Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Apa Yang Dilakukan Guru Ketika Tidak Ada Jam Mengajar?

REP | 24 October 2012 | 00:13    Dibaca: 540   Komentar: 3   3

Disekolah-sekolah yang memiliki kelas dan murid yang banyak serta jumlah guru yang cukup, mungkin sedikit sekali  istilah “jam kosong” atau “tidak ada jam mengajar” bagi bapak/ibu guru. Apalagi mereka yang sudah bersertifikasi waktu mengajar 24 jam seminggu itu kadang hanya beberapa jam saja waktu luangnya. Namun bagi guru-guru yang mengajar di sekolah yang kelebihan guru, atau di daerah pinggiran, di pulau-pulau, daerah pesisir, dan daerah terpencil lainnya “jam kosong” itu sangat banyak. Apa penyebabnya karena jumlah kelas dan siswa yang sangat sedikit.

Nah anda ingin tahu apa-apa saja yang dilakukan bapak/ibu guru tersebut pada jam kosong itu?

1. Memekrisa catatan, Latihan atau Tugas Siswa

Aktivitas ini adalah kegiatan rutin bapak/ibu guru. Guru-guru yang banyak jam mengajarnya bahkan sampai harus membawa pulang ke rumah aktivitas ini. Kadang harus mengorbankan waktunya bersama keluarga. Belum lagi beban membuat perangkat mengajar dan lain sebagainya.

2. Ngerumpi

Nah, ini bukan hanya didominasi ibu-ibu guru saja tapi bapak-bapak guru juga melakukannya. Topik yang dibicarakan kalau tidak sepak terjang kepala sekolah, atau guru-guru lain yang dianggap lain dan aneh.

3. Datang Lambat atau Pulang cepat

Banyak juga bapak dan ibu guru yang memanfaatkan jam kosong ini untuk  datang lambat atau pulang cepat. Biasanya terjadi di sekolah-sekolah yang siswanya sedikit dan tak banyak kelasnya serta kepala sekolahnya yang santai atau tidak ketat dalam disiplin sekolah.

4. Tidak masuk sama sekali.

Kadang ada waktunya bisa sehari itu bapak/ibu guru tidak ada jam mengajar, tidak ada tugas menjadi wakil kepala sekolah, wali kelas atau piket. Maka banyak bapak/ibu guru yang memilih tidak masuk. Ini biasanya ditemukan disekolah-sekolah yang sedikit kelas dan siswanya.

Wah enak ya jadi guru? kata sebagian orang dengan nada menyindir. Semu guru sebenarnya tidak ingin seperti itu. Namun karena sistem pendidikan kita yang masih kaku akhirnya hal ini banyak terjadi.  Bahkan dengan kondisi tugas mengajar menjadi sedikit itu membuat guru menjadi malas. Begitu juga pangkat golongannya juga tidak akan naik-naik karena Angka Kredit dari beban mengajarnya tidak mencukupi. Makanya tidak heran guru-guru disekolah terpencil yang sedikit siswanya ata disekolah dikota-kota yang berlebih gurunya  itu sangat lambat naik pangkat golongannya.

Nah kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan terus menerus, pemerintah yang menangani bidang pendidikan ini harus mengevaluasi kembali aturan tugas pokok , jam mengajar, naik pangkat, masalah sertifikasi dan sebagainya agar semua berlaku adil bagi seluruh guru di indonesia.

Disekolah saya ada guru PNS muda yang sudah mengajar 5 tahun tidak dapat mengajar sesuai ijasahnya karena guru seniornya yang sama pendidikannya semua sudah bersertifikasi, akhirnya jadilah dia menjagar mata pelajaran berbeda latar pendidikannya seperti muatan lokal (mulok), seni budaya atau olahraga. Alhasil dia tidak bisa naik pangkat karena mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan pendidikannya.

Korban kebijakan sertifikasi, pendistribusian guru yang tidak merata, aturan kenaikan pangkat yang tidak adil, dan sebagainya mungkin sangat banyak kita jumpai dilapangan. Dan mereka pun tidak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah mendapati nasib.

Dilema. Mau pindah dari kota yang gurunya berlebih ke daerah terpencil agar bisa mengajar sesuai pendidikan, guru di daerah terpencil saja pun kekuarangan jam. Mau pindah ke daerah lebih terpencil lagi seperti pulau-pulau terluar? Selain jam mengajar yang dikejar sedikit dipulau itu juga tidak tega meninggalkan keluarga.  Akhirnya guru-guru tersebut memilih menikmati “jam kosong”nya itu.Biarlah seperti ini saja, yang penting gaji tetap jalan. Itu prinsip mereka.

Saya pernah mengusulkan untuk menambah jam mengajar guru, dibuka kelas pagi dan siang. Jumlah siswa dikelas dijadikan separuhnya. Jika sebelumnya perkelas itu ada 32 siswa maka dijadikan saja 16 siswa perkelas. Dengan sistem ini kita bisa membuat kelas pagi dan sore dan jam mengajar guru pun bertambah dua kali lipat, sehingga semua guru bisa memenuhi kewajiban 24 jam mengajar. Keuntungan lainnya anak-anak di kelas lebih mudah dikontrol dan saya yakin pelajaran akan lebih gampang diterima oleh semua anak. Namun usul ini tidak diterima oleh sekolah, karena melanggar aturan standar minimal siswa perkelas katanya.

Alhasil,  “jam kosong” tetap akan ditemukan disekolah-sekolah indonesia. Dan jangan salahkan banyak guru yang berbuat hal-hal diatas. hehehe…salam!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Berita Foto] Duel 7500 Pendekar Silat di …

Hendra Wardhana | | 01 June 2015 | 08:39

Menyemai Jiwa Wirausaha Selagi Muda …

Isson Khairul | | 01 June 2015 | 09:01

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48

FIFA Tutup Mata Bola Dikuasai Mafia Politik …

Edo Media | | 01 June 2015 | 04:11

Mengemas Curhat jadi Tulisan Bermanfaat …

Listhia H Rahman | | 31 May 2015 | 23:22


TRENDING ARTICLES

Tidak Ada Ruginya Sanksi FIFA …

Rifki Radifan | 1 June 2015 07:04

Jokowi dan Reformasi Sepak Bola Indonesia …

Suyono Apol | 1 June 2015 06:20

Buwas Dipecat …

Axtea 99 | 1 June 2015 03:05

Bella Shofie, Resmi Dinikahi dengan Dokumen …

Seneng Utami | 1 June 2015 00:42

Perang Opini Pemerintah vs PSSI Menyangkut …

Erwin Alwazir | 1 June 2015 00:35


Subscribe and Follow Kompasiana: