Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Johan Wahyudi

Kolumnis, Penulis, Penyunting, dan Motivator Kepenulisan dan PTK. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Deskripsi Lengkap: selengkapnya

Mengapa Guru Harus Melakukan PTK?

OPINI | 02 November 2012 | 12:58 Dibaca: 1331   Komentar: 0   5

1351835755972377456

Membangun semangat menulis di Jakarta.

Tugas pokok dan fungsi guru ada lima, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakannya, mengevaluasinya, meremidinya, dan memerkayanya. Lima tupoksi itu terasa ringan jika dirasakan ringan tetapi teramat amat berat jika dirasa berat. Berat-ringan akan dirasakan dan itu sangat dipengaruhi oleh motivasi guru. Maka, sungguh mulianya jika guru memiliki motivasi tinggi untuk terus memerbaiki kinerjanya seraya berusaha menata diri. Dan salah satu sarana memerbaiki kinerja guru adalah menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Mengapa?

Banyak rekan guru dan dosen masih malas melakukan PTK. Rerata mereka beranggapan bahwa PTK tidak penting, pembelajaran yang dilakukannya dianggap telah baik, dan tidak mengetahui prosedur PTK. Akhirnya, seumurnya menggeluti profesinya, guru dan atau dosen belum sekalipun melakukan PTK. Dan situasi itu teramat disayangkan manakala guru dan dosen mengetahui keuntungan PTK. Menurutku, setidak-tidaknya, PTK memberikan tiga keuntungan.

Meningkatkan Mutu Pembelajaran

Saya sering mendapat keluhan dari siswa dan mahasiswa perihal metode mengajar yang digunakan guru atau dosennya. Pada umumnya, keluhan itu berisi tentang dosen atau guru yang menggunakan metode konvensional atau ceramah sehingga membosankan para siswa atau mahasiswa. Mendapat keluhan itu, mestinya guru dan dosen merefleksikan pembelajarannya. Mungkin pendekatan, strategi, model, metode, atau media pembelajaran yang digunakan guru atau dosen dirasa siswa atau mahasiswa kurang menarik.

PTK adalah solusi paling tepat untuk memerbaiki kondisi itu karena PTK bertujuan untuk memerbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran. Kualitas proses dapat ditingkatkan melalui pengubahan perilaku negatif siswa atau mahasiswa menjadi positif. Motivasi belajar yang tinggi tentu akan memengaruhi kualitas hasil. Kualitas hasil dapat dilihat pada perolehan nilai sehingga minimal mencapai batang ambang batas minimal atau Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Kredit Poin untuk Kenaikan Pangkat

Konon kepangkatan guru mentok di Iva atau Pembina. Jarang sekali guru berhasil memiliki pangkat IV atau Pembina Tingkat 1. Kondisi ini disebabkan keengganan guru untuk menulis karya ilmiah karena kenaikan pangkat dari IVa ke IVb memang diharuskan dilengkapi dengan karya ilmiah. Bahkan, berdasarkan peraturan terbaru, guru dengan golongan IIIa harus melampirkan karya ilmiah jika ingin mengurus kenaikan pangkat ke IIIb.

Maka, alangkah baiknya jika guru dan dosen mulai menekuni PTK sejak dini. Sebenarnya penyusunan PTK tidaklah sesulit bayangan. Namun, sekali lagi, motivasi memang belum dimiliki oleh kebanyakan guru dan dosen. Entah ketidaktahuan untuk memulainya atau memang kemalasan itu telah menjadi darah dagingnya. Menurutku, tidak ada istilah terlambat untuk memulai diri daripada tidak melakukan sama sekali. apakah seumur-umur guru hanya akan berada di kepangkatan rendah jika kesempatan masih terbuka lebar?

Mencerdaskan Otak

Kesegaran fisik dapat dilakukan dengan memberikan asupan gizi: makanan bervitamin, mineral, protein, karbohidrat dan lain-lain. Namun, asupan gizi otak bukanlah barang fisik seperti kebutuhan fisik. Gizi otak adalah ilmu dan ilmu itu berasal dari buku sedangkan menyantapnya melalui kegiatan membaca. Maka, hendaknya kita memberikan asupan gizi otak seraya sering membaca buku. Yakinlah bahwa otak kita akan terasa sehat dan segar setelah membaca buku. Mengapa?

Konon kemampuan baca-tulis guru dan dosen di Indonesia masih tergolong lemah. Kondisi ini dapat dilihat dari minat baca dan membeli buku yang memang masih rendah. Bahkan, setiap dilaksanakan lomba menulis, saya sering bertemu dengan guru yang “itu-itu” saja. Jarang sekali saya bertemu dengan guru lain. Jika sering membaca dan menulis, tentu otak akan selalu dipenuhi oleh ide-ide segar yang teramat berharga untuk pengembangan selanjutnya. Menulis PTK tentu harus didukung oleh kegemaran membaca buku sebagai referensi!

Sekadar bertukar pengalaman. Saya mulai menggeluti dunia menulis buku sejak 2006 dan melakukan PTK sejak 2008. Pada awalnya, saya hanya senang menulis tanpa didasari oleh keinginan untuk mendapatkan ini dan itu. Semata demi meningkatnya mutu pembelajaran. Tak terasa, kebiasaan menulis itu telah menghasilkan sekitar 62 buku/ modul dan 12 PTK. Dan semangat menulis itu tak pernah kendor dan saya tidak akan meninggalkan kebiasaan menulis ini semasa hidup. Yuk, menulis PTK…!!

Teriring salam,

Johan Wahyudi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 12 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 14 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 14 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 15 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: