Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

M. Rasyid Nur

M. Rasyid Nur, pendidik yang bertekad "Ingin terus belajar dan belajar terus". Silakan juga diklik: selengkapnya

PGRI Wadah Penguat Jati Diri*

OPINI | 25 November 2012 | 14:44 Dibaca: 951   Komentar: 0   1

*Dimuat di Harian Riau Pos Pekanbaru (Sabtu, 24-11-12)

Setiap tahun guru memperingati hari kelahirannya. Pendidik atau guru, melalui PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) tidak pernah alpa memperingati kelahiran organisasi insan bergelar “pahlawan tanpa tanda jasa” itu.

PGRI yang diakui dan dikukuhkan terlahir ke bumi Indonesia sejak 25 November 1945, setiap tahunnya selalu diperingati pada tanggal keramat itu sebagai Hari Sakti Guru Indonesia. Dari Pusat hingga ke Daerah selalu ada acara dan kegiatan memperingati HUT PGRI dan Hari Guru Nasional.

Tahun ini guru Indonesia akan berulang tahun yang ke-67  kali. Usia sebegitu lama yang seharusnya sudah berkategori sangat tua. Bukan saja sekadar sudah dewasa. Tapi apakah profesionalisme guru sudah tergambar dari tuanya usia wadah seperti PGRI itu?

Dari satu generasi ke generasi berikutnya, guru terus melanjutkan perjuangannya sebagai agen perubahan. Peran guru sebagai pengajar sekaligus pendidik terus diemban dalam berbagai rona keadaan. Tugas-tugas itu tidak akan dan belum akan berakhir.

PGRI yang lahir melalui peristiwa bersejarah 67 tahun lalu tidak terjadi begitu saja. Bermula dari kebutuhan perjuangan kemerdekaan bangsa yang terjajah jauh sebelum datangnya kemerdekaan, di relung hati para guru ikut tumbuh rasa persatuan dan kesatuan untuk perjuangan kemerdekaan itu sendiri.

Di zaman Hindia Belanda, guru bahkan sudah memiliki wadah berorganisasi yang bernama PGHB, singkatan dari Persatuan Guru Hindia Belanda. Mereka memang merupakan gabungan guru-guru desa yang berada di sekolah desa dan sekolah rakyat waktu itu.

Dan selain PGHB, dalam sejarah guru juga kita baca ada beberapa organisasi guru lain seperti PGB (Persatuan Guru Bantu), PGD (Perserikatan Guru Desa), PGAs (Persatuan Guru Ambachtsschool), PNs (Persatuan Normaalschool) dan beberapa lagi yang lainnya yang disesuaikan dengan perbedaan keadaan dan kebutuhannya.

Perjuangan terus-menerus dari para guru, ini adalah bukti adanya kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan terutama untuk memperjuangkan persamaan hak dan poisi dengan penjajah waktu itu.

Sejarah menjelaskan, pada tahun 1932 ketika intensitas dan kualitas perjuangan bangsa ini kian tinggi, nama PGHB diubah menjadi PGI (Persatuan Guru Indonesia) yang ternyata tidak disenangi Belanda karena menggunakan kata Indonesia yang bagi guru itu adalah jiwa dan semangat perjuangan itu sendiri.

Namun demikian, wadah ini tetap eksis hingga dibredel  penjajah Jepang bersamaan kebijakan Jepang yang membekukan organisasi-oraganisasi dan sekolah-sekolah yang ada.

Proklamasi Kemerdekaan (17 Agustus 1945) telah menjadi tonggak baru perjuangan guru Indonesia. Dengan semangat 17 Agustus 1945 para insan mulia ini mengadakan kongres bersejarahnya di Surakarta seratus hari pasca-prokalamasi monumental itu.

Kongres Guru Indonesia itu dicatat sejarah terjadi pada 24-25 November 1945.

Dan pada hari kedua kongres itulah disepakati dan didirikannya PGRI yang menggabungkan seluruh organisasi guru waktu itu. Bermulalah era perjuangan guru di bawah wadah PGRI.

Dalam sejarah PGRI dijelaskan bahwa ada tiga tujuan yang dipekikkan para pahlawan pendidikan bersama pekikan “merdeka” ketika RRI Surakarta dibombardir tentara Inggris. Ketiga tujuan itu adalah, pertama,  mempertahankan dan menyempurnakan RI; kedua, mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dasar-dasar kerakyatan; dan  ketiga,  membela hak dan nasib buruh umumnya, guru khususnya.

PGRI benar-benar dijadikan wadah penguat jati diri guru khususnya dan diharapkan akan mampu pula melahirkan generasi terdidik yang mempunyai jati diri yang kuat juga. Inilah sari pati tanggung jawab guru yang mesti terus-menerus diperjuangkan melalui PGRI.

Eksistensi PGRI sebagai wadah perjuangan pendidikan sepanjang masa, telah membuat pemerintah memberikan penghormatan khusus kepada PGRI dengan ditetapkannya hari lahir PGRI itu sebagai Hari Guru Nasional (HGN) terhitung sejak dikeluarkannya Kepres No 78/1994.

Kini, setiap tanggal kramat itu, para guru Indonesia memperingati lahirnya PGRI sebagai Hari Guru Nasional.

Saat ini sebagian perjuangan guru sudah mampu terwujudkan. Lahirnya Undang-Undang No 14/ 2005 tentang Guru dan Dosen setelah sebelumnya juga sudah ada UU Sisdiknas adalah sebagian keinginan terwujudnya perjuangan guru selama ini.

Sebagian guru bahkan juga sudah merasakan kesejahteraan yang memadai dengan diberlakukannya program sertifikasi guru sejak tahun 2007 lalu sebagai implementasi undang-undang tersebut.

Bahwa perjuangan guru belumlah selesai, itu adalah fakta yang ada dan itu adalah perjuangan lanjutan yang tidak boleh dihentikan. PGRI sebagai organisasi profesi sudah seharusnya menjadi wadah penguat jati diri guru itu sendiri dalam fungsi dan tanggung jawabnya sekaligus juga untuk penguat jati diri anak bangsa.

Integritas guru sebagai pejuang dan pelaksana pendidikan harus tetap dikobarkan menuju masyarakat yang cerdas, mandiri dan berkesejahteraan. Dirgahayu, guru! ***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: