Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Imam Syafi'i

adalah Imam Syafi'i Penulis Novel "Santri Legiun' (kisah para laskar penguak rahasia ilahi) dan penulis selengkapnya

Krisis Moral

OPINI | 26 September 2012 | 19:01 Dibaca: 1523   Komentar: 0   0

Krisis Moral

Indonesia adalah bangsa yang berasaskan pancasila, bahasa yang luhur, damai dan mengagumkan bagi yang mendengarnya serta syarat dengan makna. Menjadikan bangsa yang bermoral dan berakhlak baik merupakan impian dan cita-cita semua bangsa, begitupun indonesia ingin menjadikan bangsa ini penuh dengan orang-orang yang bermoral dan berakhlak baik. Dulu, benar memang bangsa ini penuh dengan orang yang bermoral, Sopan, Bijaksana dan Benar.  kini bangsa ini tidak seperti dulu, bangsa ini sedang sakit, sedang krisis moral dan akhlak, jika dulu pada zaman nenek moyang kita tidak pernah mendengar aksi kriminal yang berbentuk pembunuhan dan kriminal lainnya. Kini hampir setiap hari kita melihat dan mendengar aksi kriminal di media elektronik maupun cetak. Pembunuhan, anak bunuh ibu kandung, ayah perkosa anak kandung, pencurian dan perampokan pun sering kita dengar sampai pada memakan uang rakyat (korupsi) sering pula menghiasi media kita. Belum lagi,  jika dulu pada zaman Nabi saat melahirkan anak perempuan langsung di bunuh  (kubur hidup-hidup), kini tidak kalah kejam malah belum lahir, belum sempat tinggal di dunia sudah dibunuh (aborsi).

Dan jika dulu murid sangat takut dan patuh kepada gurunya, kini sebaliknya guru takut dengan muridnya, murid berani melawan pada gurunya,  belum lagi ulah para penguasa bangsa ini yang menjadi harapan bangsa ini malah menjadikan bangsa ini hancur dengan perlakuan mereka yang banyak merugikan negara dan rakyat. Lantas apakah yang melatarbelakangi semua kejadian tersebuat?

Krisis moral! Ya, krisis moral dan akhlak. Bangsa ini sedang sakit, bangsa yang tak tahu arah, akan jadi apa bangsa ini kedepannya  jika moral dan akhlak bangsa ini terus menerus seperti ini. Dalam hal ini penting rasanya dalam meninjau ulang pendidikan  dan sistem pemerintahan, saat ini hampir semua lembaga pendidikan ataupun lembaga yang lainnya menggemborkan untuk bangsa ini mencanangkan  “Pendidikan Karakter” agar bangsa ini menjadi bangsa yang berkarakter dalam semua bidang dan menjadi kaum intelektual. bukan berarti penulis mengatakan pendidikan karater tidak penting, akan tetapi jauh lebih penting pendidikan moral dan akhlak yang baik untuk di canangkan dan diperhatikan lebih oleh lembaga pendidikan ataupun lembaga lainnya. Bangsa ini bukan butuh para kaum yang intelek, akan tetapi bangsa ini butuh moral dan akhlak yang baik, bangsa ini sedang sakit, bukan krisis intelektual tetapi krisis moral ! berapa banyak kita lihat orang-orang yang pintar, para wakil rakyat yang pintar akan tetapi tidak bermoral hingga menghianati amanat rakyat, untuk apa pintar kalau tidak benar! saya rasa bangsa ini butuh orang-orang yang benar, bukan pintar! toh banyak orang pintar tapi kelakuannya tidak benar, saya teringat orang dulu pernah bilang  “jadilah orang benar dulu, baru pintar. Jika tidak pintar maka cukuplah jadi orang yang benar, karna orang benar bisa pula pintar, tetapi orang pintar belum tentu benar” inilah realitas yang melanda bangsa ini. Sudah seyogyanya kita mencontoh ahlak Nabi Muhammad SAW yang saat di utus hanya untuk menyempurnakan akhlak.

Inilah yang harus kita kembalikan akhlak bangsa ini yang dulu sudah menjadi bangsa bermoral. Dalam hal ini peran pemerintah dan para guru untuk mencanangkan pendidikan yang penuh dengan moral harus lebih dan diperhatikan, agar kedepannya bangsa ini menjadi bangsa yang bermoral dan maju, tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Australia Jawara Piala Asia 2015 …

Achmad Suwefi | | 31 January 2015 | 18:50

Penyimpangan Perilaku Penyelenggara Siaran …

Budiyanto | | 31 January 2015 | 16:50

Inspirasi, Imajinasi, dan Referensi Dalam …

Ryan M. | | 31 January 2015 | 20:03

Di Indonesia Olah Raga Masih Dianggap …

Den Bhaghoese | | 31 January 2015 | 15:40

Menyantap Roti di Gudang Rottie …

Ariesa Putris | | 31 January 2015 | 15:27


TRENDING ARTICLES

Titik Temu, Catatan Kritis untuk Mata Najwa …

Mahi Baswati | 15 jam lalu

Siapa Adu Domba Jokowi dan Megawati? …

Nusantara Link | 16 jam lalu

Menyorot Sisi Humanitas Kisruh Sawito, Samad …

Nararya | 17 jam lalu

Abraham Samad di Ujung Tanduk …

Inesya Sisca | 17 jam lalu

Niat Jokowi Tidak Akan Torehkan Cacat …

Den Bhaghoese | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: