Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Setiawan Widiyoko

setelah menulis pikiran menjadi Plong, Menulis wujud Curhatan Hatiku Blog :http://setiawanopinion.blogspot.com/

Kiamat Teori Agama dan Ilmu Lingkungan

OPINI | 09 November 2012 | 17:43 Dibaca: 481   Komentar: 0   0

1352457571707877600

Ilustrasi bumi akan hancur dan punah

Kehidupan yang ada di Bumi dan antariksa tidak ada yang abadi, keabadian hanya milik tuhan, Zat, Allah, demikian agama mengajarkan kepada umatnya. Manusia, hewan, tumbuhan  hanyalah bagian pelengkap untuk mengisi alam semesta agar terjadi suatu keselarasan, keseimbangan, kesemakmuran serta keterkaitan dalam rangka memenuhi keberlangsungan hidup.

Didalam ajaran agama sudah diajarkan sejak kita masih kecil tentang kehidupan alam, kehidupan yang akan datang yaitu akhirat, kehidupan hasil reinkarnasi, kehidupan diluar kemampuan cara manusia untuk memikirkan hal tersebut. Agama juga mengajarkan bahwa kelak semuanya akan binasa, proses tersebut karena adanya Dajal yang turun ke Bumi dan membinasakan semua kehidupan alam semesta. Versi dalam agama Islam ketika malaikat Israfil meniup terompet sangsakala maka saat itu juga semua kehidupan yang ada di alam semesta akan binasa, proses tersebut dalam Islam dinamakan Kiamat. Maka wajar jika doktrinasi agama adalah bagaimana manusia hidup di Alam semesta harus berbuat baik sesuai ajaran agama agar kelak selamat dikehidupan yang akan datang.

Kepunahan menurut agama

Didalam kitab suci tiap pemeluk agama di ajarkan bahwa, hidup di Alam semesta haruslah selalu beramal, berbuat kebajikan, beribadah, mejalankan perintah dan menjauhi larangan tuhan. Semua tindakan tersebut sebagai bekal nanti di akhirat. Kapan kehidupan di Akhirat, yaitu ketika manusia sudah mati atau ketika alam semesta sudah tidak berfungsi lagi atau kiamat ( kepunahan ).

Kepunahan manusia memiliki perbedaan pendapat dari agama satu dan agama yang lainnya, Hindu tidak mengenal adanya kiamat, tetapi mereka lebih mengenal menggunakan istilah Pralina atau Pralaya yaitu menjelaskan bahwa semua ciptaan tuhan ditata berdasarkan hukum utpati (tercipta), sthiti (hidup terpelihara) dan Pralina (lenyap kembali kepada asalnya). Alam dan isinya setelah masanya selesai beredar dan berputatar-putar.  Istilah kiamat memang tidak dijumpai dalam ajaran Hindu, karena memang itu bukan bahasa Sansekerta, bahasa yang dipakai dalam ajaran Hindu, baca (http://filsafat.kompasiana.com/2009/12/21/kiamat-menurut-hindu/)

Islam sendiri menjelaskan kiamat yang ada didalam Al-Quran surat  Al-Haaqqah 69:13-34 : “Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku. (Allah berfirman): Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.” (Al-Haaqqah 69:13-34)

Pandangan Kristen tentang kiamat yaitu akan ada kedatangan Yesus yang kedua hanya terjadi satu kali, tiba-tiba dan tak dapat diketahui sebelumnya oleh manusia, dan Kristus akan datang dengan kemuliaan-Nya. Gereja Katolik tidak berusaha meramalkan siapakah Antikristus, ataupun menghubungkan skenario kitab Daniel dan kitab Wahyu. Namun bukan berarti kita layak mengacuhkannya, sebab permenungan akan akhir dunia akan sangat berguna untuk meletakkan kehidupan sehari-hari dalam perspektif yang benar, agar kita tidak terlena dengan kesenangan dan harta duniawi. Hal akhir jaman ini memang layak kita cermati, walaupun itu hanya menyadarkan kita bahwa kita mempunyai beberapa kemungkinan jawaban daripada sesuatu yang sudah pasti. (http://katolisitas.org/1739/akhir-jaman-menurut-ajaran-gereja-katolik-bagian-ke-1).

Kepunahan menurut teori Ilmu Lingkungan

Kepunahan umat manusia kini adalah suatu kemungkinan yang signifikan, hal itu banyak disebabkan oleh dampak-dampak lingkungan dan tindakan-tindakan manusia. Musim dingin nuklir bisa terjadi karena dampak lingkungan peperangan nuklir. Begitu juga malapetaka yang akan membuat punahnya manusia dan mahkluk hidup lainnya tatkala menyebarnya suatu penyakit kesuluruh dunia akibat perang biologis, atau efek samping dari suatu percobaan teknologi yang dampaknya akan mempengaruhi kesimbangan kehidupan semesta alam(Robin Attfiel, 2010)

Masih ingat cerita tentang Dinosaurus, kita hanya bisa melihat cerita sejarahnya saja. Spesies mereka punah karena adanya ketidak seimbangan antara populasi dan daya kebutuhan hidup spesies tersebut, sehingga dari ketidak seimbangan tersebut muncul berbagai macam permasalahan diantaranya dapat beruba kelaparan dan ada pula yang menjadi pemangsa antar sesama. Begitupun juga manusia ketika populasi tidak seimbangan maka yang akan terjadi adalah kebutuhan sumber daya alam yang semakin meningkat. Mungkinkah manusia akan memakan manusia yang lainnya, jawabnya sangat mungkin terjadi, demi isi perut manusia rela melakukan apapun.

Saya mencoba membayangkan ketika bumi tak mampu lagi menampung seluruh mahkluk hidup yang ada didalamnya, apakah bumi masih bisa bertahan atau bahkan akan menurun daya dukungnya. Mungkin para ilmuan saat itu akan berlomba-lomba untuk membuat formula pembatas umur dan bahkan pembunuhan masal melalui virus-virus yang akan disebarkan melui makanan, minuman dan udara.

1352457720525837716

Bumi akan hancur

Lingkungan selalu mengikuti pola hidup manusia, jika manusia tidak bisa menggunakannya secara maksimal maka lingkungan juga tidak akan maksimal dalam memberikan pelayanan kepada manusia (Keraf 2010 ). Mungkinkah suatu saat gravitasi bumi menghilang, mungkinkah matahari semakin mendekati bumi hingga jarak hanya Kilo meter saja, munkinkah laut yang dihuni ikan dan terumbu karang meneggelamkan seluruh daratan di dunia, mungkinkah dampak pencemaran lingkungan tidak bisa diatasi dan akhirnya menjadikan racun yang terus menjalar melalui ari, udara dan tanah. Mungkinkah seluruh gunung berapa didunia meletus dan mengeluarkan magma sampai menutupi seluruh lapisan permukaan bumi dan melululantahkan isinya. Ilmuan dan tokoh agama selalu berbeda tentang perdebatan diatas, agama memandang bahwa seluruh kejadian alam sudah ada yang mengatur yaitu tuhan sang pencipta, namun para ilmuan dibidang lingkungan melihat perubahan tersebut karena adanya kegiatan manusia yang tidak bertanggung jawab, mengekploitasi Sumber daya alam.

Maka dari itu teori tentang kepunahan manusia itu hanya baik secara keilmuan maupun teori secara agama, penulis mencoba mengajak para pembaca untuk melakukan perbaikan diri dan lingkungan, lebih menjaga dan melestarikan lingkungan dari pada merusaknya. Jadikan alam dan lingkungan seperti tubuh kita, manusia butu keadilan akan sistem hukum yang berlaku, begitupun juga alam harus kita perlakukan yang sama seperti mahkluk lainnya, jika tidak maka alam yang akan marah kepada kita, dengan cara mengirimkan bencana alam (banjir,longsor, pencemaran tanah, air dan udara ). Teringat kisah tragis yang terjadi di Inggris pada tahun 1976 hujan asap yang menwaskan lebih dari 20.000 jiwa, hujan tersebut terjadi karena banyaknya industri yang tidak memperdulikan lingkungan. Mari mulai sekarang menjada lingkungan sekitar kita untuk kehidupan yang lebih panjang.

By : Setiawan Widiyoko, ST, SH

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 8 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 9 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 15 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak …

Wahyu Indra Sukma | 8 jam lalu

Gerakan Desa Membangun: Sebuah Paradigma …

Yulio Victory | 8 jam lalu

Berbagai Pandangan “Era Baru Polri Dibawah …

Imam Kodri | 9 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: