Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Adolf Nugroho

Dilahirkan di Kota Gudeg Jogjakarta. Seorang pendidik, trainer, penulis di majalah SDM dan psikologi. 2,6 selengkapnya

Menjadi Guru yang di Senangi Murid

OPINI | 19 October 2012 | 08:12 Dibaca: 207   Komentar: 0   0

Menjadi Guru yang di Senangi Murid

Part 1

Menjadi guru merupakan panggilan yang sangat mulia. Apalagi di zaman sekarang, guru bukan lagi sebuah profesi yang sederhana. Bahkan menjadi guru merupakan sebuah profesi yang luar biasa, profesi yang tidak lagi dipandang sebelah mata. Terutama dengan peta globalisasi yang memengaruhi ranah pendidikan di Indonesia, menuntut mereka untuk tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, namun juga dituntut untuk cerdas menyikapi pola tingkah laku murid dengan latar belakang kehidupannya. Saya sangat setuju guru perlu menambah kompetensinya, memperdalam ilmu demi kemajuan anak didiknya. Tetapi selain itu guru secara psikologis harus mampu menempatkan diri ditengah anak didik dengan karakternya masing-masing. Sekedar menengok kembali beberapa kasus yang terjadi, guru bahkan sampai melecehkan muridnya, bahkan berlaku tidak senonoh. Sampai pada tahap pemukulan terhadap anak didik. Tercorengnya dunia pendidikan karena ulah oknum guru tersebut dapat membawa dampak psikologis terhadap anak didik terhadap sosok guru.13506090451041210961

Kalau kita melihat sejarah perkembangan pendidikan guru di zaman Belanda, pastilah ada pembedaan pola asuh, yang akan sedikit memengaruhi pembentukan karakter seorang guru tersebut. Ada semacam pandangan, bahwa guru yang di didik di zaman Belanda pastilah galak dan kolot. Mungkin ada benarnya, namun juga ada, salahnya. Benarnya terletak dimana? Galak dan kolot perlu dilihat dari kondisi saat itu yang mana, karakter guru yang galak tidak selalu jelek. Begitupun dengan istilah kolot, sikap ini bagi guru dizamannya sangat diperlukan untuk membentuk pola pikir yang terarah dan menanamkan suatu prinsip yang kuat buat anak didik. Anggapan salah, bahwa tidak semua guru didikan zaman kolonial pasti galak dan kolot, ada juga yang terbentuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Bagaimana di zaman sekarang? Ada situasi dan kondisi yang memang harus fleksible. Beda antara anak didik zaman dulu dan sekarang, anak didik zaman sekarang ada kecenderungan kalau dimarahi gurunya pasti menunjukkan sikap yang tidak senang (marah, ngambek). Mungkin yang paling ekstrem ditunjukkan dengan tidak mau sekolah lagi. Yang paling berbahaya adalah kalau tidak menyukai gurunya, bisa dipastikan pelajarannya ikut tidak disukai. Dampak ini yang akan menurunkan produktifitas anak didik untuk mengikuti proses belajar mengajar di dalam kelas. Situasi seperti ini haruslah dihindari dan tidak terjadi di dalam dunia pendidikan.1350608978926510240

Pola pendekatan personal

Pendekatan personal ini, setidaknya memberi ruang terbuka terjadinya relasi yang kuat. Mengapa? Sebuah pengalaman memberi inspirasi bahwa, pola ini secara konkret dapat dilakukan oleh guru diluar kelas. Bahkan diluar jam sekolah, misalnya disaat ekskul dan mungkin mendampingi anak didik rekreasi kelas. Pengalaman ini pernah saya lakukan sewaktu mengajar di Papua. Dan di waktu tertentu, kami pergi bersama ke pantai dan hutan. Bukan hanya sekedar rekreasi tanpa makna, namun melalui rekreasi ini bisa menjadi sarana untuk melakukan proses pengenalan terhadap anak didik. Entah itu latar belakang kehidupannya, karakternya, harapan-harapannya, pola pikirnya dsb. Selain itu guru dapat menempatkan diri sebagai teman.1350609105807635469

Teman dalam hal ini dipahami dalam konteks PACING. Artinya bertemu dengan orang lain di dunia mereka, mengidentifikasikan dan menyelaraskan dengan orang lain. Manfaat dari pacing salah satunya adalah mampu memahami kemauan, keinginan dan tujuan anak didik. Dalam konteks umum teman dapat dipahami tidak berjarak atau sejajar. Sehingga membuat anak didik tidak segan dan canggung mengutarakan isi hatinya. Sebagai teman dalam konteks PACING guru setidaknya memunyai kemampuan mendengarkan dan berbicara. Terutama bagi anak didik yang sedang bermasalah. Dalam situasi dan kondisi apapun guru menjadi pondasi pembentukan pribadi anak didik. Oleh karenanya teladan guru dimata anak didik harus diwujudkan ditengah proses pendidikan yang sedang berlangsung. Baik itu didalam kelas ataupun diluar kelas. Bersambung……………

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Menuju Jakarta, Merayakan Pestanya …

Hendra Wardhana | | 26 November 2014 | 07:59

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Minum Air Lemon di Pagi Hari dan Manfaatnya …

Gitanyali Ratitia | | 26 November 2014 | 01:38

Ikuti Blog Competition ā€¯Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Teror Putih Pemecah Partai Politik …

Andi Taufan Tiro | 3 jam lalu

Pak JK Kerja Saja, Jangan Ikutan Main di …

Hanny Setiawan | 4 jam lalu

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 10 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Membutuhkan Algojo Daripada Jaksa …

Mohamadfi Khusaeni | 8 jam lalu

Ciremei 3078mdpl bersama Aprak Jaya …

Padlun Fauzi | 8 jam lalu

Bahasa Tarzan Di Pasar Perbatasan …

Nur Azizah | 8 jam lalu

Keroyokan Bangun Pasar Rakyat …

Ahmad Syam | 8 jam lalu

Berhentilah Bermimpi untuk Merdeka …

Eka Putra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: