 kali dalam setahun (misal sebulan hanya sekali), sehingga persiapan upacara bendera bisa dilakukan dengan matang.
  2. Perangkat upacara diseleksi dengan ketat, semuanya berhak mengikuti seleksi, tidak hanya anggota Paskibraka. Peserta yang terpilih mendapat apresiasi yang besar, misal untuk tingkat pelajar, setiap perangkat upacara di masing-masing sekolah di setiap kabupaten/kota akan mendapatkan piagam penghargaan yang ditandatangani bupati atau walikota, dimana piagam ini merupakan salah satu yang akan dipertimbangkan ketika melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Kalau sudah begini, menjadi perangkat upacara, meskipun hanya di tingkat sekolah, tetap akan menjadi sesuatu yang membanggakan dan diperebutkan.
  3. Pemberi pidato dalam setiap upacara juga harus dilatih dan diseleksi sebagaimana perangkat upacara, karena pidato inilah alat yang bisa digunakan untuk menyiram api generasi muda dengan bensin optimis terhadap bangsa ini. Oleh karena itu hal yang penting diperhatikan selain substansi pidato tersebut adalah penyampaian pidato berupa intonasi, tinggi rendah suara, gestur tubuh, dan lain lain, agar peserta upacara tidak ngantuk dan mengeluh kapan upacara akan selesai.
  4. Tinggalkan cara lama protokoler upacara yang membosankan. Masih betah dengan cara-cara basi rangkaian protokoler upacara? Kenapa tidak menggunakan cara baru yang lebih “nasionalis”? Misalkan saat masuknya pemimpin upacara dilakukan dengan memasukkan unsur budaya lokal setempat, seperti dengan menggunakan Reog Ponorogo khas Jawa Timur. Atau saat mengheningkan cipta, diganti dengan menonton video 10 menit yang dramatis tentang perjuangan para pahlawan Indonesia. Dan jangan lupa menekankan, pahlawan bukan hanya para pejuang kemerdekaan, tapi ada juga pahlawan setelah kemerdekaan, misal Atlet atau tokoh seperti Pak Raden. Bukankah hal seperti ini yang bisa membangkitkan rasa nasionalis?

Intinya adalah, buatlah upacara bendera menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu, sesuatu yang sakral, dan sesuatu yang membanggakan. Jangan lupa mengenalkan seni budaya lokal dengan menyisipkannya dalam rangkaian upacara bendera.

Stop melakukan hal yang menimbulkan citra bahwa NASIONALISME adalah MEMBOSANKAN. Dobrak cara lama, mari bangun NASIONALISME yang lebih segar!

Sudah pagi, mata ini sudah ga kuat menulis lebih lama lagi. Semoga upacara bendera Senin pagimu menyenangkan. Sekian terima kasih.

Tags: nasionalisme

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pesona Pasar Legi Kotagede: Kerukunan …

Sulfiza Ariska | | 19 December 2014 | 17:43

Jangan Mau Mengajar Mahasiswa …

Giri Lumakto | | 20 December 2014 | 00:33

(Maaf) Ngupil Pun Ada Etikanya …

Find Leilla | | 19 December 2014 | 14:04

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Panik Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 9 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 10 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 11 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: