Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Armand

Lahir di Polmas-Sulbar. Penulis Buku: "Remaja & Seks". ILUNI. Mengajar di Universitas Sultan Hasanuddin, Makassar-Sulawesi selengkapnya

Ayam Kampus Itu Mahasiswiku

OPINI | 29 October 2012 | 19:16 Dibaca: 1761   Komentar: 0   15

Saya memang mesti malu sebab dunia perguruan tinggipun diwarnai bisnis esek-esek. Pelakunya disebut Ayam Kampus, pelaku itu adalah mahasiswiku. Dan mengapa istilah ayam kampus diperhalus?. Bukankah ayam kampus itu adalah Pekerja Seks Komersial?. Lebih sarkas lagi disebut Perempuan Eksperimen. Bahkan era 80-an dinamai salome. Maaf jika istilah saya kelewat kasar kali ini.

13515116041873145044

Bangka Tribun News com

Ini hasil dari sebuah diskusi yang berujung perdebatan sengit. Kenapa berakhir dengan adu mulut dan debat kusir?. Sebab, image ayam kampus -menurutnya- ‘lebih baik’ dibanding PSK. Saya katakan kepada ‘lawan’ diskusi bahwa apa bedanya antara PSK dengan Ayam Kampus?. Coba apa bedanya?. Toh sama-sama bertransaksi dan berpeluang menularkan HIV/AIDS.

Menurut ‘lawan’ diskusi saya, Ayam Kampus lebih elit, lebih punya martabat dan intelek. Saya balik membalasnya, jika intelek pasti ia optimalkan kecerdasannya dan tak akan pernah mau jadi Ayam Kampus. Lawan bicaraku terdiam. Sebuah diskusi yang memiliki cara pandang berbeda. Iya, orang di kampus memang tergambar intelektualitas, tetapi itu hanya ‘deskripsi’. Sebab tawuranpun bukan sebuah cerminan intelektualitas…!

Menurut lawan diskusiku lagi bahwa Ayam Kampus lebih dominan disebabkan masa lalu yang buruk, keluarga tidak bahagia dan kehilangan virginitas dan lain-lain.

Maaf, saya takkan pernah setuju dengan anggapan ini. Mau istilah apa kek yang digunakan, yang namanya transaksi seksual -di lokalisasi, yang terselubung, kaum intelek, kaum tak intelek- semua memiliki latar belakang yang identik. Ditambah lagi dengan faktor ekonomi beserta tete bengeknya.

Dimana Intervensi Bisnis Esek-esek di Perguruan Tinggi?

Saya tak cari sensasi dan popularitas lewat tulisan. Sungguh bukan itu maksudku. Bukan pula ingin menjatuhkan sang mahasiswi, bahkan tulisan ini malah menenggelamkanku sebagai pendidik di perguruan tinggi. Semestinya sebuah tamparan bertubi-tubi setiap perguruan tinggi, dimana teori-teori tentang peradaban?. Tentang filsafat tingkah laku? Guidance and counseling?.

Adakah perguruan tinggi yang benar-benar memfokuskan perhatian terhadap gejala sosial ‘penyakit masyarakat’ di kampus?. Bahkan menurut seorang Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan yang pernah saya wawancarai, beliau berucap: “Itu di luar kewenangan universitas!!!”. Sebuah jawaban terasa aneh, bukankah ini ancaman terhadap kesehatan dan ancaman intelektualitas dunia kependidikan di universitas?.

Ayam Kampus Itu Mahasiswiku

Stigma sosial ini telah menjadi pembicaraan umum, biasa dan seolah tak meresahkan. Bukan hanya pada hancurnya generasi muda via mentalitas tetapi ini merobohkan kualitas fisik apatah lagi bersinggungan dengan HIV AIDS yang mematikan.

Adalah Metty (nama samaran), mahasiswiku yang telah terjerembab jauh dalam urusan transaksi seksual, segmennya kelas menengah ke atas, pejabat dan anggota dewan -maaf saya tak menggenalisir- dan esmu (eksekutif muda). Ini pengakuan Metty di saat saya berjumpa di sebuah lobby hotel.

‘Content Analysis’ dari ucapan mahasiswiku ini menggambarkan bahwa ia memiliki kelas khusus, bukan sembarang kelas. Hingga terpancar ‘rasa bangga’ dibalik rasa bersalah yang sedang menghimpitnya. Dan pucat pasihlah wajahnya ketika saya menyimpulkan bahwa istilah Ayam Kampus adalah sebuah eufimisme (penghalusan). Dan sejatinya (denotatif), Ayam Kampus itu adalah Pekerja Seks Komersial….!. Jangan pernah ragukan istilah ini….!^^^

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 4 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 6 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 8 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 9 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Cinta Sejati …

Adhikara Poesoro | 8 jam lalu

Mengenal Air Asam Tambang …

Denny | 8 jam lalu

Afta dan Uji Kompetensi Apoteker …

Fauziah Amin | 8 jam lalu

Demo BBM vs Berpikir Kreatif …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa (Paradigma Baru …

Ikhlash Hasan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: