Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Agustina

Agustina bekerja di Laboratorium Bahasa SMA Santo Paulus Pontianak. Pembina Ekskul Buletin Varia SMA Santo selengkapnya

Pendidikan Berkarakter Pancasila

OPINI | 03 November 2012 | 10:26 Dibaca: 625   Komentar: 0   0

Pendidikan berkarakter  atau biasa disebut pendidikan yang memiliki kepribadian yang luhur. Kalau dalam ajaran agama pendidikan karakter sangat diutamakan, dimana simbol kepribadian yang di objekkan diharapkan dapat diteladani oleh pengikutnya. Biasanya nilai-nilai kepribadian dalam ajaran agama bersumber dari Kitab Suci ataupun tokoh-tokoh agama  seperti Nabi,Santa-Santo, Rasul dsb. Kepribadian para tokoh-tokoh agama digunakan sebagai simbol utama dalam pendidikan karakter tersebut.

Pendidikan kepribadian kebanyakan di dominasi oleh agama, maka tidak heran sumber yang dicontohkan selalu disebut-sebut namanya supaya bisa diikuti oleh para pengikutnya. Inilah yang terlihat dalam pendidikan agama. Pendidikan karakter ini ibarat mengisi kekuatan dalam tubuh manusia. Supaya manusia tersebut bisa berguna bagi dirinya,keluarganya juga masyarakat yang ada di sekitarnya. Permasalahan yang banyak terjadi terkadang adalah jika pendidikan karakter yang diajarkan menyimpang, maka hasil akhirnyapun bisa membahayakan sesama.

Pendidikan berkarakter atau berkepribadian luhur sama seperti seorang pembuat roti yang yang ingin membuat rotinya terasa enak dan lezat. Awalnya roti bukanlah apa-apa jika tanpa melalui proses panjang. Roti itu bisa terasa enak karena si pembuat roti memberikan beberapa campuran di dalamnya yaitu ada tepung, permipan ( pengembang kue ), gula, mentega, air. Roti tersebut dibentuk, diadon melalui proses yang lumayan lama. Maka baru bisa terbentuk roti dan akhirnya bisa dinikmati oleh lidah manusia.

Manusia juga diibaratkan roti, dimana untuk menjadi manusia yang berkarakter kita perlu dibina, dibentuk, diolah dengan berbagai macam kepribadian. Mulai dari kepribadian yang bernama kejujuran, rendah hati, tidak pendendam, sabar, tidak suka iri hati, mengampuni dsb.

Di Sekolah juga sebenarnya sangat ditekankan pendidikan yang berkarakter nilai-nilai yang luhur. Karakter yang cocok untuk siswa-siswi di sekolah biasanya disesuaikan ajaran agama yang ada di sekolah tersebut. Selain itu  ditambah karakter pendidikan Pancasila. Kalau hanya karakter agama saja yang dibentuk untuk siswa-siswi mereka akan tampak terlalu fanatik terhadap orang lain. Dan bahkan muncul rasa sukuisme yang sangat tinggi, akibat dari pendidikan karakter yang tidak baik.

Dalam agama Katolik, biasanya karakter yang ingin dimasukan dalam pengikutnya adalah kejujuran, rendah hati, murah hati, mengampuni, melayani  yang lemah seperti anak-anak cacat, melayani anak yatim piatu. Tentunya kepribadian tersebut didasari dari kepribadian Yesus Kristus. Selain agama Katolik, saya yakin masing-masing agama juga sudah mempunyai tokoh ataupun sumber yang dapat dijadikan inspirasi kepada pengikutnya, supaya para pengikutnya memiliki spiritualitas. Tapi sekali lagi,tidak semua karakter yang dicita-citakan tersebut bisa langsung diikuti oleh manusia, karena bisa jadi bentukan keluarga / keturunan kadang menjadi penghambat semua ini.

Akhir-akhir ini, sangat marak sekali kekerasan antar kelompok, premanisme, permusuhan satu-sama lain, peristiwa seperti ini sudah barang tentu merupakan refleksi buat bangsa dan negara ini. Negara yang katanya beragama dan berbudaya tinggi ini, sekarang lebih dikenal dengan negara anarkisme. Sebenarnya adakah yang salah dalam pendidikan karakter manusia di dalamnya. Yang jelas pasti ada.Ya, pendidikan karakter dan kepribadian bernafas panas telah mengubah wajah negeri ini menjadi tampak sadis dan fanatik.

Ketika RI merdeka telah disepakati kalau Pancasila adalah dasar negara, bhineka tunggal ika  merupakan falsafah kehidupan bangsa. Dengan modal dasar negara Pancasila, para pendiri bangsa mencoba membentuk,membenahi, menjalankan negara walaupun pada akhirnya jatuh bangun, walaupun begitu bangsa ini  masih mencoba tegak berdiri. Sebenarnya pendiri negara ini awalnya ingin bercita-cita mentransformasikan karakter Pancasila ke dalam jiwa dan raga masyarakat, tapi dalam perjalanan waktu memang tidak bisa dijalankan diakibatkan berbagai penghianatan. Penghianatan-penghianatan terhadap kepribadian Pancasila inilah yang sebenarnya telah menjadi sumber malapetaka buat bangsa dan negara ini. Dimana segala sesuatu tidak diletakan pada tempatnya. Ibarat hukum alam, dimana kaki dipijak disitu langit dijunjung, dimana kamu hidup harusnya kamu bisa menghargai itu, tapi karena tidak saling menghormati masing-masing kebiasaan terjadilah bentrokan antar suku, saling ejek,saling hina satu sama lain dan itu bukan hal yang aneh lagi di negeri ini.

Kini sampai kapankah penghianatan ini terus akan terjadi? Karakter Pancasila yang katanya berpihak pada ekonomi kerakyatan, kemanusiaan yang adil dan beradab, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tapi karakter tersebut tidak dimiliki manusia-manusia yang ada di dalamnya. Kemanakah spiritualitas Pancasila itu pergi? Jangan-jangan Sang Garuda sedang terlelap atau masih pergi ke Luar Negeri? Salah didikkah anak-anak di negeri ini? Bisa saja itu terjadi.

Pada dasarnya pendidikan karakter Pancasila bisa ditransformasikan ke dalam jiwa dan raga rakyat Indonesia sejak masih kecil. Jika tidak maka bersiap-siaplah satu sama lain yang berbeda-beda ini saling membeda-bedakan, saling anarkisme, saling tuding dsb. Dunia pendidikan diharapkan berperan penting untuk membentuk karakter bangsa. Karena dunia pendidikan masih dinilai netral dalam mendidik dan membentuk kepribadian manusia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Gonzales, ‘Kartu Truf’ Timnas …

Achmad Suwefi | | 24 November 2014 | 09:32

Jaringan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong …

Ida Royani | | 24 November 2014 | 05:47

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 4 jam lalu

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 8 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 10 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Catatan Kompasianival: Lebih dari Sekadar …

Ratih Purnamasari | 7 jam lalu

Komitmen Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca …

Ervina Dwi Indrawat... | 8 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Di Papua 1 Desember Akan Diperingati Hari …

Albert Giay | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa: Jangan Ada Lagi Tikus …

Wicahyanti Pratiti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: