Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Yohanes Wempi

Aktifis bermasyarakat, fokus bergerak dibidang budaya minangkabau

Kearifan Lokal Minangkabau untuk Kesejateraan

OPINI | 17 November 2012 | 14:34 Dibaca: 489   Komentar: 0   0

1353137924258989137

lapau minangkabau pusat ekonomi

Miangkabau merupakan daerah yang memiliki khasanah budaya yang elok dan alamnya indah yang tidak ada duanya didunia ini, meluai dari kesenian, aktivitas social budaya, tata interaksi aksi antara sesame diminangkabau, maupun peninggalan sejarahnya, semua itu tubuh dan berkembang dari generasi kegenerasi, sehingga sangatlah elok selaku masyarakat minagkabau saatnya mengembangkan kearifan lokal yang ada ditanah ranah bundo ini tampil terdepan di dunia.

Mungkin banyak dari generasi muda seakarang yang tidak mengetahui tentang kearifan lokal apa yang dimili sekarang dan itu merupakan peninggalan nenek moyang, bisa kita lihat di ranah pasise minangkabau misalnya, ada tradisi masyarakat yang memanjat atau memetik kelapa dengan binatang, bukan memanfaatkan orang seperti yang ada dipualau jawa, tapi yang memanjat kelapa dipasisie minang dilakukan oleh baruak sejenis binatang kera.

Apabila kita pelajari, Baruak banyak terdapat dipiaman seperti didaearh Kinali, Tiku, Padang pariaman, Kota Pariaman, Kota Padang, dan baruak mungkin kata-kata yang tak asing ditelinga masyarakat, terutama bagi orang yang berdomisili di Sumatra Barat dan di Minangkabau umunya, baruak piaman dalam artikel Suryadi yang berdomisili di Belanda, menjelaskan bahwa Baruak Piaman sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Salah seorang penjajah Belanda yang bernama J Jongenjans dalam majalahnya Onze Aarde (Bumi Kita) pada abat ke-12. Mr J Joengejans menggambarkan sangat terkagum-kagum dengan baruak Piaman yang mampu memetik kelapa sesuai dengan perintah tuanya, kalau tuan baruak memerintahkan jatuhkan kelapa tua dengan isyarat tali, maka baruak akan menjatuhkan kelapa tua, kalau tuanya baruak memerintahkan agar baruak melompat dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa lain, maka baruak akan melompat. Kekaguman yang dirasakan oleh Mr J Joengenjans ini diabadikan melalui foto-foto hitam putih yang tersimpat rapi dimuseum Belanda pada saat ini.

.

Mr. Joengenjans bukan satu-satunya bule yang mengkagumi kehebatan baruak Piaman itu. Seratus tahun sebelumnya, Mr JC Boelhouwer, seorang komandan pasukan Belanda waktu berada di piaman terkagum-kagum juga dengan kepandaian dan kehebatan baruak piaman itu, dalam ceritanya Mr. JC Boelhourwer menyampaikan dalam bukunya bahwa, salah seorang anak buanya membeli seekor baruak Piaman seharga F1 (satu golden) yang akan dibawa kedaerah Batavia atau pulau jawa sekarang. Demikian tulisan Mr. Boelhouwer dalam bukunya Herinnering Van Minj Verblijf Op Sumtra’s Westkust Gedurende De Jaren 1831-1834. Itu sekelumit kisah baruak piaman pada zaman belanda yang dapat digambarkan dan dijelaskan.

Pada zaman modern ini dimana masyarkat Indonesia sudah maju secara teknologi dan informasi, baruak Piaman masih digunakan oleh masyarakat untuk memetik kelapa untuk kehidupan. Masyarakat Piaman sangat tertolong dengan adanya baruak Piaman tersebut, baik pemilik kelapa, pelatih atau sekolah baruak, dan mayarakat Piaman yang berprofesi sebagai pabaruak (tuan baruak). Secara ekonomis baruak Piaman mampu mensejahterakan tuannya atau keluarga, apa bila baruak tersebut digunakan untuk berusaha (memanjat kelapa). Jika dihitung secara detil, maka setiap harinya akan dapat pengahasilan oleh Pabaruak (tuan baruak) sebesar Rp. 50.000.-. sampai Rp. 100.000.-/hari, secara nyata baruak mampu mendatangkan pendapat dan penghasilan bagi pabaruak (tuan Baruak) secara sinifikan, maka secara ekonomi babaruak menjadi salah satu pekerjaan yang memasyarkat diminangkabau dan merupakan pekerjaan tradisional yang sudah lama, setiap tahun dan setia masa pasti ada generasi yang bergelut dibidang usaha memanjat kelapa ini dengan memanfaatkan baruak, jadi regenerasi babaruak selalu bergulir yang mampu menesejahteraan masyarakat.

Disamping itu babaruak juga merupaka tradisi social budaya yang merupakan permainan anak nagari, yang keberadaan aktivitas babruak ditengah masyarakat minangkabau merupakan tradisi social budaya yang unik dan khas yang perlu dikembangkan, tradisi ini tidak akan pernah lampuak de hujan dan dak akan lakang dek paneh. Sehingga kedepan babaruaki ini bisa dijadikan ifen prawisata budaya anak nagari di Sumatra barat, dan minangkabau secara umum, sehingga secara social, aktivitas masyarakat yang babaruak ini bisa dijadikan ajang menarik yang akan mendatangkan wisatawan baik dometik maupun luar negri, untuk menambah pendapatan daerah dan kesejahterakan bagi masyarakat.

Maka pada kesempatan ini penulisan, mengajak pembaca untuk mempertahankan dan mengembangkan tradisi babaruak ini agar tetap terjaga, mengapa daerah-daerah lain dinusatara ini mampu mepertahankan dan mengembangkan treadisinya dengan baik, seperti tradisi karapan sapi di Madura, matador dispanyol, mereka mampu mepertahankan tradisi tersebut dangan cara membuat ifen-ifet atau pegelaran yang menarik.

Penuli berharap agar masyarakaat jangan terjebak dalam sebuah kebijakan bersama yang mengembangkan budaya orang lain, melalui modivikasi menyesatkan seolah-oleh lahir dari daerah karifan lokal Sumatra Barat, hal bila dilihat secara umum tradisi yang dikembangkan oleh masyarakat Sumatra barat atau pemerintah daerah akhir-akhir ini, rata-rata meniru saja kegiatan dan ifen-ifen milik budaya atau tradisi daerah lain, seperti ifen pacu jawi di adakan Pemerintah Daerah Tanah Datar yang menjadi agenda prawisata nasional, yang nota bene ujur pacu jawi meniru budaya karapan sapi yang ada di Madura,

Berikutnya seperti ifen Siti Nurbaya yang diadakan oleh Pemerintah Kota Padang, yang ifen ini merupakan kebiasaan yang ditiru dari acara ritual sesembahan kepada ratu laut selatan Riroro Kidul yang dilakukan oleh masyarakat pesisir jawa, begitu juga yang marak sekarang seperti tour de singkarak yang menghabiskan milaran dana, diadakan tiap tahunya, itu juga hasi meniru milinya orang prnacis atau Tour De Franc.

Maka pada kesempatan ini kearifan lokal perlu dikembangkan menjadi ifen yang menasional dan iternasional seperti kebiasaan budaya baruak Piaman ini, tato dan tarian tradsional mentawai, yang perlu dijadikan ifen dan program objek wisata yang menjadi aikon prawisata Sumatra Barat, seperti yang hari ini dilakukan di madura, maka para wisatawan mengenal karapan sapi, di bali mengadakan lomba laying-layang, dll, Ini Sebuah prestastasi besar, apabila kearifan loka dijadikan ifen dan agenda parawisata yang mampu menumbuhkan perekonoimian masyarakat menengah kebawah dan mampu juga menjaga kehidupan social budaya yang sudah mulai tergerus oleh perkembangan zaman. seebuh penghargaan besar bagi masyarakat pemilik baruak misalnya, apabila baruak juga ditambah fungsinya untuk mendatangkan pendapatan masyarakat.

Harapan besar kepada pemerintah daerah kembali menjadikan kerarifan lokal menjadi ifen yang mampu mengharumkan nama minangkabau ini, semua tradi social budaya minangkabau bisa ditampilkan dalam pentas nasional dan internasional, sehingga tradisi tersebut bisa bertahan dan juga mamapu mensejahterakan masyarakat minangkabau. Semua harus dimulai dari sekarang, kerarifan lokal milik kita terbaik, seperti baruak piaman bisa masuk teve. []

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Apakah Pedofili Patut Dihukum? …

Suzy Yusna Dewi | | 19 April 2014 | 09:33

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Perlukah Aturan dalam Rumah Tangga? …

Cahyadi Takariawan | | 19 April 2014 | 09:02

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 4 jam lalu

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazerâ„¢ | 11 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 12 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: