Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Puji Sasongko

Langkah sekecil apapun dia telah membawa menuju perubahan

Mengajar Membatik (Batik Tulis) Menggunakan Pewarna Alternatif “Dermenir”

REP | 18 October 2012 | 16:52 Dibaca: 1608   Komentar: 1   1

Mengajar Membatik (Batik Tulis) Menggunakan

Pewarna Alternatif “Dermenir”

Pendahuluan

Pada Silabus Seni Budaya SMP kelas VIII semester genap, disebutkan pada Kompetensi Dasar 10.1 membuat karya seni kriya tekstil dengan teknik dan corak seni rupa terapan Nusantara”. Ada banyak hasil karya seni kriya tekstil yang berkembang di Nusantara. Contoh-contoh hasil seni kriya tekstil nusantara diantaranya kain batik, kain tenun, kain bordir, sulam, dan songket. Masing-masing bentuk karya dibuat dengan teknik yang berbeda. Penggunaan teknik yang berbeda akan menghasilkan hasil karya yang berbeda pula. Mempelajari dan memahami KD tersebut guru diberi kebebasan untuk memilih materi yang akan dikembangkan.

Mengikuti perkembangan tekstil di tanah air saat ini, rupa-rupanya batik sedang mendapat ”perhatian” dari banyak kalangan. Perhatian itu muncul baik dari kalangan nasional maupun internasional. Membaca kondisi ini sekolah perlu proaktif untuk mengajarkan materi batik kepada para siswanya. Pembelajaran itu tidak hanya pengetahuan dan teori tentang batik tetapi mengutamakan pembelajaran praktik. Dari pembelajaran praktik diharapkan siswa bisa dan terampil membuat batik. Selain pada kain, penerapan batik bisa digunakan pada media lain (tidak hanya pada kain saja). Selain itu kegiatan membatik memiliki peluang untuk bisa dijadikan sebagai alternatif pilihan hidup (pekerjaan).

Pembelajaran Membatik

Menurut Tim Penyusun Kamus, batik adalah corak atau gambar (pada kain) yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu. (1995: 98). Batik memiliki keunikan-keunikan dalam segi teknik (tulis, cap, printing, jumputan), bahan dan alat-alat pembuatnya. Keunikan-keunikan tersebut membuat batik menjadi materi yang menantang untuk diajarkan di kelas, utamanya ”batik tulis”.

Mengajarkan materi membatik (batik tulis) ternyata menyenangkan, baik untuk guru maupun siswa. Siswa sangat antusias mengikuti kegiatan belajar mengajar. Pelajaran membatik bisa memberikan ruang kepada siswa untuk bisa berekspresi. Keasyikan bermain dengan media batik membuat mereka sangat menikmati pelajaran. Dorongan untuk segera menyelesaikan karya batiknya membuat waktu yang tersedia dalam pembelajaran terasa sangat singkat. Lamanya menunggu jadual praktik membatik (seminggu sekali) memberi suasana kangen. Suasana yang tercipta dalam pembelajaran membatik seolah seperti sedang bermain-main.

Dalam suasana belajar seperti digambarkan, tugas guru menjadi terasa sangat ringan. Guru tinggal melayani apa keinginan siswa. Guru hanya sekedar mengarahkan, menunjukkan awal dan arah menuju akhir. Selebihnya siswa bisa mandiri dengan keasyikan, kebanggaan dan kepuasannya berkarya. Siswa bisa menjadi sangat aktif, kreatif, dan produktif. Ada kebanggaan ketika seorang guru bisa mewariskan salah satu kekayaan budaya bangsa kepada para anak didik.

Kendala Dalam Pembelajaran Membatik

Selain kondisi positif, mengajarkan materi membatik juga memiliki banyak kendala. Kendala-kendala tersebut bisa diinventarisasi sebagai berikut: (a) kesulitan mendapatkan peralatan batik (kompor, wajan, canthing dan lain-lain); (b) kesulitan mendapatkan bahan-bahan batik (lilin/malam, pewarna dan bahan pelorod batik); (c) kesulitan pada proses meracik dan mencampur pewarna (bahan-bahan kimia batik / pewarna modern) untuk mewarna kain; (d) pada awal pengenalan muncul rasa was-was akan terjadi kecelakaan kerja; (e) dorongan untuk segera menyelesaikan karya dan keasyikan berkarya membuat siswa tidak disiplin waktu (tidak mau selesai meskipun waktu sudah habis).

Mempelajari kendala-kendala yang ada rasa-rasanya pada bagian pengadaan alat dan bahan tidak terlalu menjadi masalah (bisa diselesaikan). Kendala keselamatan kerja, bisa diantisipasi dengan memberikan arahan dan rambu-rambu yang jelas. Kendala tidak disiplin waktu, bisa diatasi dengan memberikan “pengertian” kepada para siswa. Rupa-rupanya kendala pada bagian pewarnaan yang menjadi bagian terberat/sulit untuk menemukan penyelesaiannya.

Bagi guru-guru Seni Budaya yang berlatar belakang dari Pendidikan Seni Rupa kendala pada proses pewarnaan tentu tidak menjadi masalah, sebab mereka sedikit banyak telah belajar tentang itu. Permasalahan muncul ketika materi membatik ini diberikan/diajarkan oleh guru Seni Budaya yang bukan berlatar belakang pendidikan dari Seni Rupa, atau guru Seni Budaya yang berlatar belakang pendidikan Seni Rupa tetapi tidak pernah mempelajari tentang membatik. Mereka tentu mengalami banyak kesulitan.

Pada proses pewarnaan batik, kesulitan paling utama yang muncul adalah pada proses meracik dan mencampur pewarna (bahan-bahan kimia batik / pewarna modern). Hal ini sulit karena pewarnaannya menggunakan pewarnaan pencampuran bahan-bahan kimia. Pencampuran bahan-bahan kimia tersebut rumit dan harus jeli. Sebagai contoh, untuk membuat warna merah urutan yang harus dilakukan adalah:

1. tiga (3) gram Napthol AS – d + 6 cc TRO (warna yang ditampilkan tidak sesuai dengan warna yang dihasilkan), diaduk dalam ember plastik / kaca / kayu sehingga menjadi pasta.

2. Pasta + ¼ liter air mendidih, diaduk sehingga menjadi larutan keruh.

3. Larutan keruh + 6 cc 38 BE, diaduk sehingga menjadi larutan bening.

4. Larutan bening setelah dingin + ¾ liter air dingin = 1 liter.

Larutan tersebut siap digunakan, tetapi warnanya belum nam- pak, harus dibangkitkan dengan garam. Perbandingannya, napthol dengan garam = 1 : 3. Berarti 3 gr napthol dibutuhkan 9 gr garam.

Melarutkan garam: 9 gr garam merah B ditambahkan sedikit air dingin, kemudian aduk hingga rata, tambahkan lagi air dingin sehingga menjadi 1 liter air, aduklah hingga rata betul. Larutan garam siap digunakan.

Pewarnaan :

1. Kain batikan harus bersih dan kering

2. Dicelup / disikat : larutan Napthol hingga rata (3-5 menit).

3. Ditiriskan (ditempat yang teduh kira-kira 5 menit).

4. Dicelup / disikat, larutan garam. Nampaklah sekarang wrnanya. Menurut resep di atas warnanya merah. Jika kurang tua bisa diulang dengan segera. (Riyanto: 2002: 12 – 13).

Betapa panjang proses pewarnaan tersebut. Campuran pertama air dengan bahan kimia (pewarna) hasilnya tampak bening-bening saja. Campuran kedua air dengan bahan kimia (garam) hasilnya juga belum tampak warna yang sebenarnya. Ketika proses dilaksanakan sesuai prosedur hasilnya kain menjadi menjadi berwarna merah. Proses tersebut terasa membingungkan (sulit). Terbayang akan menjadi lebih sulit lagi ketika harus menerangkan kepada siswa. Selain itu pewarna batik yang sesunggunya hanya tersedia di kota-kota tertentu (seperti Yogya, Solo, Semarang) dan harganya terhitung mahal.

Pewarna “Dermenir”

Merujuk dari kesulitan yang ada, perlu mencari alternative warna yang bisa digunakan dengan lebih praktis dan nyata. Hasil pencarian itu akhirnya menemukan “Warna Alternatif”. Warna alternative tersebut penulis beri nama Dermenir”.

Warna alternatif Dermenir sebenarnya sudah sangat umum/lazim digunakan orang untuk kegiatan-kegiatan seni rupa, namun penulis belum pernah menemukan penggunaannya untuk kegiatan membatik. Dermenir adalah singkatan dari bahan-bahan untuk membuat warna alternatif tersebut. Der berasal dari kata Binder, Men berasal dari kata Pigmen dan Ir berasal dari kata Air. Jadi Dermenir adalah Binder, Pigmen dan Air. Warna “Dermenir” dianggap cocok dipakai sebagai alternative pengganti pewarna batik yang sesungguhnya dalam proses pembelajaran (memberikan pengalaman membatik kepada siswa).

Perbandingan campuran “dermenir” untuk kegiatan pewarnaan membatik yaitu : 1 cc pigmen (pewarna) dicampur dengan ± 7 sendok makan air dingin dan binder ± 2 cc binder. Pigmen adalah pewarna yang akan kita goreskan pada kain batik. Air adalah pencampur agar warna bisa menjadi banyak (babar). Binder adalah pengikat warna agar warna tidak tidak lepas (luntur). Jika ingin membuat warna dengan porsi banyak maka tinggal mengalikan perbandingan tersebut.

Penggunaan pewarna Dermenir dalam proses belajar mengajar memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan menggunakan pewarna batik sebenarnya. Namun karena pewarna Dermenir merupakan pewarna “penganti” tentu ada kelemahannya. Keunggulan dan kelemahan tersebut bisa dilihat pada uraian berikut.

1. Keunggulan-keunggulan penggunaan pewarna Dermenir dalam PBM:

a. Tampilan fisik nyata (linier), antara warna di wadah dengan warna setelah digoreskan ke permukaan kain. Misal di wadah berwarna merah, maka hasil goresan di atas permukaan kain juga berwarna merah.

b. Cara pembuatannya sangat mudah dan sederhana. Bahan pencampurnya cukup air dingin dan binder (tidak repot).

c. Karena tampilan fisiknya nyata, memudahkan peserta didik untuk memilih warna sesuai dengan keinginannya, sehingga hasil goresan warna di atas permukaan kain sesuai dengan keinginan siswa.

d. Pemakaiannya mudah, cukup dikuaskan kepermukaan kain (teknik colet) atau mencelupkan kain ke dalam wadah yang berisi warna (teknik celup).

e. Apabila dua warna dicampur maka hasil warna campuran tersebut sesuai dengan teori warna. Misal warna merah dicampur dengan warna biru maka menghasilkan warna ungu.

f. Apabila warna tidak habis digunakan pada waktu itu, warna masih bisa digunakan untuk kesempatan lain. Asal tidak kering warna masih bisa digunakan dengan baik.

g. Tempat penyimpanannya cukup dimasukkan ke wadah yang bisa ditutup.

h. Persebaran bahan pewarna Dermenir sangat luas, mudah untuk mendapatkannya.

i. Harga pewarna Dermenir di pasaran relative murah.

j. Keawetan warna yang menempel pada kain setelah proses “nglorod”, dijamin awet. Karena ketika proses “nglorod”, kain batik dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air mendidih (posisi masih di atas kompor yang menyala), hasilnya warna tidak luntur. Dari fakta tersebut penulis yakin tingkat keawetan warna tidak perlu diragukan.

2. Kelemahan-kelemahan penggunaan pewarna “Dermenir” dalam PBM:

Warna alternatif Derminer adalah warna pengganti dari pewarna batik yang sesungguhnya. Karena berkedudukan sebagai “pengganti” otomatis yang segala sesuatu yang dimiliki oleh pewarna ini berbeda dengan pewarna batik yang sesungguhnya. Dilihat dari ketajaman, kualitas, efek yang ditimbulkan oleh warna pengganti tentu tidak semaksimal dari pewarna batik yang sesungguhnya. Pada waktu proses “nglorod” , ketika air sudah mendidih maka dimasukkan soda api untuk mempermudah proses “nglorod”. Ternyata campuran soda api dan panasnya air mendidih mempengaruhi kualitas ketajaman pewarna Derminer. Pada pewarna batik yang sesungguhnya ketika pewarna terkena air mendidih yang bercampur soda api maka kualitas warna akan semakin tajam (jreng). Hal ini perlu menjadi perhatian.

Hasil Pembelajaran Membatik Menggunakan Pewarna Dermenir

Kegiatan pembelajaran membatik menggunakan pewarna alternative “Dermenir” telah penulis praktikkan di sekolah. Sudah dua kali (dua tahun) kegiatan itu berlangsung. Hasil praktik pertama (semester genap 2009/2010) dan praktik kedua (semester genap 2010/2011) keduanya berhasil baik. Rencananya pada semester genap tahun pelajaran ini (2011/2012) adalah kali yang ketiga.

Penggunaan pewarna Dermenir dalam pembelajaran membatik ternyata mampu mempermudah proses pembelajaran. Penggunaan pewarna tersebut bisa mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan kesulitan penggunaan warna batik yang sesungguhnya. Guru bisa dengan mudah menjelaskan materi tentang warna dan pewarnaan baik proses membuat, menerapkannya (colet/celup) pada kain batik (karya) dengan detail (efektif). Bagi siswa, penerapan warna Dermenir pada pembelajaran membatik bisa meningkatkan motivasi, kreatifitas, dan keberhasilan belajar. Harapannya mudah-mudahan pengalaman ini bisa menjadi alternatif pilihan bagi teman-teman guru Seni Budaya dalam mengajarkan praktik membatik, utamanya batik tulis.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. 2006. Model Silabus Mata Pelajaran Seni Budaya SMP/MTs. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Riyanto, Didik SE. 2002. Proses Membatik Batik Tulis – Batik Cap Batik Printing. Solo : CV. Aneka.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haru Jokowi-JK di Kapal Phinisi …

Yusran Darmawan | | 25 July 2014 | 10:00

Menggigil di Rio, Sauna di Dubai …

Iskandarjet | | 25 July 2014 | 13:20

US Dollar Bukan Sekedar Mata Uang …

Arif Rifano | | 25 July 2014 | 11:21

9 Tips Meninggalkan Rumah Saat Mudik …

Dzulfikar | | 24 July 2014 | 22:48

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 5 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 6 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 7 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 8 jam lalu

3 Jari Menuju 5 Jari …

Michael Sebastian P... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: