Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Angela Widowati

ibu rumah tangga sederhana, mendampingi suami dan ananda tercinta, di kota yang tak pernah terlupa

Tawuran Itu, Apa Bunda?

OPINI | 27 September 2012 | 23:24 Dibaca: 292   Komentar: 0   1

Disaat luapan semangat memberi berkat pada ananda untuk terus berjuang. Berjuang dalam pelajaran, berjuang dalam prestasi di luar sekolah, dan saat dia berhasil disejajarkan dengan remaja Eropa lainnya, dan menjadi satu-satunya anggota dari Asia. Saat usaha untuk lebih mengharumkan nama bangsa dengan berbagai cara termasuk dalam seni dan budaya, bahkan sampai penerbitan buku dalam bahasa Spanyol merambah di kota nan simpati ini. Saat itu pula, berita nan ngeri terdengar dari negeri pertiwi.

Anak sekolah berlaku seperti tak pernah mengenal nilai-nilai budi pekerti… ´values´.. atau ´valores´ kata orang sini… Di saat semua anak di masa sekolah dicekoki ´values´ di sekolah, di mall bahkan sampai ditempat-tempat umum sekali pun. Dengan sebutan, ´magic words´.. atau ´palabras magicas´ tapi ternyata hal itu TIDAK DIKENAL di negri pertiwi…

Pertiwi yang katanya terkenal dengan keramah-tamahannya. Yang katanya terkenal dengan sopan tantun ´ketimurannya´. Yang katanya negri indah yang terkenal dengan budaya sopan dan santunnya… Tidak lebih hanyalah sepenggal cerita nyata yang saling TIDAK MENGHARGAI satu sama lain.

Berita meninggalnya pelajar Indonesia karena tawuran anak sekolah, terdengar sampai keujung dunia. Kabar seorang anak yang koma dibacok dalam tawuran dibaca oleh warga di lain benua. Ucapan ´condolence´ tak luput dari mulut beberapa sahabat. Sahabat yang berbeda bangsa, yang memberikan simpati bagi pertiwi karena menghargai arti sebuah pertemanan.

Tapi ucapan itu terasa pahit…..

Pahit menghadapi kenyataan negeri yang tidak mengenal ´palabras magicas´…. Pahit mengetahui bahwa generasi muda pertiwi tidak terbiasa dengan ´basic values´… Pahit menyadari bahwa masih berat rasa ´saling menghargai´ diantara sesama bangsa sendiri dan pahit menerima kenyataan bahwa generasi penerus bangsa yang usianya tidak lagi kanak-kanak belum bisa berpikir setara dengan remaja seusia mereka di belahan dunia lain…

Pahit…..

Indonesiaku….mau ke mana kita…?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 13 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 14 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 15 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 8 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 8 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 9 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Marah, Makian, Latah. Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: