Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhamad Rifai

Sang Pembelajar Sejati

Bagaimana Menjadi Pemimpin Budiman?

OPINI | 03 October 2012 | 11:44 Dibaca: 115   Komentar: 0   0

Menjadi pemimpin adalah sebuah keharusan bagi setiap manusia di muka bumi ini. Karena sudah menjadi karunia Tuhan terhadap hambanya. Maka kelak setiap apapun yang kita pimpin akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Pemimpin merupakan cerminan dari segala yang berkaitan di lingkungan tempat pemimpin itu hidup dan menghidupkan anak buanhnya. Tapi bagaimana menjadi sosok pemimpin yang baik? itu adalah soal mental dan keluasan ilmu dari manusia itu sendiri.

Pemimpin itu harus tahu dimana dan untuk siapa dia bekerja.

Memang tidak semua pemimpin mengetahui segala tentang pekerjaannya, segala tentang tanggungjawabnya. pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang bodoh. Karena wilayah kerja saja tidak mengetahui kondisi rill dilapangan dan sudah barang tentu segala strategi dan perbaikan-perbaikan itu tidak akan muncul ketika pemimpin tidak mengetahui secara pasti apa ranah wilaya kerjanya.

Pemimpin itu harus tahu watak, persoalan, pekerjaan anak buahnya.

Ini menjadi tugas berat bagi seorang pemimpin karena ia harus mengetahui semua kepribadian anak buanhnya. Dengan menegetahui segala sifat, laku dan sikap anak buahnya hal ini akan sangat membantu merealisasikan gagasan-gagasan baru yang sesuai dengan wilayah kerja anak buah / bawahannya

Pemimpin itu persoalan pribadinya sudah selesai

Menjadi pemimpin adalah panutan, menjadi pemimpin itu harus sudah selesai segala persoalan pribadinya. Perkara ini sangat penting untuk diperhatikan karena di ruang kepribadian inilah banyak para koruptor-koruptor yang berusaha untuk memeprkaya sendiri tanpa peduli janji awal dia untuk berbakti.

Pemimpin itu sedikit bicara tapi juga ikut bekerja

Nyatanya pemimpin-pemimpin negeri ini hanya sebatas tangan yang menulis tandatangan saja, tanpa peduli untuk melihat ataupun ikut serta dalam melaksanakan pekerjaan anak buahnya. Karena perhatian seorang pemimpin terhadap bawahan itu penting. Hal ini untuk menyamakan struktur emosional antara pimpinan dan bawahan sehinggga akan menghasilkan komunikasi yang efektif.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 6 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 6 jam lalu

PSSI dan Kontradiksi Prestasi …

Binball Senior | 7 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: