Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nugraha Romadhan

Kreatif dan kontributif. Aktif dalam kegiatan Djalaluddin Pane Foundation, sebuah lembaga bisnis sosial yang fokus selengkapnya

Masyarakat Pembelajar

OPINI | 20 October 2012 | 14:16 Dibaca: 86   Komentar: 0   0

The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn (Alvin Toffler, penulis dan futuris)

Saat ini kita hidup di sebuah tempat yang tak sebatas Pulau Jawa atau Sumatera, negara Indonesia maupun benua Asia. Kita hidup di sebuah kampung yang bernama bumi. Apa yang terjadi di belahan bumi ini, dapat diketahui pada saat bersamaan di belahan bumi lainnya. Sudah tidak ada lagi sekat-sekat yang mampu membendung arus informasi, terlebih lagi dengan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Ada sekitar 800 satelit komunikasi yang selalu mengorbit di sekitar bumi, satu sama lain saling menyerap dan melepas informasi setiap waktu. Hal ini mengakibatkan kita dalam kondisi keberlimpahan informasi (abundance of information). Jika dulu orang sulit mengambil keputusan karena minimnya informasi, saat ini orang sulit mengambil keputusan karena berlimpahnya informasi.

Tepatlah apa yang disampaikan Alfin Toffler tentang buta huruf abad 21, bahwa bukanlah mereka yang tidak mampu membaca dan menulis namun mereka yang tidak mampu belajar dari keberlimpahan informasi.

Dunia bisnis adalah bidang yang paling cepat memanfaatkan perkembangan TIK karena terkait secara langsung dengan cost and benefit. Dengan adanya sebuah teknologi baru, sebuah proses produksi/pemasaran dapat lebih efektif dan efisien. Dunia pendidikan pun harus mampu memanfaatkan perkembangan TIK dalam pembelajaran. Mengapa? Karena dunia pendidikan akan mengisi aktivitas di dunia bisnis.

Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh menyampaikan bahwa peningkatkan pengetahuan & teknologi, khususnya di bidang TIK, akan memperkuat daya saing Indonesia di mata dunia (http://www.tempointeraktif.com).

Indonesia dengan keberlimpahan sumber daya manusia dan alamnya mempunyai daya tarik yang menggoda negara-negara lain. Mereka menjadikan besarnya jumlah penduduk sebagai konsumen dan melimpahnya sumber daya alam sebagai material untuk proses produksi.

Sudah saatnya kita mampu mengelola sumber daya alam sendiri, dari dan untuk kepentingan bangsa. Memang sesuatu yang tidak mudah, namun harus kita coba. Salah satu cara yang strategis adalah dengan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang berkarakter positif namun juga mempunyai kemampuan untuk belajar di tengah-tengah keberlimpahan informasi.

Kita harus mampu menciptakan dan mengembangkan masyarakat pembelajar (learning society) yang secara aktif menularkan semangat belajar kepada yang lainnya. Masyarakat pembelajar dapat dimulai dari dunia pendidikan. Dunia pendidikan harus mampu memanfaatkan perkembangan TIK dalam pembelajaran agar output dari sekolah sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai moral universal yang menjadi jati diri bangsa. Guru menjadi figur yang mempunyai peran sangat signifikan untuk mempercepat akselerasi tersebut.

Insya Allah dengan bergandeng tangan, bersinergi kita mampu menciptakan dan mengembangkan masyarakat pembelajar berbasis TIK dan nurani ihsani. Jangan sampai dunia pendidikan memproduksi manusia-manusia yang bergelar namun tak terpelajar. “They are schooling, but not learning. They are reading, but learning nothing.”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

5 Jam Menuju Museum Angkut, Batu-Malang …

Find Leilla | | 31 July 2014 | 18:39

Kecoa, Orthoptera yang Berkhasiat …

Mariatul Qibtiah | | 31 July 2014 | 23:15

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Menjenguk Blowhole Sebuah Pesona Alam yang …

Roselina Tjiptadina... | | 31 July 2014 | 20:35


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 11 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 15 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 19 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: