Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Teuku.muhammad Nurdin

Sebagai guru sejarah yang suka membaca dan menulis apa saja yang berguna bagi semua.

Tawuran Pelajar, Suatu Refleksi Suramnya Karakter Bangsa?

OPINI | 25 September 2012 | 15:15 Dibaca: 198   Komentar: 1   0

Sangat   memprihatinkan   kita semua,jika   para pelajar  sering sekali melakukan  tawuran padahal mereka sedang di persiapkan untuk mengambil estafet kepemimpinan bagi  berlanjutnya  pembangunan  negara dan bangsa.Anehnya lagi hanya sekolah-sekolah tertentu saja yang  berulang kali melakukan kejahatan tersebut, seperti di Jakarta kemarin Senin siang, 24 September 2012 untuk kesekian kalinya siswa-siswa SMAN 70 dan SMA 6 Jakarta melakukan tawuran.

Dalam  tawuran tersebut satu orang diantaranya tewas terkena tusukan senjata tajam,dan beberapa siswa alainnya  mengalami luka-luka berat dan ringan.Menurut Cecep salah seorang Guru SMAN 6 , bahwa yang tewas itu bernama Alawi(15 tahun)salah seorang siswa SMAN 6 kelas x,serta yang lainnya mengalami luka berat yang sudah di bawa ke RS.Muhammadiyah.

Sementara menurut salah seorang tukang parkir di kawasan itu,mengatakan pula bahwa rombongan belajar SMAN 70 dan  SMAN 6   itu memang   sering  kali tawuran.Nah  sekiranya demikian berarti  sekolah-sekolah semacam  itu seharusnya  sejak dini lagi di awasi, di  pantau oleh aparat   keamanan.  Selain itu pemerintah DKI  perlu    memetakan   sekolah-sekolah   yang potensi tawuran,  untuk  memudahkan   proses preventisasi secara persuasif .

Memang  sepertinya SMAN 6 dan SMAN 70 itu sering sekali   muncul di berbagai media nasional terkait masalah tawuran,sebagaimana tahun lalu juga mereka melakukan  aksi-aksi kriminal semacam itu.Sangat prihatin jika menyaksikan para pelajar kita melakukan berbagai aksi-aksi kekerasan ,ataupun geng-gengan sesama mereka.Selain itu juga banyak diantaranya kini sering terkait dengan skandal seks dan pornografi.

Sebagai salah seorang  guru  SMA juga saya   bisa  merasakan  apa yang di rasakan oleh para Guru di kedua SMAN tersebut, karena jika rombongan   belajarnya  tawuran bisa di  pastikan guru-guru dikedua lembaga pendidikan formal itu  akan terkena getahnya meskipun tawuran tersebut terjadi diluar jam sekolah.Hal itu perlu segera dicari solusinya,untuk menghentikan berbagai aksi kriminal pelajar kedepan.

Masalah  tawuran itu sekarang  bukan lagi  monopoli rombongan belajar tingkat SMP dan SMA, tetapi juga sudah merambah  kalangan mahasiswa ,  masyarakat antara kampung,antara sesama aparat keamanan dan sebagainya.Bukankah ini sebagai pertanda,bahwa karakter bangsa kedepan semakin suram ? .Oleh sebab itu berbagai kejahatan tawuran itu perlu segera di cari solusi,untuk menghentikannya dengan pemberian sanksi yang berat terhadap pelakukanya.

Bagi orang tua siswa ,guru,dan masyarakat perlu bekerja sama dengan pihak aparat penegak hukum supaya bisa melakukan langkah-langkah positif bagi pengentasan masalah itu.Khususnya bagi para guru kedua SMA itu seharusnya perlu sering saling tukar menukar informasi tentang berbagai dinamikan rombongan belajar masing-masing,supaya sejak dini bisa mengidentifikasi para provokatornya.

Begitu juga   orang tua ,pemerintah   dan masyarakat perlu saling   bekerjasama   dalam proses pencegahan berbagai aksi kriminal itu,seperti saling memberi informasi mengenai kondisional rombongan belajar yang memiliki  temperamental sebagai ekses berbagai aspek sosial mereka.Sebenarnya bagi sekolah itu sejak dini perlu mendata setiap rombongan belajarnya,tidak hanya sebatas daftar ulangnya saja .                                                                                                                                                                                                             Khususya bagi guru BP ,Wali Kelas yang sangat dekat dengan rombongan belajar perlu mendata satu persatu siswanya secara teliti .  Berbagai data -data   tersebut bisa di jadikan sebagai dasar-dasar pemantauan setiap rombongan belajar,untuk mengetahui sejak dini berbagai karakter dari rombongan belajar itu.Dalam kontek ini juga perlu di libatkan,di konsultasikan dengan pihak orang tua dan komponen masyarakat lainnya,untuk sama-sama menjaganya sebagai awal dari upaya preventisasi itu sendiri.                                                                                                                                                                                                                                Dan sekiranya memang sekolah tidak mampu menanganinya ,maka sebaiknya untuk menyelamatkan yang lainnya sudah saatnya siswa-siswa semacam itu perlu di didik secara khusus di lembaga penddikan khusus pula oleh pihak-pihak yang profesional pada bidangnya.Soalnya tawuran pelajar,seperti juga tawuran yang terjadi dalam kalangan warga masyarakat lainnya kelihatannya sudah sangat berbahaya  bagi integritas dan kesatuan bangsa ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Kasus Florence Sihombing Mengingatkanku akan …

Bos Ringo | | 03 September 2014 | 06:01

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | | 03 September 2014 | 08:38


TRENDING ARTICLES

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 3 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 4 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tur Eropa dan Blunder Lanjutan Timnas U-19 …

Mafruhin | 7 jam lalu

Catatan Perjalanan: +Nya Stasiun Kereta Api …

Idris Harta | 8 jam lalu

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 8 jam lalu

Orangtua yang Terobsesi Anaknya Menjadi …

Sam Edy | 8 jam lalu

Indo TrEC 2014 : Mengurai Kekusutan Lalu …

Wahyuni Susilowati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: