Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

putaran roda kehidupan

OPINI | 14 October 2012 | 06:59 Dibaca: 228   Komentar: 0   0

Putaran Roda Kehidupan

Sejak kecil aku sudah dididik oleh orangtuaku untuk selalu mandiri, karena suatu saat nanti aku akan hidup sendiri tanpa bantuan mereka begitu nasehat orangtuaku sewaktu aku masih kecil. Aku selalu diajari untuk tanggung jawab oleh kedua orangtuaku, mulai dari hal yang kecil seperti mencuci piring sendiri selesai makan sampai dengan kebersihan kamarsendiri. Semua didikan itu baru terasa ketika aku beranjak dewasa, memang ketika masih kecil aku senantiasa merasa jengkel ketika dinasehati keduaorangtuaku.

Kini akupun telah dewasa, aku telah lulus sarjana strata 1 dan mulai membuka usaha kecil-kecilan untuk belajar dan sekaligus menabung tuk kehidupan berkeluarga kelak. Hari demi hari kehidupanku berjalan dengan biasa saja, tapi pada suatu hari akupun dililit masalah yang sangat sulit, usahaku terancam bangkrut karena dililit hutang yang berkelanjutan, akupun hampir putus asa karena selain masalah usahaku ini akupun ditimpa musibah lain yang samahalnya membingungkan. Pada masalah ini aku dihadapkan pada suatu dilema yang sangat membingungkan. Pertama, jika aku tidak bisa membayar hutang-hutangku, maka aku akan dipenjara, sementara dipenjara aku akan banyak kehilangan waktuku yang seharusnya aku pergunakan untuk berkarya dan berwirausaha. Sedangkan yang kedua, jika aku tidak mau dipenjara maka semua hartaku dan rumah orangtuaku akan disita untuk dijadikan ganti rugi dari semua hutang-hutangku, dan jika rumah orangtuaku disita, kemana orangtuaku akan tinggal?.

Hampir tiap hari aku tak bisa tidur karena dihantui teror yang tiap hari datang karena hutangku ini, yang lebih membingungkan lagi aku sudah mencari bantuan kesana-kemari, saudara, teman, tak ada yang sanggup membantu masalahku ini. Pada akhirnya aku punya waktu satu setengah bulan untuk membayar hutanku ini, dan kalau tidak maka dua kemungkinan akan terjadi, dipenjara atau harta dan rumah akan disita.

Pada suatu ketika setelah sholat aku membaca Al-qur`an beserta terjemahnya dan kebetulan aku membaca ayat yang memberiku pencerahan, yang ayatnya berbunyi:

3“t÷zé&ur $uhtRq™7ÏtéB ( ׎óÇtR z`ÏiB «!$# Óx÷Gsùur Ò=ƒÌs% 3 ΎÅe³o0ur tûüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÊÌÈ

Ayat diatas menerangkan bahwa pertolongan dari Allah sangatlah dekat bagi orang-orang yang beriman. Aku pun merenung sejenak setelah membaca ayat ini, aku berdo`a kepada Allah supaya aku bisa menghadapi masalah ini dan berharap pada pertolongan Allah. Aku pun berpikir, pertolongan Allah sangatlah dekat terhadap orang-orang yang beriman, jadi akupun harus menambah keimananku kepada Allah SWT dengan melakukan amal sholeh kepada sang Pencipta dan makhluk-Nya. Setelah mendapatkan pencerahan itu, akupun jadi sering kemasjid untuk sholat jama`ah dan aku pun mengajar pada suatu lembaga panti asuhan. Aku tiap hari berangakat untuk mengajar dengan ikhlas dan tanpa pamrih, ternyata baru aku sadari bahwa memberi secara ikhlas itu terangkan hati, hatikupun mulai tenang meskipun waktu pun berjalan dan batas hari pembayaran hutang akan segera tiba.

Aktivitas sehari-harikupun hanya mengajar dipanti asuhan dan sholat jama`ah dimasjid. Jika secara duniawi dan secara logika, aktivitas keseharianku ini tak akan menyelesaikan masalahku, akupun sempat bimbang dan ragu, tapi kebimbangan dan keraguankupun ini aku adukan hanya kepada Allah semata, karena aku sadar bahwa saat ini hanya kepada-Nyalah aku harus mengadu.

Pada suatu saat setelah sholat berjama`ah akupun menemukan seorang yang tuarenta didepan masjid yang sedang berjalan dan tiba-tiba sikakek itu jatuh, dan aku pun langsung menolongnya sebelum kakek itu tertabrak oleh kendaraan yang lewat di jalan. Ternyata kakek itu adalah orangtua dari salahsatu jama`ah yang kebetulan sholat jama`ah dimasjid dan istirahat di masjid ditengah perjalanan. Orang itupun sangat berterimakasih kepadaku karena aku sudah menolong ayahnya yang jika aku tidak menolongnya kemungkinan besar sikakek akan tertabrak kendaraan yang lewat dijalan raya. Sebagai rasa terimakasih orang yang kutolong bersedia untuk menolong apapun yang aku minta. Lalu akupun cerita tentang masalahku kepada orang yang kutolong. Diapun menyanggupi untuk menolongku, karena kebetulan orang tersebut adalah salah satu pemegang saham dari perusahaan ternama. Aku pun sangat bersyukur kepadada Allah SWT atas pertolongan-Nya lewat perantara hamba-Nya.

Dari kejadian itu aku sadar, bahwa tiada yang tak mungkin didunia ini jika kita percaya penuh kepada kekuasaan Allah SWT. Hanya dialah penggenggam kerajaan langit dan bumi, hanya dialah sang pencipta langit dan bumi beserta seisinya. SubhaanaAllah walhamdulillah wa laailaahaillaAllah Allahu Akbar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

Waspada Komplotan Penipu Mengaku Dari …

Fey Down | | 21 December 2014 | 23:23


TRENDING ARTICLES

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 6 jam lalu

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 12 jam lalu

Sensasi Singkong Rebus Menteri Yuddy …

Andi Harianto | 13 jam lalu

Ketika Tulisanmu Dihargai Jutaan Rupiah …

Wijaya Kusumah | 13 jam lalu

Sekilas Wajah Pak Menteri Anies Mirip …

Agus Oloan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: