Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Armand

Lahir di Polmas-Sulbar. Penulis Buku: "Remaja & Seks". ILUNI. Mengajar di Universitas Sultan Hasanuddin, Makassar-Sulawesi selengkapnya

Bedakah Sinopsis dengan Resensi Buku?

OPINI | 20 November 2012 | 14:37 Dibaca: 2620   Komentar: 24   7

Kata ahli, sinopsis dan resensi, dua istilah yang berbeda. Tetapi, merunut pada pengalaman pribadi saya -saat meracik sinopsis dan resensi- sulit membedakan secara ekstrim dari keduanya. Saya pernah meresensi sebuah buku dengan judul: AL Qur’an dan Panduan Kesehatan Masyarakat karya Bapak Su’dan. Resensi itu bertengger di sebuah surat kabar.

Terbaca juga oleh seorang senior yang ahli membuat resensi dan sinopsis. Ia berkata kepada saya bahwa yang saya buat itu bukanlah resensi tapi sebuah sinopsis. Saya hendak ‘membantahnya’ tetapi pengetahuan dan wawasan saya tidak cukup untuk melakukan ‘perlawanan’. Satu-satunya pertanyaan saya kepadanya: “Kenapa koran itu memasukkannya ke rubrik resensi jika ia bukanlah sebuah resensi?”

13533950821283857038

Sebuah buku fenomenal yang pernah saya resensi, buku ini masih menjadi koleksi saya (Armand)

Obrolan ini mengharuskan lagi agar saya memahami secara menyeluruh apakah itu resensi dan apakah itu sinopsis?. Defenisi keduanya (sinopsis dan resensi) saya temukan tetapi sulit bagi saya membedakan di antara mereka. Kesimpulan ringanku, kedua istilah ‘perbukuan’ ini adalah serupa tapi tak sama. Mengapa saya berkata demikian?. Alasanku: Keduanya membahas secara umum akan sebuah buku.

Resensi mengupas habis sebuah buku, sinopsispun memaparkan utuh sebuah buku. Tiada yang tersisa, seluruhnya wajib diungkapkan baik sinopsis maupun resensi. Lantas, muncullah ‘kekakuan’ sebab keduanya ditekan sebuah aturan yakni resensi dan sinopsis harus singkat, padat dan include. Lalu, adakah orang yang sanggup membuat resensi dan sinopsis dengan sesingkat dan sependek itu kalimat-kalimatnya?. Apatah lagi sebuah buku yang memiliki ketebalan lebih dari 100 halaman.

Buat saya, membuat sinopsis tak harus menuangkan secara penuh, begitupun resensi. Yang subtansi buat saya adalah bagaimana seorang pe-sinopsis dan pe-resensi buku mengangkat tema-tema ungulan, berkesan dan unik. Ibarat sebuah power-point, yang ditayangkan adalah point penting. Demikian pulalah sebuah sinopsis ataupun resensi.

Kelewat plural aturan dalam cara pembuatan sinopsis dan resensi buku. Aturan ini kerap memasung penulis buku enggan memulai membuat sinopsis ataupun resensi. Setidaknya jika Anda ingin memahami apa itu sinopsis maupun resensi, maka tiada alasan jika tidak berlatih dan berlatih. Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap sinopsis dan resensi buku. Secara pribadi -sesuai pengalaman- saya menganggap keduanya adalah mempromosikan isi tulisan sebuah buku.

Dalam perseptual saya bahwa sebuah resensi buku itu, mengupas habis sebuah buku dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Dan jadilah resensi buku itu sebuah pekerjaan lebih menantang ketimbang membuat sinopsis. Sebab meresensi buku membutuhkan ketajaman nalar dan keunggulan intuisi untuk ‘membaca’ pikiran sang penulis buku. Ini alasan mengapa orang-orang ‘berebut’ membuat resensi sebuah buku seseorang. Yang repot ketika kita merensi buku teman, jika dikritik maka orang akan berkata: “Teganya dia habisi buku temannya”. Dan jika mengamini alias menyanjung-nyanjung isi buku teman itu, maka orangpun akan bersinis-sinisan: “Wajarlah dia sanjung-sanjung isi buku, lha yang meresensi dan yang diresensi adalah sahabatan kok”. So, pikir-pikirlah jika ingin meresensi buku sahabat atau kolega. Sebab rawan aroma subyektifitas.

* * *

Dan inilah pendapat saya tentang resensi dan sinopsis, saya tak akan berani membedakan antara sinopsis dengan resensi buku:

1. Sinopsis tak harus membahas secara keseluruhan dari sebuah buku. Sinopsis sangat terkondisikan dari kekuatan sebuah buku, plus magnet apa yang terkuat dalam ruas-ruas buku. Kenapa?. Sebab sebuah buku, tak semua ruasnya memiliki kualitas pesan yang sama baiknya. Di dalamnya ada tulisan unggulan dan tulisan unggulan ini biasanya (bukan generalisir) dijadikan sebagai judul buku.

2. Resensi bukanlah semata-mata membahas secara penuh akan sebuah buku, sebab ini sangat tergantung kepada ’selera’ pe-resensi. Di sudut pandang apa yang dia anggap paling menarik dan menantang untuk diresensi, dialah yang menentukan, dialah pengendalinya dan dialah pelaku penilaian terhadap sebuah buku.

3. Sebuah sinopsis yang baik ketika penulisnya ‘melalaikan’ aturan yang ada. Paling nyaman jika penulis sinopsis memaparkan keinginan-keinginan sesuai apa yang wajib sinopsiskan. Sekali lagi ini membutuhkan seni, bukan aturan-aturan yang tak fleksibel itu yang membuat ‘tukang sinopsis’ grogi dan tak pas dengan apa yang harus disinopsis.

4. Sinopsis dan resensi adalah pekerjaan mudah sekaligus pekerjaan sulit, tapi percayalah tidak ada aturan yang mengikat dari keduanya. Andapun tak akan dipenjara jika tak mengikuti aturan yang ada. Tak ada Undang-Undang pembuatan sinopsis dan resensi sebuah buku.

Inilah cara pandang saya terhadap sinopsis dan resensi buku, jika kita berbeda maka hal itu adalah manusiawi. Dan jika pendapat kita identik, itu juga hal manusiawi. Yang pasti, yang terbaik adalah ketika membuat sinopsis penuh keyakinan, percaya diri dalam menuliskan pesan-pesan penting dalam sebuah buku. Semoga bermanfaat bagi para penulis buku, calon penulis buku, perensensi dan tukang sinopsis^^^

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 2 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 5 jam lalu

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: