Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Petrus Pit Supardi Jilung

Saya lahir di Maumere-Flores dan besar di Merauke Irian Jaya (Papua). menyelesaikan pendidikan dasar (SD-SMA) selengkapnya

Kisah Tragis Anak-anak Pedalaman Asmat-Papua

REP | 14 November 2012 | 15:40 Dibaca: 549   Komentar: 1   2

Di tengah genderang pembangunan yang maju pesat, hidup ribuan anak manusia yang masih sangat terbelakang. Mereka adalah orang-orang Asmat-Papua yang hidup di tengah belantara Papua yang sulit dijangkau karena terlampau jauh dan sulitnya medan.

Di antara mereka yang hidup itu, sebagian besar adalah anak-anak, yang kondisi hidupnya kurang terawat. Minimnya asupan gizi membuat pertumbuhan anak-anak ini berjalan lamban. Bukan hanaya itu, mereka juga tidak dapat mengenyam pendidikan karena tidak ada guru yang mau tinggal di kampung-kampung.

Selama turne ke kampung-kampung di wilayah Joerat-Asmat, saya menyaksikan bahwa tidak ada guru yang tinggal di kampung untuk mendidik dan mengajar anak-anak. Guru yang ditempatkan di kampung-kampung memilih tinggal di kota Agats.

Ada gedung sekolah dan rumah guru, tetapi mubasir karena tidak ditempati oleh para guru. Akibatnya sekolah dikelilingi oleh rumput bahkan pohon yang tinggi dan rumah guru terbengkalai. Ironinya, para guru menerima gaji setiap bulan. Para guru tidak pernah menjalankan kewajiban mendidik dan mengajar anak-anak, tetapi mereka tetap menerima gaji tanpa ada sanksi dari pemerintah Kabupaten Asmat.

Hal yang sama terjadi pada pelayanan kesehatan. Petugas kesehatan yang ditempatkan di kampung-kampung tidak mau tinggal di kampung. Mereka memilih tinggal di kota Agats atau Merauke. Tidak dapat dimungkiri bahwa situasi ini membuat banyak anak Asmat meninggal dunia hanya karena panas, menceret atau malaria.

Saya menyaksikan di kampung-kampung yang kami kunjungi, pendidikan dan kesehatan orang Asmat tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Minimnya kontrol dan pengawasan membuat para petugas kesehatan dan guru-guru enggan melaksanakan tugas di kampung-kampung. Hal ini diperparah lagi dengan nurani para petugas yang tumpul. Betapa tidak, mereka menerima gaji tanpa melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Sejauh yang saya alami dan saksikan sewaktu hidup bersama orang-orang Asmat di pedalaman Papua, bahwa mereka belum tersentuh arus pembangunan. Mereka masih tinggal tetap seperti era misionaris Belanda dan Amerika berjumpa dengan mereka. Tidak ada kemajuan apa-apa, justru yang terjadi mereka semakin menderita karena hasil hutan dan laut mereka dieksploitasi secara berlebihan.

Mata rantai penderitaan ini tidak akan pernah terputus sejauh belum ada kesadaran untuk membangun orang Asmat dengan hati tulus dan ikhlas. Orang Asmat, terutama generasi muda Asmat akan terbelakang, tertinggal bahkan akan hancur karena poros transformasi yakni pendidikan terabaikan. Bagaimana mungkin anak-anak Asmat berkembang kalau mereka tidak mendapatkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang baik?

Kisah tentang anak-anak Asmat ini, juga terjadi di seluruh tanah Papua. Kalau situasi seperti ini dibiarkan terus terjadi, maka dapat dipastikan generasi muda Asmat dan orang-orang Papua umumnya ke depan akan semakin tertinggal. Mereka tertinggal karena situasi sosial yang tidak adil dibiarkan terus berlangsung di tanah Papua.

Untuk membongkar bobroknya situasi sosial yang telah mapan ini, maka para guru dan petugas kesehatan harus kembali ke kampung-kampung untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Orang tua harus mau bekerja sama dengan para guru dan petugas kesehatan untuk mendidik anak-anak mereka. Dan lebih penting, seluruh warga-masyarakat di kampung-kampung harus menjamin keamanan para guru dan para petugas kesehatan. Tanpa adanya jaminan keamanan, tentu harapan kita agar para guru dan petugas kesehatan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya di kampung-kampung tidak akan pernah terwujud.

Semoga cerita singkat ini, menggugah hati kita untuk bekerja tanpa pamrih untuk membangun orang Asmat dan orang Papua pada umumnya. Sekecil apa pun sumbangan kita, amat berarti bagi kemajuan manusia Papua di tanah ini.

A_2-6/11/2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: