Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aris Heru Utomo

Tinggal di Beijing. Menulis lewat blog sejak 2006 dan akan terus menulis untuk mencoba mengikat selengkapnya

Pelajar Indonesia Setiongkok Bentuk Organisasi Tunggal PPIT

REP | 30 October 2012 | 06:16 Dibaca: 392   Komentar: 0   0

13515515261848076923

Suasana Kongres Pertama PPIT / foto oleh Aris Heru Utomo

Tanggal 28 Oktober bagi bangsa Indonesia merupakan salah satu tanggal bersejarah yang menandai tonggak penting semangat pemuda yang menginginkan kemerdekaan dan persatuan bangsa. 84 tahun lalu, 28 Oktober 1928, para pemuda yang mewakili berbagai daerah dan organisasi seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dan lain-lain berkumpul di Jakarta untuk mengikuti Kongres Pemuda II dan mengikrarkan diri untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia.

84 tahun kemudian, sebanyak 28 pemuda pelajar Indonesia yang mewakili 14 organisasi pelajar di berbagai kota dan provinsi di Tiongkok seperti Persatuan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (PERMIT) di Beijing dan Shanghai, Persatuan Mahasiswa Indonesia di China (PERMIC) di Xiamen, Indonesia Student Community (ISC) di Hangzhou, Shuzhou, Ningbo, Nanning, dan lain-lain berkumpul di Beijing mengikuti Kongres Pelajar Indonesia di Tiongkok yang pertama. Selama dua hari dari tanggal 27-28 Oktober 2012, mereka berkumpul di aula serba guna KBRI Beijing untuk membahas rencana pembentukan organisasi tunggal yang akan menjadi wadah kegiatan bersama pelajar Indonesia di Tiongkok.

Setelah selama dua hari membahas rancangan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta program kegiatan, Kongres berhasil membentuk organisasi tunggal pelajar Indonesia di Tiongkok yang disebut Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT). Sesuai AD/ART, PPIT Pusat berkedudukan di Beijing, sementara di setiap provinsi di Tiongkok dibentuk cabang PPIT seperti PPIT Beijing, PPIT Shanghai, PPIT Wuhan, PPIT Xiamen dan sebagainya. Organisasi PPIT dipimpin oleh seorang Ketua yang dipilih secara demokratis oleh perwakilan PPIT cabang.

Melalui pemilihan yang berlangsung dalam dua putaran, karena pada putaran tidak terdapat suara mayoritas 50%+1, terpilih sebagai ketua PPIT yang pertama adalah Trisna Widyani mahasiswi S2 Hubungan Internasional Xiamen Unversity. Trisna Widyani, biasa dipanggil Metta, pada putaran pertama mendapat 7 suara mengungguli dua calon lainnya yaitu Susilo dari Hubei University Provinsi Wuhan (2 suara) dan Dodo dari Beihang University, Beijing (5 suara). Sementara pada putaran kedua, Metta mendapat tambahan 2 suara dari pendukung Susilo sehingga Metta meraih suara mayoritas 9 suara, mengungguli Dodo yang tetap dengan 5 suara.

135155186974549967

Metta, Ketua Terpilih PPIT / foto oleh Aris Heru Utomo

Sesuai janji yang disampaikan saat kampanye, Metta yang juga aktif di PPI dunia sebagai salah satu anggota di bidang ekonomi, yakin dapat membawa PPIT sebagai organisasi pelajar yang memiliki peran penting di kancah pergaulan dunia, sejajar dengan PPI lainnya yang sudah berdiri sejak lama. Apalagi mengingat potensi pelajar Indonesia di Tiongkok yang tidak kalah dengan pelajar Indonesia di negara-negara lain. Jika pelajar Indonesia bisa bersaing di Tiongkok, maka mereka juga bisa bersaing di dunia. Untuk menjalankan program kegiatannya, sesuai AD/ART, Metta diberikan kesempatan untuk segera membentuk kepengurusan dalam waktu tidak terlalu lama.

Menurut pandangan penulis yang berkesempatan langsung melihat jalannya beberapa pembahasan rancangan AD/ART di Kongres sebagai pengamat “abal-abal”, karena bukan pelajar apalagi peserta Kongres, semangat para pelajar Indonesia di Tiongkok untuk bersatu sangat luar biasa dan patutu diacungi jempol. Hal ini terlihat dari suasana pertemuan yang berlangsung lansar, sangat dinamis dan demokratis tanpa ada friksi antar pelajar dari satu organisasi dengan organisasi lain.

Pembentukan PPIT tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah organisasi kepemudaan Indonesia di Tiongkok karena untuk pertama kalinya berhasil menyatukan beragam organisasi pelajar Indonesia di berbagai kota dan provinsi di Tiongkok. Dengan terbentuknya PPIT tidak ada lagi PERMIT, PERMIC, ISC dan sebagainya. Semua melebur ke dalam PPIT.

Dengan bersatu dalam satu organisasi tunggal, tentu saja diharapkan para pelajar tidak lagi terkotak-kotak dalam beragam wadah dan tidak mencerminkan semangat persatuan Indonesia. Dengan satu organisasi yang solid dengan struktur yang jelas, kegiatan pelajar Indonesia di Tiongkok, baik di pusat maupun daerah, bisa menjadi lebih solid. Aspirasi dan kegiatan pelajar Indonesia di Tiongkok dapat dilakukan secara lebih sinergis dan bisa memiliki kekuatan yang lebih besar.

Selain hal di atas, yang tidak kalah petingnya adalah terbukanya kesempatan bagi pelajar Indonesia untuk bisa saling mengenal dan menjalin komunikasi yang lebih intens selama menjadi pelajar di Tiongkok. Seperti dikatakan seorang pelajar asal Beijing, “selama ini pelajar Indonesia di Tiongkok berjalan sendiri-sendiri. Kita tidak memiliki kesempatan melakukan kegiatan bersama, apalagi mengenal pelajar Indonesia di kota lain, namun dengan adanya Kongres ini dan nantinya organisasi tunggal pelajar Indonesia, kesempatan itu menjadi terbuka dan bisa lebih luas. Apalagi jika nanti ada jaringan komunikasi yang baik antar pelajar Indonesia”.

Apa yang dikatakan pelajar tersebut di atas tidak berlebihan apalagi mengingat bahwa berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan Tiongkok, jumlah pelajar Indonesia di Tiongkok ternyata tidak sedikit. Setidaknya pada awal tahun 2012, sesuai permintaan visa students, terdapat 9.539 pelajar Indonesia di Tiongkok, dengan mayoritas berada di Beijing, Shanghai dan Guangzhou. .

Menutup Kongres, peserta juga sepakat untuk menghasilkan pernyataan bersama yang disebut Deklarasi PPIT, yang berisi komitmen untuk:

1) Mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan dan kegiatan akademis pelajar Indonesia

2) Memupuk rasa kebersamaan, nasionalisme dan patriotisme pelajar Indonesia

3) Mempererst interaksi positif, menyediakan informasi dan advokasi bagi pelajar dan calon pelajar Indonesia

4) Memberikan kontribusi positif yang proaktif, kritis, rasional, demokratis, independen dan cinta dama

5) Memainkan peran dinamis dalam mengisi kemitraan strategis RI dan RRT baik dalam hubungan bilateral, regional maupun global

Selain itu, Deklarasi PPIT juga berisi permintaan kepada Pemerintah RI untuk bersikap tegas terhadap segala tindakan yang mengancam keutuhan bangsa dan NKRI, serta mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk senantiasa mengawal demokrasi.

Mengutip perkataan tokoh filsafat Tiongkok Lao-tzu ‘A journey of thousand miles begins with a single step“, maka pembentukan PPIT di hari Sumpah Pemuda baru merupakan langkah awal. Masih ada ribuan atau ratusan ribu mil langkah untuk mengembangkan kerjasama antar pelajar Indonesia di Tiongkok guna memberikan kontribusi bagi upaya nyata mengisi kemerdekaan bangsa dan negara serta mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat Indonesia.

Selamat untuk PPIT, sukses selalu.

Tags: ppit

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Petualangan Anak Indonesia” …

Tjiptadinata Effend... | | 31 August 2014 | 11:15

Kerja Bakti Juga Ada di Amerika …

Bonekpalsu | | 31 August 2014 | 04:45

Asyiknya Belajar dengan Mind Map …

Majawati Oen | | 31 August 2014 | 11:24

Senja Kala Laut Mati …

Andre Jayaprana | | 31 August 2014 | 13:15

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jokowi Melakukan Kebodohan Politik Besar? …

Daniel Yonathan Mis... | 4 jam lalu

Jokowi Tidak Tahan Lama …

Kokoro ? | 6 jam lalu

Usulan Hebat Buat Jokowi-Prabowo Untuk …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Oknum PNS Memiliki Rekening Gendut 1,3 T …

Hendrik Riyanto | 8 jam lalu

Lurah Cantik nan Kreatif dan Inspiratif …

Axtea 99 | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: