Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Usman Kusmana

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan selengkapnya

Menjadi Guru Cerdas Dan Kreatif

REP | 10 November 2012 | 11:03 Dibaca: 813   Komentar: 0   0

Hari Sabtu 3 November 2012 Yayasan Ar-Rahman menggelar kegiatan pelatihan dan workshop Pendidikan 2012 dengan mengambil tema “ Menjadi Guru Cerdas dan Kreatif”. Pelatihan itu diikuti sekitar 200 orang guru dari lingkungan PAUD dan beberapa ada juga guru SD, SMP, SMU/SMK dan sederajat, berlangsung sehari penuh dan menghadirkan tiga orang pembicara/trainer dengan berbagai latar belakang dan keahliannya.

Pembicara pertama adalah Pak Wijaya Kusumah atau akrab dipanggil Omjay. Beliau seorang Guru di Labschool Jakarta yang juga aktif sebagai blogger serta trainer motivasional bagi kalangan pendidik. Berbagai pelatihan di seluruh tanah air beliau berikan, beberapa buku seputar pendidikan dan profesi guru beliau terbitkan. Dalam hal tulis menulis di Blog ada kalimat yang selalu beliau ungkapkan “ Menulislah setiap hari lalu buktikan apa yang terjadi”. Dari kreatifitasnya menulis di blog dan berbagai lomba penulisan yang diikuti, beliau sudah berhasil memperoleh berbagai juara dan penghargaan lainnya.

Dalam pelatihan tersebut Omjay mengupas seputar bagaimana agar menjadi guru yang kreatif dan menyenangkan. Menjadi guru itu merupakan profesi yang mulia, yang membutuhkan kesungguhan, keseriusan dan ketulusan pengabdian dari hati. Seorang guru menurut Omjay mestilah sadar akan profesinya berikut selalu berupaya untuk terus mengikuti irama perkembangan zaman dalam menjalankan tugasnya tersebut. Guru harus mengikuti trend kemajuan teknologi, selalu melakukan inovasi dan kreatifitas dalam aktifitas mengajarnya.

Mengajar di depan kelas yang menggunakan metode ajar yang kaku, rigid, dan menyeramkan sudah bukan zamannya lagi. Guru harus bisa menghadirkan suasana kelas yang hangat, nyaman, menarik dan menyenangkan. Selain itu guru juga harus pandai memanfaatkan kemajuan teknologi, sarana internet sehat sebagai bagian dari kreatifitas dan inovasinya dalam mengajar. Berbagai media hendaknya mampu dimanfaatkan untuk menunjang melekatnya sosok guru yahng kreatif dan menyenangkan itu.

Pembicara kedua menghadirkan Kang Pepih Nugraha Jurnalis senior Kompas yang juga merupakan pendiri blog keroyokan Kompasiana.com. Kang Pepih Nugraha yang asli Ciawi Singaparna ini merupakan guru menulis di berbagai pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi profesi. Baik itu dikalangan pemerintah maupun swasta. Perjalanan panjangnya yang lebih 20 tahun di dunia jurnalisme dan tulis menulis telah menempatkan Kang pepih sebagai pakar dalam hal menulis.

Dalam pelatihan tersebut Kang Pepih mengupas berbagai trik dan tips bagaimana membuat sebuah tulisan. Kang Pepih juga menyampaikan berbagai kendala dan permasalahan yang membuat seseorang enggan atau tak mau melakukan aktifitas menulis. Kalimat pertama yang keluar dari Kang pepih itu adalah “ Menulis itu gampang, nu hese mah ngamimitianana”. Menulis memang gampang, tapi kebanyakan orang memang tak mau memulai karena berbagai alasan yang intinya bermuara pada perasaan “ Kumeok memeh dipacok” atau menyerah sebelum berperang.

Beberapa hal yang menjadi kendala seseorang untuk melakukan aktifitas menulis itu, diantaranya adalah perasaan minder, malu, punya bayangan tulisan saya jelek, takut salah dll. Padahal semua kendala itu bisa disingkirkan ketika kita benar-benar mau untuk memulai menulis apapun yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan dari diri, keluarga, lingkungan sekitar kita. Aktifitas menulis diary adalah salah satu bagian dari rangkaian kita untuk mampu mengekspresikan perasaan kita, kegelisahan dan harapan-harapan kita dalam bentuk tulisan.

Banyak profesi yang apabila dibarengi dengan kemampuan menulis menjadi lebih bersinar, memiliki lebih banyak peluang penghasilan dari hasil kreatifitas karyanya, bahkan sampai bisa keliling dunia. Menjadi kaya raya dari menulis juga bukan sesuatu yang tidak mustahil, Kang Pepih mencontohkan seorang ibu rumah tangga JK Rowling pengarang novel Harry Potter yang menjadi best seller dan diangkat dalam layar lebar yang kemudian juga meraup sukses luar biasa. JK Rowling termasuk orang yang dari biasa menjadi luar biasa, seorang ibu rumah tangga yang berhasil menjadi milyarder dan menaklukan dunia dengan tulisannya.

Ada yang menggelitik saat sessi awal pemaparan Kang Pepih ini, beliau menyampaikan sebuah pertanyaan yang buat para guru yang hadir kala itu. Jika harus memilih, bagi seorang guru dalam menjalankan profesinya sebagai seorang pengajar, apakah memilih Cerdas atau Kreatif? Ternyata keberhasilan aktifitas Kegiatan belajar mengajar itu lebih ditentukan oleh faktor kreatifitas. Termasuk eksistensi seorang guru dalam dunia internal kependidikan maupun eksternal ditentukan oleh bagaimana tingkat kreatifitas guru tersebut. Sampai pada level tertentu mereka yang kreatif akan lebih mendapat pengakuan dan penghargaan dari berbagai institusi baik pemerintah maupun swasta yang dengan sendirinya pula berpengaruh secara kehidupan ekonominya.

Menjadi seorang guru yang cerdas dan kreatif tentu merupakan kondisi idealitas bagi seseorang yang hendak berkhidmat menjadi seorang pendidik. Kebijakan pemerintah dalam bentuk sertifikasi guru sebenarnya merupakan salah satu cara pemerintah untuk mengukur tingkat kualitas dan kapasitas seorang guru. Semua profesi memang dituntut memiliki kualifikasi yang sudah bersertifikasi.

Bagi seorang guru jangan pernah sekali-kali berada dalam bayangan pikiran zona nyaman dalam rutinitas mengajarnya. Jangan hanya cukup dengan rutinitas masuk mengajar pukul tujuh pagi lalu pulang pukul 13 siang. Jangan pernah hanya berfikir sekedar menuntaskan kewajiban semata tanpa dibarengi dengan ketulusan untuk terus mengasah kemampuan dan kreatifitas dalam mengajar, jangan asal sertifikasi tanpa dibarengi dengan komitmen mendidik yang didasari tujuan mulia melahirkan generasi-generasi masa depan yang tercerahkan.

Guru jangan terpaku oleh kesibukan sisi-sisi pemenuhan administrasi persiapan mengajar tanpa mempertimbangkan dan mempersiapkan aspek-aspek lain dalam menunjang kualitas pengajaran kita di dalam kelas. Keakrabannya dengan berbagai sumber keilmuan dan media informasi baik cetak maupun elektronik sangatlah diperlukan. Guru semestinya selalu up to date dengan perkembangan teknologi.

Media internet salah satu pintu gerbang yang bisa diakses oleh guru untuk membuka cakrawala berfikirnya lalu di transformasikan kepada murid-muridnya di dalam kelas. Keakraban guru dengan dunia maya, dengan internet, dengan dunia tulis menulis di blog dan jejaring sosial lainnya akan membawa guru pada keterbukaan cakrawala berfikir dan keberlimpahan informasi serta mampu mengeksplorasi semua potensi dan kemampuan dirinya.

Guru yang cerdas dan kreatif akan melahirkan pula out put murid-murid yang cerdas dan kreatif pula. Bukankah ada pepatah mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”?. Jika logikanya kita balik dengan sesuatu yang bermakna positif, maka “Guru yang mengajar dengan cerdas dan kreatif, murid akan mendapatkan quantum kecerdasan dan kreatif yang berlipat pula”. Selamat berselancar ria di dunia internet sehat bagi para guru, sehingga akan terwujud harapan guru cerdas dan kreatif.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 11 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 18 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 19 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 19 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: