Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Jonny Taurus

Cikaracak Ninggang Batu Laun-laun Jadi Legok

Een Sukaesih, Sosok “Guru Sejati”

HL | 03 October 2012 | 06:23 Dibaca: 2402   Komentar: 45   30

Senin 1 Oktober 2012, saya beserta keluarga menyambangi kediaman Een Sukaesih (49 tahun) di Desa Cibeureum, Kecamatan Cimalaka – Kabupaten Sumedang, beliau adalah seorang dianugerahi keterbatasan fisik, karena sakit yang menahun. Sakit yang beliau derita selama 27 tahun, sejak tahun 1985 menjadikan beliau tidak dapat menggerakkan seluruh anggota badannya, hanya bagian kepala saja yang dapat digerakkan, sementara seluruh bagian tubuh lainnya lumpuh total, badannya kian hari kian menyusut dan mengkerut, kondisi tersebut menjadikannya seolah bayi yang tidak berdaya. Beliau hanya dapat berbicara, tersenyum dan berekspresi layaknya kita manusia normal. Benar, hanya bagian kepala saja yang menunjukkan adanya tanda kehidupan pada dirinya.

Beliau adalah teman sekelas saya dan istri saya waktu kami bersama-sama kuliah di jurusan Bimbingan dan Konseling IKIP Bandung (Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia – sekarang) angkatan tahun 1982. Setuntas menamatkan kuliah program diploma 3 beliau di tempatkan di kecamatan SIndang Laut, sebagaimana layaknya seorang konselor beliau melaksanakan tugasnya dengan baik, itupun hanya berlangsung selama 3 bulan saja, sebab setelah itu beliau mengalami kelumpuhan yang bersifat permanen dan menjalar hingga seluruh tubuhnya tidak dapat digerakkan. Pada bulan ketiga itulah gaji terakhir sebagai PNS beliau terima, sebab setelah itu beliau tidak lagi mendapatkan gaji dari Negara. Ketika beliau mengajukkan pensiun dini, ditolak oleh lembaga terkait dengan alasan status PNS beliau yang belum melaksanakan pra-jabatan, akhirnya beliau hanya menerima TASPEN sebesar Rp. 500.000,- saja.

Ada hal yang beliau miliki diluar kelaziman sebagaimana bisaanya orang yang menderita sakit parah, sebagai seorang guru dan konselor beliau tetap mempunyai semangat untuk tetap mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan hingga sekarang dengan keterbatasan kondisi tubuhnya yang secara nalar sangat sukar untuk dibayangkan. Hingga saat ini di ruang kamarnya yang hanya berukuran 2,5 X 3 meter dan dalam kondisi berbaring di atas tempat tidurnya, beliau setiap hari masih mampu mengajar dan mendidik siswa-siswi yang bersekolah di berbagai tingkatan. Benar! Mengajar dan memberikan ilmunya kepada para tetangganya yang bersekolah di SD, MI, SMP, MTs setiap hari, mulai jam 8 pagi hingga sore hari, terkadang hingga jam 20.00 secara bergiliran berdasarkan tingkatan pendidikan dan berjadwal sesuai dengan kondisi persekolahan para siswanya. Jika ada siswa SD yang sekolah pagi, mereka mendatangi rumah beliau selepas mereka pulang sekolah, dan mereka yang kebagian sekolah siang datang ke rumah beliau dari pagi hingga menjelang berangkat ke sekolah. Banyak mata pelajaran yang beliau ajarkan pada para siswanya, mulai dari Pendidikan Agama Islam, Matematika, Bahasa Inggris hingga pengenalan komputer. Tidak ada kesulitan bagi beliau untuk mencari bahan ajar mulai dari buku hingga media pembelajaran canggih seperti CD multi-media, sebab banyak pihak yang mendukung kegiatan beliau dalam menyampaikan ilmunya kepada para siswa asuhannya, dan yang paling mengagumkan adalah bahwa para siswa yang belajar di tempat beliau tidak dikenakan atau diwajibkan membayar biaya sepeserpun, bahkan beliau rela untuk mengeluarkan dana sendiri bila ada siswanya yang tidak mempunyai buku atau alat tulis lainnya, beliau dengan rela hati merogoh kantongnya untuk membelikan alat-alat tulis, buku tulis hingga LKS para siswanya.

Sungguh suatu hal yang membuat saya, istri dan anak-anak saya tertegun sejenak, ketika kami datang tanpa sepengatahuan beliau, kami melihat beliau dengan lancarnya membimbing anak-anak dalam pelajaran matematika untuk kelas V yang membahas tentang turunan kwadrat suatu bilangan. Anak-anak itu menulis pada white board yang berukuran 90 X 120 Cm yang terpadang pada dinding kamarnya. Beliau pula yang menyebutkan angka untuk ditulis, hingga menerangkan kaidah bilangan kwadrat. Kami terdiam tak bersuara, beribu rasa berkecamuk dalam dada kami, melihat beliau yang sedang menerangkan bilangan kwadrat dengan segala keistimewaan-nya, seolah anak-anak itu terbius dan mampu menghayati fungsi bilangan yang seolah bicara dengan seribu makna diamnya. Ada rasa haru yang menyelinap dalam kalbu, ketika anak-anak itu dengan lancarnya menuliskan dan menjawab contoh-contoh soal yang terdapat pada LKS yang mereka bawa, seolah membuktikan pada “guru” mereka bahwa mereka faham akan apa yang barusan diterangkan oleh beliau. Terlihat sekilas senyum kepuasan pada wajah beliau ketika anak-anak itu dapat mengerjakan seluruh soal yang ada pada LKS yang mereka bawa. Ada rasa bangga di hati kami, ketika dengan mata kepala kami sendiri melihat seorang guru yang tanpa rasa canggung menerang-kan hal yang sepintas akan dianggap sukar mengingat usia para siswanya yang relatif masih anak-anak, namun beliau dengan sabar dan telaten menjelaskan seluruh rangkaian proses turunan kwadrat secara mendetail, perlahan dan dengan jelas disertai contoh-contohnya. Kegiatan tersebut terhenti ketika beliau menyadari kehadiran kami, dan kami pun saling melepas rindu, sebab sejak kami diwisuda tahun 1985 baru sekarang kami dapat bertemu lagi dalam kondisi yang sangat menyentuh kalbu. Tidak terasa dua jam kami lepas berbincang, hingga kegiatan temu kangen kami pun terhenti dengan datangnya rekan-rekan dari Komunitas Guru Jawa Barat dan sekjen FGII Iwan Hermawan, yang mendatangi beliau dengan maksud untuk memberikan Teacher Award 2012 untuk beliau dalam rangka hari guru sedunia yang jatuh tanggal 5 Oktober.

Ada rasa haru dan bangga ketika beliau menerima plakat tanda jasa Teacher Award 2012 yang langsung diberikan oleh Iwan Hermawan, walau beliau tidak dapat menerima langsung dengan tangannya, namun beliau sempat mengucapkan kata terimakasih yang langsung terucap dari bibirnya bahwa beliau merasa belum pantas untuk mendapatkan penghargaan yang sedemikan tinggi, sebab beliau merasa bahwa apa yang dilakukannya bukanlah suatu hal yang dapat dibanggakan, bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah panggilan jiwa dan hati nuraninya selaku seorang guru yang bisa beliau lakukan sebatas kemampuannya. Semua yang hadir di ruangan itu terdiam senyap, sebab bukan tidak mungkin secara langsung ataupun tidak ucapannya telah menggedor hati kami para guru yang masih diberi kemampuan ragawi seperti manusia normal lainnya dibanding dengan kemampuan ragawi beliau yang dengan segala keterbatasannya masih mampu untuk memberikan ilmu dan pengetahuan yang dimiliknya kepada para anak didiknya. Ada air mata haru yang diluar kuasa kami menetes perlahan, walau kami tidak ingin menampakkannya dihadapan beliau, sebab dari awal dengan tegas beliau tidak ingin dikasihani sebagaimana layaknya insan yang mempunyai keterbatasan secara fisik, namun tetap saja titik air mata haru tersebut berubah menjadi genangan dan linangan air mata, yang tanpa terasa membasahi pipi kami semua.

Pertemuan kami dengan beliau tidak lebih dari tiga jam saja, namun dari bentangan waktu tersebut kami banyak mengambil pelajaran hidup, ternyata di dunia ini masih ada seorang “guru” yang dengan segala keterbatasan fisiknya tidak membuat beliau membatasi diri, niat dan kemampuannya untuk tetap menggeluti dunia pendidikan hingga akhir hidupnya. Beliau adalah seorang “guru” yang sangat pantas kami gurui, pantas menjadi contoh dan pantas menjadi tauladan para guru lain di Republik tercinta ini. Beliau yang membaktikan dirinya di dunia pendidikan tanpa gaji dan tunjangan professional, ternyata lebih profesonal dibandingkan dengan kami yang sudah memperoleh sertifikasi Guru Profesional. Beliau yang mampu mengajar lebih dari sepuluh jam setiap hari dengan tanpa mengharapkan balas jasa dari siapapun dan dalam bentuk apapun, Beliau pula yang masih menyimpan semangat “Tutwuri Handayani” yang tetap menggelora dalam dadanya yang tergerogoti oleh penyakit yang menahun, namun segala keterbatasan yang beliau miliki tidak mampu untuk membatasi semangat beliau dalam mendidik anak-anak bangsa ini. Negeri ini butuh orang-orang yang memiki semangat seperti beliau, dunia pendidikan kita masih membutuhkan tauladan dari sosok seperti beliau untuk dapat menularkan semangat dan rasa patriotisme yang tidak lekang oleh segala keterbatasan ragawi. Negeri ini akan maju bila para pendidik dapat mempunyai visi dan misi seperti yang beliau miliki. Beliau yang menyadarkan kami bahwa apa yang beliau kerjakan selama ini secara tidak langsung memberitahu kami bahwa beliau memberikan contoh nyata dan seolah bathinnya berkata lantang “Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami….”

Een Sukaesih, teman, sahabat, dan rekan seperjuangan kami dalam dunia pendidikan, kami bangga mempunyai teman sepertimu, yang pantas menjadi tauladan bagi para guru di negeri ini, menjadi contoh nyata dari pribadi yang dapat tegar mandiri bagi kami dan menjadi panutan bagi orang-orang yang pernah mengenalmu. Ijinkan kami memberikan penghargaan yang paling tinggi dari hati kami, walau tidak dalam bentuk plakat, piagam, piala ataupun dalam bentuk bantuan dana, namun kami akan menempatkanmu sebagai “Guru Kehidupan” bagi kami, tauladan bagi semangat juang yang tak kunjung padam, contoh nyata bagi kami bahwa “Semangat mendidik Anak Bangsa” jangan pernah luntur apalagi hilang lenyap dari diri kita, hingga batas akhir kemampuan kita.

Ya Allah, terima kasih Engkau telah pertemukan kami dengan beliau, orang yang mampu menggugah semangat kami, berilah beliau kesejahteraan dan ketenangan dalam hidupnya, sejahterakanlah ia dengan segala kemampuan yang beliau miliki, terangilah beliau dengan Cahaya-Mu, hingga beliau terus berkarya di dunia pendidikan hingga akhir hayatnya, dan sejahterakanlah beliau dalam kehidupan setelah kematiannya, jadikanlah beliau sebagai tauladan dan cahaya penerang bagi keluarganya, sahabat-sahabatnya, para anak didiknya dan untuk kami para guru. Semoga apa yang beliau perbuat selama ini menjadi contoh nyata bagi para guru dan pendidik di Negeri tercinta ini.

Semoga….!!

Ciparay, 2 Oktober 2012

1349202010881669670

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Transjakarta vs Kopaja AC, Pengguna Jasa …

Firda Puri Agustine | | 31 October 2014 | 12:36

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | | 30 October 2014 | 22:57

Juru Masak Rimba Papua Ini Pernah Melayani …

Eko Sulistyanto | | 31 October 2014 | 11:39

Green Bay dan Red Island Beach, Dua Pesona …

Endah Lestariati | | 31 October 2014 | 11:47

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 5 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 6 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 7 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Racun di Sudut Ruang Rumah Kita …

Akualib | 8 jam lalu

Potret Negeriku Saat Ini …

Surat Yasin | 8 jam lalu

Menyusun Anggaran Keuangan dan Menerapkannya …

Pakar Investasi | 8 jam lalu

Serendipity [3] …

Septi Yaning | 8 jam lalu

Akhh… …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: