Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Samandayu

......................................

Fenomena Mengolok-ngolok Kalimat Islami

REP | 15 November 2012 | 19:25 Dibaca: 844   Komentar: 19   9

ADUUH, malam jumat nih! Sunnah Rasul ama siapa yah? Itu adalah contoh status bercandaan yang mungkin sering kita dengar. Ruang lingkup kita sebagai masyarakat lokal yang penuh dengan budaya Islam membuat kita akrab dengan berbagai kalimat Islami dan istilah-istilah Islam. Tapi apa jadinya kalau hal itu dijadikan lelucon?

Kali ini Samandayu akan membahas, unsur-unsur keIslaman yang diparodikan. Apa saja?


1. Sunnah Rasul

Melakukan hubungan badan bagi suami istri di malam Jumat adalah tindakan yang disunahkan Rassulullah SAW. Sebab saling melayani dalam hal seksual bagi yang sudah menikah adalah ibadah. Hari Jumat adalah hari yang mulia dalam Islam sehingga pada Kamis malam, disarankan umat Islam membaca Alquran. Bahkan kerap kali di perkampungan (meski makin ke sini jarang ditemui) pengajian Jumat malam kerap dilakukan.

Namun sunah dari Rasulullah itu menjadi semacam lelucon bagi anak muda yang bahkan belum menikah. Konteks bercanda itu tanpa sadar/disadari rentan membawa mereka pada kemudharatan. Apa namanya kalau menganggap main-main perkara sunnah rasul dalam konteks seksual dan unsur hubungan seks bebas? Memprihatinkan sekali. Jadi hentikanlah memasang frasa ini untuk parodi.

2. Surah Al-Galau

Sangat tidak nyaman ketika teman di jejaring sosial atau blogger memarodikan surat dalam Alquran dengan awalan ‘Al-’. Seperti yang kita ketahui, ada banyak surat dalam Alqur’an. Namun kalangan alay ini menambahkan kosakata mereka sendiri sebagai bentuk lucu-lucuan. Amat disayangkan. Padahal kita bisa menjadi lucu tanpa memarodikan perangkat agama sendiri. Itu menurut saya, sama saja dengan menghina kitab suci umat Islam.

3. Ya Aloo

Kalau ini saya akui pernah mengatakannya dalam interaksi jejaring sosial karena memang sekadar meniru ucapan Mpok Atiek. Jadi bukan berarti meleluconi kata ‘Ya, Allah’. Apapun alasannya, hal demikian itu sebaiknya dihindari. Dan saya pun tidak melakukannya lagi.

4. Astajim/Astapiluloh

Kalau anak SD atau balita melakukannya karena dalam tahap belajar, tidak masalah. Tapi akan menjadi sejenis bencana jika orang dewasa/Islam sengaja mengatakan Astajim ketimbang Astaghfirullah hal adzim hanya untuk lelucon. Ini sangat tidak lucu. Ucapan istigfhar dalam Islam dilakukan jika seseorang sedang shock atau mengalami musibah, sesuatu yang tidak mengenakan.

Bahkan teman saya yang lingkungannya keras, sering berkata-kata kotor semisal ‘anjing’ jika dia kaget. Dan pernah teman saya yang lain berkata bahwa ketika ia nyaris kecelakaan di jalan raya, dia sama sekali tak bisa berucap sepatah katapun bahkan kalimat istighfar. Jadi jelaslah, jika kita terbiasa mengucapkan Istighfar, Insya Allah kita akan dijauhkan dari hal-hal buruk. Apa jadinya kalau biasa ngucapin aanjingan terus pas mau celaka tetap bilang begitu. Semoga kita semua dihindarkan dari cara mati yang buruk. Amin.


5. Barang Siapa .. /Dan Sesungguhnya …/ Hai, Orang-orang Beriman ..

Ada lagi bercandaan yang mengolok-ngolok kalimat awal yang biasanya ada dalam terjemahan Alqur’an ke dalam Bahasa Indonesia. Misalnya ‘Hai orang-orang beriman, kalau tidak beriman, tidak hai’. Intinya mengarah atau mengacu pada gaya terjemahan Alquran. Meskipun kita tahu kalau ‘barang siapa’ atau ‘dan sesungguhnya’ bisa saja kalimat umum. Lelucon akan tersimak jelas dengan danya gestur/pelafalan, terutama jika lelucon diucapkan langsung.


6. Sakinah Mawadah Wa rahmah, Kalau Malam Minta Tambah

Kalau ada kesempatan saya suka nengok acara Loelebay di O Channel. Gaya presenternya bikin ngakak soalnya. Tapi lihat pada saat kalau tidak salah kemarin, salah satu presenter cowoknya (yang pernah main di Office Boy RCTI) mengatakan joke: Sakinah Mawadah Warahmah, Kalau Malam Minta Tambah.

Secara konteks, kalimat terakhir itu mengarah pada aktivitas seksual. Mungkin kita bisa mengartikannya murni. Semurni apapun kalimat itu, sangat tidak ‘manusia’ menjadikan kalimat itu menjadi sejenis pantun.

Sebagaimana yang para muslim ketahui, tiga kata itu diambil dari surat Ar Rum, seperti yang dapat saya petik berikut:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri (pasangan) dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih (mawadah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar Rum : 21).

Jadi berhentilah mengolok-ngolok agamamu sendiri. Itu sangat menyedihkan untuk kita dengar.


Hukum Mengolok-ngolok Agama Sendiri

Dalam Islam, dikenal kata Istihza yang artinya mengolok-ngolok. Tentulah mengolok siapapun, sama sekali tidak dibenarkan. Namun dalam ruang lingkup modern dan luasnya definisi seni, kita sering melakukannya. Semisal komedi dalam acara lawak, atau selera humor dalam tulisan blogger yang biasa saya lakukan. Namun sengaja mengolok unsur/nuansa/kalimat Islami sementara dia Islam adalah sesuatu hal yang harus diubah. Kecuali kalau pelakunya bukan Islam atau Islam namun kurang paham.

Larangan mengolok-ngolok ini dijelaskan dalam Alqur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain.  Boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.  Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan-perempuan yang lain.  Boleh jadi, perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada perempuan yang mengolok.   Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri. Dan janganlah kamu memanggil dengan gelar yang buruk.  Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan buruk setelah beriman.  Dan barangsiapa tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang dhalim” [QS. Al-Hujuraat : 11].

Jadi sudah saatnya kebiasaan itu ditinggalkan. Kenapa? Akan Saman jelaskan sebagai berikut.

1. Mengolok-ngolok kalimat Islami akan mencederai perasaan keIslaman umat muslim lain. Tapi di era modern ini, mereka juga kebanyakan memilih untuk membiarkan dan diam. Diperingatkan pun biasanya kalangan alay akan mebantah atau cuek bebek.

2. Memperkeruh citra kita di mata teman non-muslim. Mungkin sebagai teman, kita sendiri bisa menduga mana Islam KTP dan mana yang enggak. Sangat kelihatan kok, kalau dia Islam, berarti rajin salat. Jadi kalau masih ada yang memarodikan Sunnah Nabi/Sunnar Rasul, biasanya sih orang Islam yang kurang taat sama agamanya. Kalangan non-muslim juga mungkin sedikit tahu dengan kalimat Islami yang pernah mereka dengar. Jadi akan membuat mereka bingung jika kalimat mulia itu diparodikan umat Islam sendiri.

Begitu banyak cara untuk menjadi lucu, tapi tidak dengan cara memperolok agama sendiri.

*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Di Pemukiman Ini Warga Tidak Perlu Mengunci …

Widiyabuana Slay | | 01 August 2014 | 04:59

Jadilah Muda yang Smart! …

Seneng Utami | | 01 August 2014 | 03:56

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 11 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 15 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 19 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 23 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: