Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Jeremias Jena

Anak daerah yang bekerja sebagai guru di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Merenung Sifat Pemimpin Berkarakter

REP | 13 November 2012 | 06:19 Dibaca: 1251   Komentar: 0   0

Barangkali sebagian besar kita – untuk tidak mengkalim semua – pernah memutuskan sesuatu dalam hidup ini untuk mengikuti atau mentaati seseorang karena dia pemimpin kita. Tetapi apakah pernah kita menanyakan kepada diri sendiri, mengapa saya mentaati dan menjalankan apa yang diperintahkan orang itu? Ada dua kemungkinan yang bisa diberikan kepada pertanyaan ini. Pertama, kita mentaati pimpinan karena karakter atau watak kita. Kedua, ketaatan kepada atasan lebih didasarkan pada kenyataan bahwa kita memiliki keterampilan (skills) untuk taat. Untuk alasan pertama, kita mentaati pimpinan kita karena dia orang yang pantas ditaati. Dia memiliki watak atau karakter pemimpin yang patut ditaati. Sebaliknya, untuk alasan kedua, ketaatan kepada pimpinan lebih didasarkan pada kemampuan dan keterampilan yang dia miliki untuk membuat orang lain taat kepadanya. Kondisi yang sama sebetulnya berlaku bagi masing-masing kita yang kemudian menjadi pemimpin. Orang taat kepada kita selaku atasan karena dua kemungkinan utama tersebut.

Manakah dari kedua hal itu yang menandai kepribadian unggul seorang pemimpin? Umumnya orang berpendapat bahwa banyak orang dapat menjadi pemimpin yang terampil, tetapi tidak banyak orang termasuk pemimpin yang berwatak mulia. Menjadi pemimpin yang terampil bisa dipelajari tetapi tidak demikian dengan menjadi pemimpin yang memiliki watak unggul. Pemimpin yang ideal seharusnya memiliki keunggulan watak dan keterampilan (manajemen) untuk mengarahkan, memimpin, membimbing, dan mengubah kawanan yang dia pimpin. Kalau kemudian kita harus memilih salah satu, orang cenderung menjatuhkan pilihan kepada pemimpin yang berkarakter.

Seperti apakah pemimpin berkarakter unggul itu? Apa saja kondisi yang menandai seorang pemimpin yang unggul secara watak? Ada banyak teori dan pandangan yang bisa dirujuk untuk menjawab pertanyaan ini. Yang saya kemukakan di bawah ini hanyalah beberapa alternatif yang tentu saja masih bisa ditambahkan atau dikurangi. Bagi saya, kondisi-kondisi ini menjadi semacam idealisasi dari apa yang kita harapkan dari seorang pemimpin.

Pemimpin yang berkarakter memiliki sifat-sifat seperti integritas, optimism, terbuka kepada perubahan, berani mengambil risiko, tenasius, katalitik, dan memiliki komitmen yang tinggi kepada tanggung jawabnya.

1. Integritas. Apa yang dimaksud dengan pemimpin yang berintegritas? Memiliki integritas artinya melakukan apa yang dikatakan. Pemimpin yang memiliki integritas adalah orang yang dapat dipercaya. Dia bisa diandalkan. Dia menepati janji. Salah satu kemungkinan orang enggan mentaati pemimpin atau atasannya adalah keraguan mereka akan kemana sang pemimpin akan membawa mereka. Ini karena sang pemimpin tidak dikenal. Sosoknya diragukan dapat membawa kebaikan bersama, meskipun secara verbal dia mengatakan bahwa dia akan membawa perbaikan dan perubahan.

2. Optimis. Secara alamiah, kita mau mengikuti orang lain yang membawa harapan akan sesuatu yang lebih baik. Seorang pemimpin yang membawa pengharapan, yang menyuntikkan optimism, dan yang bersama-sama kita berziarah meraih cita-cita. Sang pemimpin yang berkarakter mampu menunjukkan jalan ke arah masa depan yang gemilang, membiarkan orang tahu bahwa masa depan yang gemilang itu bisa diraih, dan bahwa masa depan itu bisa diwujudkan. Seorang pemimpin berkarakter selalu optimis. Dia bukan sosok yang melihat gelas kosong dan menjadi pesimis. Gelas yang kosong itu dilihatnya sebagai setengah penuh, dan kemudian dia menyuntikan semangat untuk memenuhi gelas yang setengah penuh itu.

3. Berani berubah. Mungkin kedengaran klise, tetapi seorang pemimpin berkarakter adalah sosok yang melihat perlunya perubahan dan bersedia melakukan perubahan. Biasanya kebanyakan manusia tidak menginginan perubahan dan memilih berada pada posisi yang selama ini mereka ada. Di situlah letak tantangan seorang pemimpin, yakni meyakinkan anggota-anggotanya bahwa perubahan adalah tuntutan niscaya bagi sebuah eksistensi. Bahwa bertahan pada posisi dan status quo sama artinya dengan membiarkan diri perlahan-lahan hancur. Pemimpin perlu melihat manfaat perubahan dan berkomunikasi dengan anggotanya untuk memulai perubahan itu. Jika Anda tidak berubah, Anda tidak akan tumbuh!

4. Berani mengambil risiko. Perubahan harus diikuti oleh watak yang berani mengambil risiko. Setiap kali kita mencoba sesuatu yang baru, kita mengambil risiko. Itu adalah bagian dari pertumbuhan dan perkembangan. Kebanyakan orang menghindari risiko, dan ini bukanlah sifat pemimpin yang berkarakter. Pemimpin yang ragu-ragu menghabiskan waktunya menghitung berbagai risiko yang akan timbul dari keputusan-keputusannya. Waktunya akan habis untuk kalkulasi itu sehingga tidak berani mengambil satu keputusan pun. Pemimpin yang berani mengambil risiko tentu bukan pemimpin yang gegabah. Dia memiliki tanggung jawab bahwa apa yang diputuskannya dapat dipertanggungjawabkan.

5. Ulet. Pemimpin yang berkarakter juga seharusnya adalah pemimpin yang ulet. Meskipun berbagai kegagalan sudah menghampiri, sang pemimpin tidak akan pernah pantang menyerah. Dia tahu apa yang ada di balik kegagalan.

6. Pemberi solusi. Seorang pemimpin yang baik seharusnya adalah seorang pemberi solusi (problem solver) dan bukan seorang pembuat masalah. Dialah pribadi yang menggerakkan orang lain untuk mengatasi masalah. Karena itu, dia seharusnya bukanlah pembuat masalah.

7. Berkomitmen. Akhirnya seorang pemimpin yang berkarakter seharusnya memiliki komitmen tinggi dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Begitu dia menjadi pemimpin, berbagai kepentingan diri dan keluarga harus dinomorduakan demi memajukan kebaikan bersama. Menjadi pemimpin adalah sebuah kepercayaan, bahasa religiusnya adalah amanah. Amanah ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang bekerja semata-mata demi kemajuan dan kebaikan bersama. Pemimpin berkomitmen memiliki motivasi tertinggi dalam memimpin hanya demi mewujudkan kebahagiaan bersama.

Penutup

Itulah beberapa karakter kepemimpinan yang bisa dikemukakan di sini. Latar belakang mengapa saya menulis ini adalah kegerahan dan kemuakan pribadi terhadap kehidupan politik di negeri ini. Minggu-minggu ini para artis dan pesohor ramai-ramai mengajukan diri menjadi calon pemimpin (kepala daerah), entah itu di Bandung, Bekasi dan di tempat-tempat lain di Indonesia. Kita tentu tidak bisa menuduh mereka yang mencalonkan diri tersebut sebagai pemimpin yang tidak berkarakter. Yang bisa dikatakan di sini adalah bahwa sifat-sifat pemimpin berkarakter di atas membantu kita menimbang siapa yang patut menjadi pemimpin dan siapa yang sebetulnya hanya mengejar kepentingan dirinya semata. Harapanku, semoga tulisan ini menginspirasi dan mendorong diskusi lebih lanjut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 4 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 6 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 8 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 8 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: